@gocnhocuocsong88: Gel cốt gừng dùng để xoa bóp giúp làm ấm và săn chắc cơ. #Gelxoabop #gelcotgung #gelmassage #xoabopxuongkhop #gocnhocuocsong88

Góc nhỏ cuộc sống88
Góc nhỏ cuộc sống88
Open In TikTok:
Region: VN
Monday 15 June 2026 08:10:00 GMT
73
2
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @gocnhocuocsong88, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kadang aku masih bertanya-tanya, apa suatu hari nanti kamu bakal balik lagi ke aku? Pertanyaan yang sebenarnya aku udah tahu jawabannya, tapi tetap aja aku ulang terus di kepala, seolah-olah kalau aku cukup sering berharap, semesta bakal kasihan dan ngasih aku kesempatan sekali lagi buat sama kamu. Aku tahu kita udah selesai. Aku tahu sekarang aku nggak punya hak buat nunggu kabar dari kamu, nggak punya hak buat cemburu, nggak punya hak buat nanya kamu lagi di mana atau sama siapa. Tapi ternyata tahu semuanya udah berakhir nggak otomatis bikin hati aku ikut selesai. Kamu mungkin udah melangkah jauh, sementara aku masih tertinggal di tempat terakhir kita saling sayang, sibuk mengumpulkan kenangan yang bahkan mungkin buat kamu udah nggak penting lagi. Yang paling nyakitin bukan cuma karena aku kehilangan kamu, tapi karena aku masih sering lupa kalau aku udah kehilangan kamu. Ada saat-saat ketika aku pengin banget cerita sesuatu ke kamu, lalu tanganku refleks buka chat kita. Aku mau ngetik panjang lebar seperti dulu, mau cerita hal receh yang mungkin cuma kamu yang bakal ngerti, tapi sebelum satu kata pun terkirim, aku sadar kalau sekarang aku cuma orang yang pernah kamu sayang. Akhirnya aku tutup lagi chat itu, pura-pura nggak ada apa-apa, padahal ada bagian dari hati aku yang rasanya jatuh setiap kali ingat kalau aku udah nggak bisa sembarang datang ke hidup kamu. Dulu aku bisa nyari kamu kapan aja, sekarang buat sekadar bilang kangen pun aku harus mikir berkali-kali, takut ganggu hidup kamu, takut kamu risih, takut ternyata nama aku udah jadi sesuatu yang pengin kamu hindari. Aku nggak tahu kapan tepatnya aku berubah jadi seseorang yang cuma bisa merindukan kamu diam-diam. Mungkin sejak aku sadar kamu nggak lagi nyari aku seperti dulu. Mungkin sejak aku mulai terbiasa menunggu pesan yang nggak datang-datang. Atau mungkin sejak aku berkali-kali meyakinkan diri sendiri kalau kamu cuma sibuk, padahal jauh di dalam hati aku tahu, kalau seseorang masih ingin tinggal, sesibuk apa pun dia pasti bakal berusaha ngasih kabar. Aku benci karena sampai sekarang aku masih mencari alasan buat membenarkan kepergian kamu. Aku bilang mungkin kamu capek, mungkin kamu punya banyak masalah, mungkin kamu butuh waktu, mungkin nanti setelah semuanya tenang kamu bakal ingat aku lagi. Aku bikin banyak kemungkinan supaya aku nggak harus menghadapi kemungkinan yang paling menyakitkan: mungkin kamu memang udah nggak mau sama aku. Mungkin kamu udah nggak punya perasaan yang sama. Dan mungkin, selama ini, aku sendirian mempertahankan sesuatu yang sebenarnya udah lama kamu lepaskan. Kadang aku bertanya, apa kamu pernah kangen sama aku seperti aku kangen sama kamu? Apa pernah ada malam ketika kamu hampir menghubungi aku, lalu mengurungkan niat karena mengingat semuanya udah berbeda? Apa kamu pernah melihat sesuatu yang mengingatkan kamu sama aku, lalu diam sebentar sebelum akhirnya melanjutkan hari seperti biasa? Aku nggak minta kamu ikut hancur cuma karena aku belum bisa baik-baik aja. Aku cuma pengin tahu kalau semua yang pernah kita punya memang pernah berarti buat kamu, kalau aku bukan satu-satunya orang yang masih menyimpan bekas dari hubungan ini. Soalnya aku masih ingat hal-hal kecil tentang kamu yang mungkin kamu sendiri udah lupa. Cara kamu manggil aku, obrolan kita sebelum tidur, janji-janji sederhana yang dulu terasa begitu meyakinkan, bahkan hal sepele yang waktu itu bikin aku senyum sendiri. Sekarang semuanya cuma tinggal ingatan, dan aku benci karena kenangan yang dulu bikin aku bahagia sekarang bisa bikin dada aku sesak dalam hitungan detik. Aku bisa aja ketawa sama orang lain, ngobrol seperti biasa, kelihatan baik-baik aja seharian. Tapi kadang, begitu aku sendirian, semuanya datang lagi. Aku ingat kamu, aku kangen, lalu aku mulai bertanya-tanya kenapa orang yang dulu terasa paling dekat sekarang bahkan nggak tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku masih nunggu, meski mungkin kamu tak akan pernah pulang lagi, dan itu yang paling bikin aku sakit.
Kadang aku masih bertanya-tanya, apa suatu hari nanti kamu bakal balik lagi ke aku? Pertanyaan yang sebenarnya aku udah tahu jawabannya, tapi tetap aja aku ulang terus di kepala, seolah-olah kalau aku cukup sering berharap, semesta bakal kasihan dan ngasih aku kesempatan sekali lagi buat sama kamu. Aku tahu kita udah selesai. Aku tahu sekarang aku nggak punya hak buat nunggu kabar dari kamu, nggak punya hak buat cemburu, nggak punya hak buat nanya kamu lagi di mana atau sama siapa. Tapi ternyata tahu semuanya udah berakhir nggak otomatis bikin hati aku ikut selesai. Kamu mungkin udah melangkah jauh, sementara aku masih tertinggal di tempat terakhir kita saling sayang, sibuk mengumpulkan kenangan yang bahkan mungkin buat kamu udah nggak penting lagi. Yang paling nyakitin bukan cuma karena aku kehilangan kamu, tapi karena aku masih sering lupa kalau aku udah kehilangan kamu. Ada saat-saat ketika aku pengin banget cerita sesuatu ke kamu, lalu tanganku refleks buka chat kita. Aku mau ngetik panjang lebar seperti dulu, mau cerita hal receh yang mungkin cuma kamu yang bakal ngerti, tapi sebelum satu kata pun terkirim, aku sadar kalau sekarang aku cuma orang yang pernah kamu sayang. Akhirnya aku tutup lagi chat itu, pura-pura nggak ada apa-apa, padahal ada bagian dari hati aku yang rasanya jatuh setiap kali ingat kalau aku udah nggak bisa sembarang datang ke hidup kamu. Dulu aku bisa nyari kamu kapan aja, sekarang buat sekadar bilang kangen pun aku harus mikir berkali-kali, takut ganggu hidup kamu, takut kamu risih, takut ternyata nama aku udah jadi sesuatu yang pengin kamu hindari. Aku nggak tahu kapan tepatnya aku berubah jadi seseorang yang cuma bisa merindukan kamu diam-diam. Mungkin sejak aku sadar kamu nggak lagi nyari aku seperti dulu. Mungkin sejak aku mulai terbiasa menunggu pesan yang nggak datang-datang. Atau mungkin sejak aku berkali-kali meyakinkan diri sendiri kalau kamu cuma sibuk, padahal jauh di dalam hati aku tahu, kalau seseorang masih ingin tinggal, sesibuk apa pun dia pasti bakal berusaha ngasih kabar. Aku benci karena sampai sekarang aku masih mencari alasan buat membenarkan kepergian kamu. Aku bilang mungkin kamu capek, mungkin kamu punya banyak masalah, mungkin kamu butuh waktu, mungkin nanti setelah semuanya tenang kamu bakal ingat aku lagi. Aku bikin banyak kemungkinan supaya aku nggak harus menghadapi kemungkinan yang paling menyakitkan: mungkin kamu memang udah nggak mau sama aku. Mungkin kamu udah nggak punya perasaan yang sama. Dan mungkin, selama ini, aku sendirian mempertahankan sesuatu yang sebenarnya udah lama kamu lepaskan. Kadang aku bertanya, apa kamu pernah kangen sama aku seperti aku kangen sama kamu? Apa pernah ada malam ketika kamu hampir menghubungi aku, lalu mengurungkan niat karena mengingat semuanya udah berbeda? Apa kamu pernah melihat sesuatu yang mengingatkan kamu sama aku, lalu diam sebentar sebelum akhirnya melanjutkan hari seperti biasa? Aku nggak minta kamu ikut hancur cuma karena aku belum bisa baik-baik aja. Aku cuma pengin tahu kalau semua yang pernah kita punya memang pernah berarti buat kamu, kalau aku bukan satu-satunya orang yang masih menyimpan bekas dari hubungan ini. Soalnya aku masih ingat hal-hal kecil tentang kamu yang mungkin kamu sendiri udah lupa. Cara kamu manggil aku, obrolan kita sebelum tidur, janji-janji sederhana yang dulu terasa begitu meyakinkan, bahkan hal sepele yang waktu itu bikin aku senyum sendiri. Sekarang semuanya cuma tinggal ingatan, dan aku benci karena kenangan yang dulu bikin aku bahagia sekarang bisa bikin dada aku sesak dalam hitungan detik. Aku bisa aja ketawa sama orang lain, ngobrol seperti biasa, kelihatan baik-baik aja seharian. Tapi kadang, begitu aku sendirian, semuanya datang lagi. Aku ingat kamu, aku kangen, lalu aku mulai bertanya-tanya kenapa orang yang dulu terasa paling dekat sekarang bahkan nggak tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku masih nunggu, meski mungkin kamu tak akan pernah pulang lagi, dan itu yang paling bikin aku sakit.

About