@andreagrico: Mi primera compra de básicos en @IKEA.España #piso #alquiler #ikea #madrid

andreagrico
andreagrico
Open In TikTok:
Region: ES
Sunday 14 June 2026 18:20:13 GMT
31700
1143
7
168

Music

Download

Comments

ikea.spain
IKEA.España :
Has montado un kit de básicos perfecto
2026-06-15 13:56:26
7
trebol0741
trebol :
SI NO PONES PRECIO NO TE MIRO
2026-07-24 23:52:45
0
crissant_98
Crissant98 :
El conjunto metálico que quieres usa para la cocina se te va a oxidar, me salió un vídeo de una chica diciendo que lo tuvo que tirar por eso
2026-06-19 07:47:13
1
aliiceprofiri98
Alice :
Me mudo en una semana y me acabas de hacer la lista de compra! Muy buen vídeo🥰
2026-06-16 07:37:48
2
verococoyalberbachata
VerococoyAlberBachata :
somos los mejores @IKEA.España
2026-06-15 21:09:21
0
To see more videos from user @andreagrico, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Perang Makassar (1666–1669) adalah konflik besar antara Kesultanan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dan VOC Belanda yang dibantu oleh Kesultanan Bone di bawah pimpinan Arung Palakka. Perang ini dipicu oleh perebutan jalur perdagangan rempah-rempah dan penolakan Gowa terhadap monopoli VOC. ‎ ‎Meskipun perjanjian diatas rakit di Atappang telah ditandatangani oleh La Tenribali Datu Soppeng, Arung Palakka La Tenri Tatta dan Jennang to Bala Arung Tanete Riawang, Soppeng sendiri meminta Arung Palakka untuk memastikan komitmen Arung Palili di Bone terhadap perang yang akan berlangsung. ‎ ‎Keesokan harinya seluruh Bone dan penguasa negeri bawahannya (Bone lili' passeajingĕng) datang menuju Pattiro sambil membawa spanduk, sementara Arung Palakka dan bangsawan Bone lainnya membawa  Pajumpulawĕng (payung emas).  ‎ ‎Para prajurit Soppeng juga hadir disana, membawa spanduk Soppeng Riaja (La Panyannya). Disana para bangsawan Bone, Soppeng dan Toangke kemudian bersumpah untuk menjunjungi dan loyal terhadap Perjanjian di atas rakit di Atappang.  ‎ ‎Arung Pattiro Puanna Lacaya, La Mappa Arung Tonra mengambil langkah lain dengan bergabung dengan Pasukan Makassar. ‎ ‎La Mappa Arung Tonra dengan pasukannya kemudian ditempatkan di daerah Rappocini, sehingga di kenallah beliau sebagai Karaeng Rappocini, penguasa daerah Rappocini. ‎ ‎Dalam Perang Makassar La Mappa di daulat memimpin pasukan Tonra- Makassar bersama dengan Karaeng Galesong dan Daeng Mangalle, mereka adalah Putra Putra Sultan Hasanuddin. ‎ ‎Pada tanggal 15 Juni 1669, Benteng Somba Opu di serang oleh VOC dan koalisi  Arung Palakka, Pasukan dari Ambon Kapiten Jonker, Kerajaan Ternate, Kesultanan Buton.  ‎ ‎Speelman mengibarkan bendera merah untuk melakukan serangan total. Perang pun pecah. Pasukan pertahanan dari Somba Opu menyambutnya dengan gegap gempita. ‎ ‎Setapak demi setapak tanah dalam benteng Somba Opu dipertahankan hingga tetes darah terakhir. ‎ ‎Sepuluh hari kemudian, pada 24 Juni 1669 Speelman barhasil mengambilalih secara penuh Somba Opu. Sebanyak 270 meriam besar dan kecil dirampas. Setelah itu, Somba Opu diratakan dengan tanah, ribuan pond mesiu meledakkan istana, mayat-mayat bergelimpangan bersama ledakan dan api menjilat kemana-mana.  ‎ ‎Setelah keruntuhan Kerajaan Gowa dengan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya, Para bangsawan Gowa menolak Perjanjian tersebut dan kemudian meninggalkan tanah Makkasara menuju ke tanah Jawa yaitu daerah Banten. ‎ ‎Pada bulan Oktober 1671, La Mappa Arung Tonra tiba di Banten, rombongan ini dipimpin oleh I Mannindori Kare' Tojeng Karaeng Galesong, dimana dalam kontingen ini pula turut ikut Abdul Hamid Daeng Mangalle bersama kedua pengawal setianya dan para tokoh besar Kerajaan Gowa lainnya. Mereka itu adalah I Adulu' Daeng Mangalle (Putera Sultan Hasanuddin), I Fatimah Daeng Takontu Panglima Srikandi Balira. Kontingen inilah yang paling besar dibanding sebelumnya, yakni : terdiri dari 70 buah armada perang yang memuat 20.000 laskar bersenjata lengkap. Mereka berlabuh di Pelabuhan Banten. ‎ ‎Pada akhir 1675, pasukan Trunajaya– Galesong mulai bergerak dari Demung, markas pesisir timur Madura. Gresik, Pasuruan, Pajarakan, Gerongan dibakar habis.  ‎ ‎Serangan ini melumpuhkan ekonomi Mataram, memaksa pusat kekuasaan bergulat menahan gempuran di banyak front. ‎ ‎Juni 1677 menjadi momen klimaks. Pasukan koalisi sekitar 2.100 orang, 150 perahu perang, menyerbu Plered—ibu kota Mataram. Amangkurat I terpaksa melarikan diri ke barat, diiringi Pangeran Adipati Anom.  ‎ ‎Menurut Babad, raja tua wafat di Tegal Arum dalam pelarian menuju Batavia, lalu dimakamkan di Tegal Wangi. Runtuhnya Plered tak hanya merubuhkan tembok istana, tetapi meruntuhkan marwah dinasti Panembahan Senapati yang selama puluhan tahun digdaya. ‎ ‎Pasukan dari Makassar bersama Trunajaya berhasil menguasai Mataran, walaupun kembali dapat dikalahkan dengan kemunculan Sunan Amangkurat 2 dan seorang Bangsawan Makassar-Bima Karaeng Naba. #makassar
Perang Makassar (1666–1669) adalah konflik besar antara Kesultanan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dan VOC Belanda yang dibantu oleh Kesultanan Bone di bawah pimpinan Arung Palakka. Perang ini dipicu oleh perebutan jalur perdagangan rempah-rempah dan penolakan Gowa terhadap monopoli VOC. ‎ ‎Meskipun perjanjian diatas rakit di Atappang telah ditandatangani oleh La Tenribali Datu Soppeng, Arung Palakka La Tenri Tatta dan Jennang to Bala Arung Tanete Riawang, Soppeng sendiri meminta Arung Palakka untuk memastikan komitmen Arung Palili di Bone terhadap perang yang akan berlangsung. ‎ ‎Keesokan harinya seluruh Bone dan penguasa negeri bawahannya (Bone lili' passeajingĕng) datang menuju Pattiro sambil membawa spanduk, sementara Arung Palakka dan bangsawan Bone lainnya membawa  Pajumpulawĕng (payung emas). ‎ ‎Para prajurit Soppeng juga hadir disana, membawa spanduk Soppeng Riaja (La Panyannya). Disana para bangsawan Bone, Soppeng dan Toangke kemudian bersumpah untuk menjunjungi dan loyal terhadap Perjanjian di atas rakit di Atappang. ‎ ‎Arung Pattiro Puanna Lacaya, La Mappa Arung Tonra mengambil langkah lain dengan bergabung dengan Pasukan Makassar. ‎ ‎La Mappa Arung Tonra dengan pasukannya kemudian ditempatkan di daerah Rappocini, sehingga di kenallah beliau sebagai Karaeng Rappocini, penguasa daerah Rappocini. ‎ ‎Dalam Perang Makassar La Mappa di daulat memimpin pasukan Tonra- Makassar bersama dengan Karaeng Galesong dan Daeng Mangalle, mereka adalah Putra Putra Sultan Hasanuddin. ‎ ‎Pada tanggal 15 Juni 1669, Benteng Somba Opu di serang oleh VOC dan koalisi Arung Palakka, Pasukan dari Ambon Kapiten Jonker, Kerajaan Ternate, Kesultanan Buton. ‎ ‎Speelman mengibarkan bendera merah untuk melakukan serangan total. Perang pun pecah. Pasukan pertahanan dari Somba Opu menyambutnya dengan gegap gempita. ‎ ‎Setapak demi setapak tanah dalam benteng Somba Opu dipertahankan hingga tetes darah terakhir. ‎ ‎Sepuluh hari kemudian, pada 24 Juni 1669 Speelman barhasil mengambilalih secara penuh Somba Opu. Sebanyak 270 meriam besar dan kecil dirampas. Setelah itu, Somba Opu diratakan dengan tanah, ribuan pond mesiu meledakkan istana, mayat-mayat bergelimpangan bersama ledakan dan api menjilat kemana-mana. ‎ ‎Setelah keruntuhan Kerajaan Gowa dengan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya, Para bangsawan Gowa menolak Perjanjian tersebut dan kemudian meninggalkan tanah Makkasara menuju ke tanah Jawa yaitu daerah Banten. ‎ ‎Pada bulan Oktober 1671, La Mappa Arung Tonra tiba di Banten, rombongan ini dipimpin oleh I Mannindori Kare' Tojeng Karaeng Galesong, dimana dalam kontingen ini pula turut ikut Abdul Hamid Daeng Mangalle bersama kedua pengawal setianya dan para tokoh besar Kerajaan Gowa lainnya. Mereka itu adalah I Adulu' Daeng Mangalle (Putera Sultan Hasanuddin), I Fatimah Daeng Takontu Panglima Srikandi Balira. Kontingen inilah yang paling besar dibanding sebelumnya, yakni : terdiri dari 70 buah armada perang yang memuat 20.000 laskar bersenjata lengkap. Mereka berlabuh di Pelabuhan Banten. ‎ ‎Pada akhir 1675, pasukan Trunajaya– Galesong mulai bergerak dari Demung, markas pesisir timur Madura. Gresik, Pasuruan, Pajarakan, Gerongan dibakar habis. ‎ ‎Serangan ini melumpuhkan ekonomi Mataram, memaksa pusat kekuasaan bergulat menahan gempuran di banyak front. ‎ ‎Juni 1677 menjadi momen klimaks. Pasukan koalisi sekitar 2.100 orang, 150 perahu perang, menyerbu Plered—ibu kota Mataram. Amangkurat I terpaksa melarikan diri ke barat, diiringi Pangeran Adipati Anom. ‎ ‎Menurut Babad, raja tua wafat di Tegal Arum dalam pelarian menuju Batavia, lalu dimakamkan di Tegal Wangi. Runtuhnya Plered tak hanya merubuhkan tembok istana, tetapi meruntuhkan marwah dinasti Panembahan Senapati yang selama puluhan tahun digdaya. ‎ ‎Pasukan dari Makassar bersama Trunajaya berhasil menguasai Mataran, walaupun kembali dapat dikalahkan dengan kemunculan Sunan Amangkurat 2 dan seorang Bangsawan Makassar-Bima Karaeng Naba. #makassar

About