Manik Mas :
Pada masa Bali tempo dulu, Hari Raya Galungan bukan sekadar perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma, melainkan sebuah peristiwa budaya yang menghidupkan seluruh denyut kehidupan masyarakat desa. Jauh sebelum jalan-jalan dipenuhi kendaraan dan teknologi modern, suasana Galungan hadir melalui gotong royong, kebersamaan, serta ketulusan yang tumbuh dari hati masyarakat.
Beberapa hari menjelang Galungan, warga desa telah sibuk mempersiapkan berbagai keperluan upacara. Kaum pria bersama-sama mencari bambu terbaik dari tegalan dan hutan untuk membuat penjor. Penjor tempo dulu dibuat sepenuhnya dari hasil alam sekitar; dihiasi janur, kelapa, padi, buah-buahan, serta berbagai hasil bumi yang melambangkan kemakmuran dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Deretan penjor yang melengkung anggun di sepanjang jalan desa menjadi simbol bahwa kehidupan manusia harus senantiasa tunduk dan harmonis dengan alam semesta.
Sementara itu, kaum perempuan berkumpul di bale banjar maupun di halaman rumah untuk membuat banten dan jajan tradisional. Suara percakapan yang hangat berpadu dengan aroma kue khas Bali yang dimasak menggunakan tungku kayu, menciptakan suasana yang penuh kekeluargaan. Tidak ada kesan tergesa-gesa; setiap sarana upacara dibuat dengan penuh kesabaran karena diyakini sebagai wujud bhakti yang tulus.
Pada hari Galungan, masyarakat mengenakan busana adat terbaik yang mereka miliki. Sejak fajar menyingsing, keluarga-keluarga berjalan kaki menuju pura keluarga, pura desa, hingga pura kahyangan untuk bersembahyang bersama. Jalan-jalan desa dipenuhi wajah-wajah yang berseri, saling menyapa, dan saling mengucapkan doa keselamatan. Anak-anak mengikuti orang tua mereka, belajar memahami nilai-nilai adat dan agama melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui nasihat.
Di masa itu, Galungan juga menjadi momentum mempererat hubungan sosial. Warga saling mengunjungi rumah kerabat dan tetangga tanpa memandang status sosial. Hidangan sederhana seperti lawar, sate, dan berbagai masakan tradisional dinikmati bersama sebagai simbol persaudaraan. Kehangatan tersebut mencerminkan filosofi Bali bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hubungan yang harmonis (Tri Hita Karana)
2026-06-15 07:31:26