@aiyan80160: With this kind of intoxicating tension, the director needs to cast them together again ASAP!这种微醺拉扯感,导演不让他们二搭真的很难收场!#zhanglinghe #tianxiwei #逐玉 #chinesedrama #fyppppppppppppppppppppppp

aiyan8016
aiyan8016
Open In TikTok:
Region: SG
Sunday 14 June 2026 08:02:01 GMT
4172
495
4
2

Music

Download

Comments

brewtiquebychibog
brewtiquebychibog :
she’s so inlove singing like that❤️
2026-06-14 10:42:18
6
jnhjse
Miss J ♉ :
agree the caption 💯😍 still waiting for seeing them together again 😍
2026-06-14 22:57:59
3
pareudomsuk
Pare Udomsuk :
🥰🥰🥰
2026-06-14 22:39:06
0
To see more videos from user @aiyan80160, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#pov :  ​“Truth or dare?” ​Kamu menghela napas singkat, berdecih. “Dare.” ​Sorak kecil meledak. Teman-teman satu gengmu di SMA memang selalu berisik jika sudah berkumpul di warung belakang sekolah. Dan di sanalah namanya disebut, seolah target sudah disiapkan sejak awal. ​“Pacaran sama Juhoon.” ​Juhoon. Si cowok berkacamata tebal, duduk di barisan depan kelas, selalu datang lebih pagi dari siapa pun. Tidak pernah ikutan nongkrong di kantin. Tidak pernah ikut bercanda. Bahkan ia tidak pernah tersenyum. ​“Cuma dua minggu, kan?” katamu santai, memutar-mutar kunci vesmet mu. “That's easy.” ​Hari itu, permainan dimulai. Kamu melihat Juhoon di koridor sekolah dekat loker dan mendekatinya. Berusaha sok akrab. ​Kamu menangkup kedua tanganmu di pipi, lalu melempar senyum lebar yang di mata Juhoon terlihat sangat aneh. ​“Lo kenapa?” tanyanya datar, jelas tidak nyaman. ​“Mau kenalan doang emang nggak boleh?” ujarmu seraya tersenyum semanis mungkin. ​“Gue nggak tertarik kenalan, apalagi punya temen kayak lo,” balasnya dingin. Ia menutup lokernya dengan pelan, lalu beranjak pergi. ​Oke. Kamu gagal di hari pertama. ​Hari kedua, kamu sengaja duduk di sebelah Juhoo  saat jam pelajaran Fisika. Menggeser kursi tanpa izin, lalu menyodorkan sebatang cokelat. ​Juhoon menerimanya tanpa ekspresi, memasukkannya ke dalam tas, namun tidak berbicara sepatah kata pun. ​Oke, nice try. ​Hari ketiga, semuanya terbongkar. Kamu tidak tahu dari mana ia mendengarnya. Mungkin bisik-bisik anak-anak di kelas terlalu keras, atau tawa gengmu yang mencolok saat memperhatikannya dari jauh. Yang jelas, sore itu saat sekolah sudah sepi, ia menghentikan langkahmu di lorong laboratorium yang kosong. ​“Gue tau,” ucapnya. Nada suara itu berat dan dingin. “Gue target taruhan lo, kan?” ​Kamu terdiam. Jantungmu berdegup aneh, tapi kamu segera tertawa kecil, pura-pura santai. “Ketahuan ya? Jadi lo mau dong, jadi pacar gue?” ​Ia menatapmu lurus dari balik lensa kacamatanya. Tatapan yang entah kenapa membuat senyummu terasa canggung. ​“Cuma dua minggu kan?” katanya. “Setelah itu jangan ganggu gue lagi.” ​Kamu menyeringai kecil, mencoba mengembalikan kendali. Kamu menepuk pundaknya beberapa kali. “Lagian siapa juga sih yang mau lama-lama sama cowok innocent kayak lo? Bosenin tahu nggak.” ​Juhoon tidak tersinggung. Itu yang membuatmu sedikit terkejut. ​“Terserah,” balasnya singkat. Ia membenarkan letak tas ranselnya lalu berjalan melewatimu, meninggalkanmu yang sedikit speechless dengan ketenangannya. ♡♡♡ ​Minggu pertama berpacaran dengan Juhoon. Dan di hari pertamanya, kamu berkacak pinggang di parkiran sekolah seraya memperhatikan bingkai hitam yang selalu bertengger di wajah Juhoon. ​“Lo kelihatan culun banget kalau pakai kacamata itu,” katamu sambil menyeringai kecil. ​Juhoon hanya berkedip sekali. “Oh,” jawabnya singkat. ​Kamu menggeram kesal dalam hati. Cowok satu ini ternyata sangat pandai membuat orang gemas karena sifat pasifnya. ♡♡♡ ​Hari kedua, kamu memutuskan ikut masuk ke dunianya, perpustakaan sekolah yang super sepi. ​Kamu duduk di depan Juhoon, satu meja. Mengambil buku ensiklopedia tebal yang judulnya bahkan tidak kamu pahami. Pura-pura membaca, padahal sesekali menguap keras-keras. ​“Serius lo betah baca ginian tiap hari?” ​Juhoon membalik halaman bukunya. “Kalau nggak betah gue nggak bakal duduk di sini.” ​Kamu memutar bola mata malas. “Lo kalau ngomong emang rada nyelekit gitu ya?” ​“Sama lo doang,” jawab Juhoon tanpa beralih dari bukunya. ​Kamu hanya menatapnya datar. Lalu lagi-lagi, tanganmu bertumpu di dagu seraya mengunci tatapanmu padanya. Menunggu dia menyuruhmu pergi karena terganggu. ​Tapi tidak. Juhoon membiarkanmu tinggal seolah kehadiranmu tidak mengganggu, tapi juga tidak penting. ​“Lo beneran... aneh,” gumammu pelan. ​“Hm, jangan sampai lo suka,” balas Juhoon, nadanya datar tapi entah kenapa terdengar berbahaya. ​Kamu berdecih. “Enggak akan.” ♡♡♡ ​Hari ketiga, kamu bosan setengah mati. Kamu mengetuk meja sembari menoleh kepada Juhoon. ​(comsec+++) #JUHOON #fyp #alternativeuniverse #xcyzba
#pov : ​“Truth or dare?” ​Kamu menghela napas singkat, berdecih. “Dare.” ​Sorak kecil meledak. Teman-teman satu gengmu di SMA memang selalu berisik jika sudah berkumpul di warung belakang sekolah. Dan di sanalah namanya disebut, seolah target sudah disiapkan sejak awal. ​“Pacaran sama Juhoon.” ​Juhoon. Si cowok berkacamata tebal, duduk di barisan depan kelas, selalu datang lebih pagi dari siapa pun. Tidak pernah ikutan nongkrong di kantin. Tidak pernah ikut bercanda. Bahkan ia tidak pernah tersenyum. ​“Cuma dua minggu, kan?” katamu santai, memutar-mutar kunci vesmet mu. “That's easy.” ​Hari itu, permainan dimulai. Kamu melihat Juhoon di koridor sekolah dekat loker dan mendekatinya. Berusaha sok akrab. ​Kamu menangkup kedua tanganmu di pipi, lalu melempar senyum lebar yang di mata Juhoon terlihat sangat aneh. ​“Lo kenapa?” tanyanya datar, jelas tidak nyaman. ​“Mau kenalan doang emang nggak boleh?” ujarmu seraya tersenyum semanis mungkin. ​“Gue nggak tertarik kenalan, apalagi punya temen kayak lo,” balasnya dingin. Ia menutup lokernya dengan pelan, lalu beranjak pergi. ​Oke. Kamu gagal di hari pertama. ​Hari kedua, kamu sengaja duduk di sebelah Juhoo saat jam pelajaran Fisika. Menggeser kursi tanpa izin, lalu menyodorkan sebatang cokelat. ​Juhoon menerimanya tanpa ekspresi, memasukkannya ke dalam tas, namun tidak berbicara sepatah kata pun. ​Oke, nice try. ​Hari ketiga, semuanya terbongkar. Kamu tidak tahu dari mana ia mendengarnya. Mungkin bisik-bisik anak-anak di kelas terlalu keras, atau tawa gengmu yang mencolok saat memperhatikannya dari jauh. Yang jelas, sore itu saat sekolah sudah sepi, ia menghentikan langkahmu di lorong laboratorium yang kosong. ​“Gue tau,” ucapnya. Nada suara itu berat dan dingin. “Gue target taruhan lo, kan?” ​Kamu terdiam. Jantungmu berdegup aneh, tapi kamu segera tertawa kecil, pura-pura santai. “Ketahuan ya? Jadi lo mau dong, jadi pacar gue?” ​Ia menatapmu lurus dari balik lensa kacamatanya. Tatapan yang entah kenapa membuat senyummu terasa canggung. ​“Cuma dua minggu kan?” katanya. “Setelah itu jangan ganggu gue lagi.” ​Kamu menyeringai kecil, mencoba mengembalikan kendali. Kamu menepuk pundaknya beberapa kali. “Lagian siapa juga sih yang mau lama-lama sama cowok innocent kayak lo? Bosenin tahu nggak.” ​Juhoon tidak tersinggung. Itu yang membuatmu sedikit terkejut. ​“Terserah,” balasnya singkat. Ia membenarkan letak tas ranselnya lalu berjalan melewatimu, meninggalkanmu yang sedikit speechless dengan ketenangannya. ♡♡♡ ​Minggu pertama berpacaran dengan Juhoon. Dan di hari pertamanya, kamu berkacak pinggang di parkiran sekolah seraya memperhatikan bingkai hitam yang selalu bertengger di wajah Juhoon. ​“Lo kelihatan culun banget kalau pakai kacamata itu,” katamu sambil menyeringai kecil. ​Juhoon hanya berkedip sekali. “Oh,” jawabnya singkat. ​Kamu menggeram kesal dalam hati. Cowok satu ini ternyata sangat pandai membuat orang gemas karena sifat pasifnya. ♡♡♡ ​Hari kedua, kamu memutuskan ikut masuk ke dunianya, perpustakaan sekolah yang super sepi. ​Kamu duduk di depan Juhoon, satu meja. Mengambil buku ensiklopedia tebal yang judulnya bahkan tidak kamu pahami. Pura-pura membaca, padahal sesekali menguap keras-keras. ​“Serius lo betah baca ginian tiap hari?” ​Juhoon membalik halaman bukunya. “Kalau nggak betah gue nggak bakal duduk di sini.” ​Kamu memutar bola mata malas. “Lo kalau ngomong emang rada nyelekit gitu ya?” ​“Sama lo doang,” jawab Juhoon tanpa beralih dari bukunya. ​Kamu hanya menatapnya datar. Lalu lagi-lagi, tanganmu bertumpu di dagu seraya mengunci tatapanmu padanya. Menunggu dia menyuruhmu pergi karena terganggu. ​Tapi tidak. Juhoon membiarkanmu tinggal seolah kehadiranmu tidak mengganggu, tapi juga tidak penting. ​“Lo beneran... aneh,” gumammu pelan. ​“Hm, jangan sampai lo suka,” balas Juhoon, nadanya datar tapi entah kenapa terdengar berbahaya. ​Kamu berdecih. “Enggak akan.” ♡♡♡ ​Hari ketiga, kamu bosan setengah mati. Kamu mengetuk meja sembari menoleh kepada Juhoon. ​(comsec+++) #JUHOON #fyp #alternativeuniverse #xcyzba

About