@marcgattier:

chami yasmine 225
chami yasmine 225
Open In TikTok:
Region: CI
Sunday 14 June 2026 16:17:52 GMT
463
19
2
0

Music

Download

Comments

kouadioamaritafie
kouadioamaritafie :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-06-14 23:23:23
0
schadow.guest2
schadow guest :
🙏🙏🙏
2026-06-15 01:48:33
0
To see more videos from user @marcgattier, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Hati yang Kau Hancurkan Itu Orang Tuaku yang Berusaha Menyembuhkannya Aku pernah mencintaimu sampai lupa bahwa ada hati lain yang ikut terluka ketika aku menangis. Aku terlalu sibuk mempertahankanmu, terlalu sibuk memperjuangkan seseorang yang bahkan tidak berjuang untuk tetap tinggal. Sampai akhirnya kau pergi begitu saja, meninggalkan kekacauan yang harus kutanggung sendirian. Kau mungkin mengira setelah itu semuanya selesai. Bahwa luka yang kau buat akan hilang seiring waktu. Bahwa aku akan baik-baik saja seperti sebelum mengenalmu. Padahal setelah kepergianmu, ada malam-malam panjang yang harus kulewati dengan dada yang terasa sesak. Ada hari-hari ketika aku tidak ingin berbicara kepada siapa pun. Ada saat-saat di mana aku menangis begitu lama sampai lelah, tetapi tetap tidak menemukan alasan mengapa aku tidak cukup untuk membuatmu bertahan. Dan saat aku sedang sehancur itu, orang tuakulah yang diam-diam berdiri di sampingku. Mereka tidak tahu seluruh ceritanya. Tidak tahu bagaimana kau membuatku jatuh cinta, tidak tahu janji apa yang pernah kau ucapkan. Mereka hanya tahu anak yang mereka besarkan dengan penuh kasih tiba-tiba sering mengurung diri, sering kehilangan nafsu makan, sering memaksakan senyum yang bahkan tidak sampai ke matanya. Ibuku bertanya apakah aku baik-baik saja, meski jawabannya sudah terlihat jelas di wajahku. Ayahku berpura-pura tidak menyadari mataku yang bengkak setiap pagi, mungkin karena ia tahu ada beberapa luka yang terlalu sulit untuk ditanyakan. Mereka tidak pernah menyalahkanku. Tidak pernah memintaku berhenti bersedih. Mereka hanya tetap ada. Tetap menungguku pulang dari perang yang bahkan tidak mereka mulai. Kadang aku menangis bukan karena merindukanmu lagi. Aku menangis karena merasa bersalah kepada mereka. Karena seseorang yang bahkan bukan bagian dari keluarga kami datang, menghancurkan hatiku, lalu pergi tanpa melihat ke belakang. Sedangkan orang tuakulah yang harus mengumpulkan pecahan-pecahannya. Orang tuakulah yang harus melihat anaknya berubah menjadi seseorang yang asing karena kehilangan. Yang membuatku paling sakit adalah menyadari bahwa kau mungkin tidak pernah tahu semua ini. Kau melanjutkan hidupmu, sementara di rumahku, ada dua orang yang diam-diam berdoa agar aku segera sembuh dari luka yang kau tinggalkan. Ada dua orang yang berharap aku bisa tertawa seperti dulu. Ada dua orang yang ikut merasakan sakit hanya karena mereka mencintaiku. Hingga hari ini aku mengerti satu hal. Luka terbesar yang kau tinggalkan bukanlah karena kau pergi. Melainkan karena setelah menghancurkan hatiku, kau meninggalkannya begitu saja. Dan orang yang paling lelah membersihkan reruntuhannya adalah mereka yang bahkan tidak pernah melakukan kesalahan apa pun kepadamu. Hati yang kau hancurkan itu memang milikku. Tapi yang harus melihatnya berdarah setiap hari adalah orang tuaku.
Hati yang Kau Hancurkan Itu Orang Tuaku yang Berusaha Menyembuhkannya Aku pernah mencintaimu sampai lupa bahwa ada hati lain yang ikut terluka ketika aku menangis. Aku terlalu sibuk mempertahankanmu, terlalu sibuk memperjuangkan seseorang yang bahkan tidak berjuang untuk tetap tinggal. Sampai akhirnya kau pergi begitu saja, meninggalkan kekacauan yang harus kutanggung sendirian. Kau mungkin mengira setelah itu semuanya selesai. Bahwa luka yang kau buat akan hilang seiring waktu. Bahwa aku akan baik-baik saja seperti sebelum mengenalmu. Padahal setelah kepergianmu, ada malam-malam panjang yang harus kulewati dengan dada yang terasa sesak. Ada hari-hari ketika aku tidak ingin berbicara kepada siapa pun. Ada saat-saat di mana aku menangis begitu lama sampai lelah, tetapi tetap tidak menemukan alasan mengapa aku tidak cukup untuk membuatmu bertahan. Dan saat aku sedang sehancur itu, orang tuakulah yang diam-diam berdiri di sampingku. Mereka tidak tahu seluruh ceritanya. Tidak tahu bagaimana kau membuatku jatuh cinta, tidak tahu janji apa yang pernah kau ucapkan. Mereka hanya tahu anak yang mereka besarkan dengan penuh kasih tiba-tiba sering mengurung diri, sering kehilangan nafsu makan, sering memaksakan senyum yang bahkan tidak sampai ke matanya. Ibuku bertanya apakah aku baik-baik saja, meski jawabannya sudah terlihat jelas di wajahku. Ayahku berpura-pura tidak menyadari mataku yang bengkak setiap pagi, mungkin karena ia tahu ada beberapa luka yang terlalu sulit untuk ditanyakan. Mereka tidak pernah menyalahkanku. Tidak pernah memintaku berhenti bersedih. Mereka hanya tetap ada. Tetap menungguku pulang dari perang yang bahkan tidak mereka mulai. Kadang aku menangis bukan karena merindukanmu lagi. Aku menangis karena merasa bersalah kepada mereka. Karena seseorang yang bahkan bukan bagian dari keluarga kami datang, menghancurkan hatiku, lalu pergi tanpa melihat ke belakang. Sedangkan orang tuakulah yang harus mengumpulkan pecahan-pecahannya. Orang tuakulah yang harus melihat anaknya berubah menjadi seseorang yang asing karena kehilangan. Yang membuatku paling sakit adalah menyadari bahwa kau mungkin tidak pernah tahu semua ini. Kau melanjutkan hidupmu, sementara di rumahku, ada dua orang yang diam-diam berdoa agar aku segera sembuh dari luka yang kau tinggalkan. Ada dua orang yang berharap aku bisa tertawa seperti dulu. Ada dua orang yang ikut merasakan sakit hanya karena mereka mencintaiku. Hingga hari ini aku mengerti satu hal. Luka terbesar yang kau tinggalkan bukanlah karena kau pergi. Melainkan karena setelah menghancurkan hatiku, kau meninggalkannya begitu saja. Dan orang yang paling lelah membersihkan reruntuhannya adalah mereka yang bahkan tidak pernah melakukan kesalahan apa pun kepadamu. Hati yang kau hancurkan itu memang milikku. Tapi yang harus melihatnya berdarah setiap hari adalah orang tuaku.

About