Pikachu :
Dua hari lalu, sebuah amplop berwarna krem diserahkan padaku. Di sudutnya tertulis nama yang masih kukenal baik nama mantanku. Aku membukanya perlahan, dan di dalamnya tertulis:
"Hai, aku tahu ini mungkin terasa aneh atau canggung bagimu. Tapi aku mengirim undangan ini dengan hati yang ikhlas. Aku akan melangsungkan pernikahan, dan aku ingin kamu hadir. Bukan dengan maksud apa-apa selain menganggapmu pernah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupku. Aku ingin kita bisa saling mendoakan dan menutup masa lalu dengan cara yang baik. Jika kamu berkenan datang, aku akan senang. Jika tidak, aku sangat mengerti dan tidak akan memaksamu."
Aku terdiam lama. Setelah berpikir matang, aku memutuskan untuk datang hanya sebagai tamu, memberi doa terbaik, dan pergi setelahnya.
Hari yang ditunggu pun tiba. Aku datang mengenakan pakaian sopan, duduk di barisan belakang agar tidak terlalu mencolok. Upacara berjalan lancar: alunan musik yang lembut, ucapan selamat dari keluarga, hingga akhirnya kedua mempelai dipersilakan naik ke pelaminan.
Di sana, dia berdiri berdampingan dengan pasangannya, tampak rapi dan anggun. Semua tamu memandang mereka dengan senyum dan harapan baik. Namun, mataku tak sengaja menangkap sesuatu yang membuat hatiku berdebar pelan dia sering menoleh.
Di tengah sorakan dan doa, di tengah pasangannya yang berdiri tepat di sampingnya, matanya berkali-kali melayang dan tertuju tepat ke arahku.
Tatapannya bukan tatapan yang penuh keinginan untuk kembali, bukan pula tatapan yang menyakiti.
2026-06-14 13:00:10