@tola.897: #soran

tola
tola
Open In TikTok:
Region: IQ
Saturday 13 June 2026 13:14:39 GMT
6179
474
17
62

Music

Download

Comments

hasto_balak0
﮼﮼قاید🖤⛓️ :
خوا لێی خۆش بی ئیشاللە💔
2026-06-13 16:13:39
2
halo0o_agha
hallOo Agha🖤 :
💔💔💔
2026-06-13 18:55:20
2
rashoka_13
﮼نەناسراو.؟🖤 :
💔🥹
2026-06-13 18:58:24
2
x98.k01
KASA👑, :
💔💔💔
2026-06-13 13:29:21
3
abdulla.0020
𝒜𝒷𝒹𝓊𝓁𝓁𝒶⚜️ :
💔💔
2026-06-13 13:42:08
2
sipan.harki4
sipan harki :
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
2026-06-13 19:44:28
2
cc_kawo_0.13
𝐊𝐚𝐮𝐚. 𝐅𝐚𝐫𝐞𝐬’ :
💔💔
2026-06-13 21:31:15
1
sahandsahan0
sahand :
🥹🥹🥹🥹
2026-06-13 20:07:49
1
sarbaz.h2
SWRA🖤 :
💔🥹
2026-06-13 21:17:55
1
ahmadstar221
𝓐𝓱𝓶𝓪𝓭 💫⚜️ :
🥺🥺🥺
2026-06-13 13:26:49
1
soran_____rustae
فـــــــەرهاد💔زیــــــــرەڪ :
😭😭😭
2026-06-13 16:57:43
1
banda_698
🖤 𝐆𝐮𝐢𝐥𝐭𝐲 🖤 :
💔💔
2026-06-13 15:28:37
1
dahatmhamad
داهات محمد ماویلی :
🥲😭😪
2026-06-13 18:07:52
1
To see more videos from user @tola.897, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Hati yang Memilih Diam Malam itu kembali datang, membawa sunyi yang selalu akrab dengannya. Di sudut rumah sederhana, ia duduk sendiri memandangi anaknya yang tertidur lelap. Wajah kecil itu terlihat begitu damai, seolah dunia tidak pernah mengenalkan luka kepadanya. Ia tersenyum pelan, meski hatinya sedang menangis. Tidak ada yang tahu berapa banyak air mata yang ia sembunyikan. Tidak ada yang mengerti betapa sering ia harus menelan kecewa, menahan marah, dan mengubur perasaannya sendiri. Bukan karena ia lemah, tetapi karena ia tahu satu hal... Anaknya tidak pantas merasakan luka yang sama. Berkali-kali hidup memaksanya memilih. Memilih antara memperjuangkan perasaannya atau menjaga senyum anaknya. Dan setiap kali persimpangan itu datang, ia selalu mengorbankan dirinya sendiri. Ia memilih diam. Bukan karena tidak sakit. Justru karena terlalu sakit untuk dijelaskan. Ada banyak hal yang ingin ia teriakkan kepada dunia. Ada banyak keluhan yang ingin ia sampaikan. Namun setiap kali ia melihat mata kecil yang penuh harapan itu, semua kata-kata menghilang. Yang tersisa hanyalah tekad untuk tetap kuat. Maka ia belajar berteman dengan luka. Ia menikmati sepi yang menggerogoti malam-malamnya. Ia membiasakan diri tersenyum di tengah hati yang rapuh. Ia memeluk kesedihannya sendiri agar anaknya tidak perlu memeluk kesedihan yang sama. Karena baginya, menjadi orang tua bukan hanya tentang memberi makan atau menyediakan tempat tinggal. Menjadi orang tua adalah tentang menahan badai agar anak tetap bisa melihat pelangi. Dan jika suatu hari anaknya tumbuh dewasa lalu bertanya,
Hati yang Memilih Diam Malam itu kembali datang, membawa sunyi yang selalu akrab dengannya. Di sudut rumah sederhana, ia duduk sendiri memandangi anaknya yang tertidur lelap. Wajah kecil itu terlihat begitu damai, seolah dunia tidak pernah mengenalkan luka kepadanya. Ia tersenyum pelan, meski hatinya sedang menangis. Tidak ada yang tahu berapa banyak air mata yang ia sembunyikan. Tidak ada yang mengerti betapa sering ia harus menelan kecewa, menahan marah, dan mengubur perasaannya sendiri. Bukan karena ia lemah, tetapi karena ia tahu satu hal... Anaknya tidak pantas merasakan luka yang sama. Berkali-kali hidup memaksanya memilih. Memilih antara memperjuangkan perasaannya atau menjaga senyum anaknya. Dan setiap kali persimpangan itu datang, ia selalu mengorbankan dirinya sendiri. Ia memilih diam. Bukan karena tidak sakit. Justru karena terlalu sakit untuk dijelaskan. Ada banyak hal yang ingin ia teriakkan kepada dunia. Ada banyak keluhan yang ingin ia sampaikan. Namun setiap kali ia melihat mata kecil yang penuh harapan itu, semua kata-kata menghilang. Yang tersisa hanyalah tekad untuk tetap kuat. Maka ia belajar berteman dengan luka. Ia menikmati sepi yang menggerogoti malam-malamnya. Ia membiasakan diri tersenyum di tengah hati yang rapuh. Ia memeluk kesedihannya sendiri agar anaknya tidak perlu memeluk kesedihan yang sama. Karena baginya, menjadi orang tua bukan hanya tentang memberi makan atau menyediakan tempat tinggal. Menjadi orang tua adalah tentang menahan badai agar anak tetap bisa melihat pelangi. Dan jika suatu hari anaknya tumbuh dewasa lalu bertanya, "Mengapa Ayah selalu terlihat kuat?" Mungkin ia hanya akan tersenyum dan menjawab, "Karena ada seseorang yang lebih penting daripada luka-luka yang pernah Ayah rasakan." Lalu diam-diam ia bersyukur. Sebab meskipun hatinya penuh bekas luka, setidaknya anaknya bisa tumbuh tanpa harus membawa luka yang sama. #MotivasiHidup #ExploreAlam #DISCLAIMER #semangatlebihbaik

About