@saaaaan66: Wajib coba cara aku🥰 jangan lupa sebelum mandi pake perontok daki salsa #fyp #lewatberanda #minivlog #masakansimple

Saaaaan🥀
Saaaaan🥀
Open In TikTok:
Region: ID
Monday 15 June 2026 23:23:10 GMT
650357
18960
455
1272

Music

Download

Comments

megaputriii0
EMILIAMEGAPUTRI(EMILY’S) :
Ga di tonton penasaran , ditonton mematikan😭
2026-06-16 01:11:39
10533
pcintajimin
Akusiapa :
@Akusiapa: Maaf bukan mau body shaming, kak tau gak kenapa kamu kena moon face? 1. Kamu makan gak sehat 2. Minumnya manis terus 3.KAMU JOROK percuma mau skincare-an sampe berjuta-juta kalo gak rubah gaya hidup.
2026-06-16 05:13:18
1218
riamlbb99
hii raa.🐣 :
yaa lumayan lah
2026-06-16 00:50:30
2304
akulyn_
Ree 🦕 :
aa seneng banget udah mulai ada perubahan,, oiya jan lupa minum air putih ya saaan..
2026-06-15 23:29:14
8105
natasyaputrirr
taca :
Sedikit ada perubahan udh ada panci kecil wkwkw
2026-06-15 23:26:34
1038
rizkhimiranda
Miranda♏️ :
San, dripada kamu makan mie, mending buat sup telur. Bahannya cuman bamer baput sama telur 2 dikocok lepas, tumin rajangan bamer bapur pake api kecil aja yaa san, sampe layu masukin air masak sampe mendidih, kecilkan api, putar air masukin telur. Lalu masukin garam lada yg banyak sama penyedap. Kamu makn pake tempe goreng enak banget loooo
2026-06-25 09:34:12
25
_rkarynii
Rika Dyah Ariani :
tiap nnton videonya aku ga prnh judge tapi aku berharap semoga ada perubahan dan bisa berubah gitu aja terus, dan sampai akhirnya udah beberapa video aku nonton akhir" ini emang udah mulai ada perubahan, semangat ka, kita ga benci cuman ingin kk menjalani hidup dengan baik
2026-06-16 02:16:09
730
user8288619
Everythink Will Be Ok 🌻💐🌸 :
berkuah ya berkuah tapi ya gak mie instan juga kali sussaaantooo...
2026-06-16 08:26:00
1697
dvitaa1_
ye-on_niee!🍀 :
"wajib coba caraku🥰" EMOH SU KETOKAN RA ENAK COK
2026-06-24 08:06:59
22
momaish23
dynsft04_ :
plis stop sempilin kata 'WAJIB RECOOK' bsk' gaush y ka
2026-06-17 12:05:15
29
mamahkeisha74
Mamah Keisha :
udh mulai ada perubahan nih saaan,klo ga sempet masak beli di warteg san jgn mie mulu ya saaan
2026-06-16 00:33:45
74
nvia_aar
nvia_aar :
KEMPROHHHH BANGET SYALAN
2026-06-17 04:16:10
10
melindarianii
Mel :
ka jangan lupa minum air putih ya..
2026-06-16 03:57:40
22
kazuna_kzn
Kazuna :
"Sesekali makan makanan berkuah", DUARRR MI KUAH !!
2026-06-17 14:44:39
14
a.mhrani
senja♡ :
minum air putih kak, klau gamau masih muda cuci darah
2026-06-16 02:27:42
18
yyun.05
Hyunitaa🍒💗 :
kost mu kn punya kulkas, percaya deh kak kalo air putih dingin ituu enakkk,segerrr💗 gapapa minum manis² yg penting imbangin sama air putih nya
2026-06-17 01:26:52
11
triambarrr05
Tri Ambarsari :
Alhamdulillah, makanannya masih terhitung normal 😭
2026-06-16 11:01:01
9
zahraassyifa77
°~•Zahra (扎赫拉)•~° :
nah kayak gitu cantik biar kosnya rapih bersih
2026-06-16 02:17:10
8
fatimah_cabi
Scorpio🦂 :
jorok sendok berjamur 😭
2026-06-22 01:17:29
8
melliao3
lu~°° :
alhamdulillah udah ada kemajuan kak sansan😊
2026-06-16 12:30:07
6
pisiway61_
30 :
nahhh gitu dong saaaaan, jgn panci karatan masih lu pake tar laklakan lu tetanus
2026-06-16 08:05:07
31
queen72130
Queen ❤️ :
ya lumayan la ada perubahan dari yg kemarin jan lupa jaga kesehatan ya
2026-06-16 11:50:17
7
amelliaaa.mellll
Babee💋 :
Selamat cuci darah untuk 10 tahun kemudian 🥰
2026-06-16 02:07:10
6
rizkinaop
riz :
enakk bangett liat kompornya bersih di lap😻
2026-06-15 23:44:12
16
liaimup123
liaa :
bagus kak gw demen, lanjutin kek gini ya jangan kebanyakan makan micin okey?
2026-06-16 13:56:18
20
To see more videos from user @saaaaan66, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV | James si bodyguard bermata dingin itu, perlahan menjadi alasan mengapa kamu tak lagi merasa aman di dalam rumahmu sendiri. Malam itu, suara heelsmu beradu lebih cepat di atas lantai marmer sepanjang koridor yang terlalu sunyi. Bukan karena terburu-buru, melainkan karena kamu sadar ada sepasang mata yang kembali mengikutimu. Tatapan yang akhir-akhir ini terasa terlalu setia untuk dianggap kebetulan. Dan kamu tahu, itu bukan tatapan seorang pengawal yang sedang memastikan keselamatan tuannya. Tatapan James terlalu lama, terlalu berbeda. Seolah disetiap sorot mata gelapnya, tersimpan sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan. Di tengah langkahmu yang mulai kehilangan ritme, kamu menoleh. James masih berdiri di ujung lorong dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Tubuhnya tetap tegap, diam, nyaris tak bergerak. Hanya matanya yang mengikuti setiap langkahmu. Dan sialnya, di sudut bibirnya tersungging senyum tipis—senyum yang tak pernah menjelaskan apa pun. Namun cukup untuk membuat jantungmu lupa bagaimana caranya berdetak dengan tenang. Napasmu tertahan sesaat saat tanganmu mencoba meraih gagang pintu kamar berlapis emas itu. Namun sebelum jemarimu sempat menyentuhnya, pintu itu lebih dulu terbuka. “Sayang?” Suara itu membuat bahumu tersentak. Edward Hartwell—CEO termuda Hartwell Group sekaligus tunanganmu, berdiri di hadapanmu. Tatapannya menyapu wajahmu yang dipenuhi kegugupan, seolah berusaha membaca sesuatu yang gagal kamu sembunyikan. Edward sedikit mengernyit. “Is everything alright, darling?” Tenggorokanmu mendadak terasa kering. Untuk pertama kalinya, kamu tak tahu harus menjawab apa. Tanpa sadar, kepalamu kembali menoleh ke ujung lorong tempat James berdiri beberapa saat lalu. Kosong. Hanya cahaya remang dan koridor yang kembali sunyi. Tidak ada sosok tinggi itu. Tidak ada tatapan yang sejak tadi membuat jantungmu kehilangan ritmenya. “Hey.” Kedua tangan Edward yang mendarat pelan di bahumu, membuatmu kembali tersadar. “Are you okay? You seem nervous. Did something happen?” Suaranya lembut, tatapannya penuh khawatir. Namun anehnya, yang masih memenuhi kepalamu justru sepasang mata gelap milik pria lain. Kamu memaksakan senyum kecil. “Nothing. I'm okay,” jawabmu, meski kamu tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya. ••• Langkah kecil mu yang pelan saat menuruni anak tangga pagi itu, membawamu keruang tamu. Aroma kopi dan koran pagi memenuhi udara, menciptakan suasana hangat yang jarang kamu temui di rumah sebesar ini. Di salah satu sofa, ayahmu duduk dengan postur yang masih tegap meski usianya tak lagi muda. Sementara di seberangnya, Edward Hartwell tampak tenang dalam balutan kemeja gelap yang belum sempat tertutup jas kerjanya. Senyummu perlahan mengembang. Seperti biasa, kamu berjalan menghampiri Edward. Sebelum duduk di sampingnya, kamu menyelipkan jemarimu pada lengannya dan menyandarkan kepalamu dengan manja. “Hari ini kamu jadi nemenin aku nail art, kan?” tanyamu penuh harap. Edward menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. “Hari ini aku ada urusan dengan Papa.” Jeda singkat itu terasa begitu tenang, hingga kalimat berikutnya keluar. “Biar James yang antar.” Nama itu jatuh nyata begitu saja di tengah percakapan pagi yang semula hangat. James. Nama yang akhir-akhir ini terasa terlalu sering memenuhi kepalamu. Senyum di bibirmu perlahan memudar, sementara jemarimu yang semula memeluk lengan Edward mendadak kehilangan tenaga. Dadamu yang tenang mendadak dipenuhi riak yang sulit kamu jelaskan. “James?” suaramu terdengar pelan, nyaris tak lebih dari bisikan. Seolah nama itu membawa ribuan keraguan yang tak sanggup kamu ungkapkan. Edward menoleh. “Kamu tidak keberatan, kan?” Namun sebelum kamu sempat menjawab— “Mobil sudah siap, Tuan.” Suara berat itu membuatmu menoleh. James berdiri tak jauh dari ruang tamu, masih dalam balutan setelan hitam yang sama seperti biasanya. Kedua tangannya terlipat rapi di belakang punggung, sementara tatapannya sempat jatuh padamu sebelum kembali mengarah pada Edward. +🗨️ #pov #james #cortis #jamescortis #fypage
POV | James si bodyguard bermata dingin itu, perlahan menjadi alasan mengapa kamu tak lagi merasa aman di dalam rumahmu sendiri. Malam itu, suara heelsmu beradu lebih cepat di atas lantai marmer sepanjang koridor yang terlalu sunyi. Bukan karena terburu-buru, melainkan karena kamu sadar ada sepasang mata yang kembali mengikutimu. Tatapan yang akhir-akhir ini terasa terlalu setia untuk dianggap kebetulan. Dan kamu tahu, itu bukan tatapan seorang pengawal yang sedang memastikan keselamatan tuannya. Tatapan James terlalu lama, terlalu berbeda. Seolah disetiap sorot mata gelapnya, tersimpan sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan. Di tengah langkahmu yang mulai kehilangan ritme, kamu menoleh. James masih berdiri di ujung lorong dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Tubuhnya tetap tegap, diam, nyaris tak bergerak. Hanya matanya yang mengikuti setiap langkahmu. Dan sialnya, di sudut bibirnya tersungging senyum tipis—senyum yang tak pernah menjelaskan apa pun. Namun cukup untuk membuat jantungmu lupa bagaimana caranya berdetak dengan tenang. Napasmu tertahan sesaat saat tanganmu mencoba meraih gagang pintu kamar berlapis emas itu. Namun sebelum jemarimu sempat menyentuhnya, pintu itu lebih dulu terbuka. “Sayang?” Suara itu membuat bahumu tersentak. Edward Hartwell—CEO termuda Hartwell Group sekaligus tunanganmu, berdiri di hadapanmu. Tatapannya menyapu wajahmu yang dipenuhi kegugupan, seolah berusaha membaca sesuatu yang gagal kamu sembunyikan. Edward sedikit mengernyit. “Is everything alright, darling?” Tenggorokanmu mendadak terasa kering. Untuk pertama kalinya, kamu tak tahu harus menjawab apa. Tanpa sadar, kepalamu kembali menoleh ke ujung lorong tempat James berdiri beberapa saat lalu. Kosong. Hanya cahaya remang dan koridor yang kembali sunyi. Tidak ada sosok tinggi itu. Tidak ada tatapan yang sejak tadi membuat jantungmu kehilangan ritmenya. “Hey.” Kedua tangan Edward yang mendarat pelan di bahumu, membuatmu kembali tersadar. “Are you okay? You seem nervous. Did something happen?” Suaranya lembut, tatapannya penuh khawatir. Namun anehnya, yang masih memenuhi kepalamu justru sepasang mata gelap milik pria lain. Kamu memaksakan senyum kecil. “Nothing. I'm okay,” jawabmu, meski kamu tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya. ••• Langkah kecil mu yang pelan saat menuruni anak tangga pagi itu, membawamu keruang tamu. Aroma kopi dan koran pagi memenuhi udara, menciptakan suasana hangat yang jarang kamu temui di rumah sebesar ini. Di salah satu sofa, ayahmu duduk dengan postur yang masih tegap meski usianya tak lagi muda. Sementara di seberangnya, Edward Hartwell tampak tenang dalam balutan kemeja gelap yang belum sempat tertutup jas kerjanya. Senyummu perlahan mengembang. Seperti biasa, kamu berjalan menghampiri Edward. Sebelum duduk di sampingnya, kamu menyelipkan jemarimu pada lengannya dan menyandarkan kepalamu dengan manja. “Hari ini kamu jadi nemenin aku nail art, kan?” tanyamu penuh harap. Edward menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. “Hari ini aku ada urusan dengan Papa.” Jeda singkat itu terasa begitu tenang, hingga kalimat berikutnya keluar. “Biar James yang antar.” Nama itu jatuh nyata begitu saja di tengah percakapan pagi yang semula hangat. James. Nama yang akhir-akhir ini terasa terlalu sering memenuhi kepalamu. Senyum di bibirmu perlahan memudar, sementara jemarimu yang semula memeluk lengan Edward mendadak kehilangan tenaga. Dadamu yang tenang mendadak dipenuhi riak yang sulit kamu jelaskan. “James?” suaramu terdengar pelan, nyaris tak lebih dari bisikan. Seolah nama itu membawa ribuan keraguan yang tak sanggup kamu ungkapkan. Edward menoleh. “Kamu tidak keberatan, kan?” Namun sebelum kamu sempat menjawab— “Mobil sudah siap, Tuan.” Suara berat itu membuatmu menoleh. James berdiri tak jauh dari ruang tamu, masih dalam balutan setelan hitam yang sama seperti biasanya. Kedua tangannya terlipat rapi di belakang punggung, sementara tatapannya sempat jatuh padamu sebelum kembali mengarah pada Edward. +🗨️ #pov #james #cortis #jamescortis #fypage

About