Chén Yì (辰逸) :
Kisahku bukan kisah yang mudah diceritakan. Ia lebih sering hidup sebagai diam daripada suara. Dari kejauhan, orang mungkin melihatnya biasa saja. Namun hanya aku yang tahu, ada perasaan yang setiap hari belajar menerima sesuatu yang tak pernah benar-benar dapat dimiliki.
Aku mencintai seseorang yang tak bisa kugenggam tangannya, bukan karena cintaku kurang kuat, tetapi karena hidup kadang menuliskan takdir dengan tinta yang tak bisa dihapus oleh keinginan. Sejak saat itu, aku belajar bahwa tidak semua perjalanan hati berakhir di pelaminan. Ada yang hanya berakhir menjadi doa yang terus pulang kepada langit.
Aku tidak sedang mencari cara untuk melupakan. Sebab melupakan adalah pekerjaan ingatan, sedangkan cintaku telah menjadi bagian dari jiwaku. Ia tak lagi meminta balasan, tak lagi menuntut kepastian. Ia hanya ingin tetap hidup sebagai alasan untuk mendoakan seseorang agar selalu baik-baik saja, meski kebahagiaannya mungkin bukan bersamaku.
Orang mengira yang paling menyakitkan dalam cinta adalah perpisahan. Bagiku, yang paling menyakitkan adalah ketika dua hati saling menemukan, tetapi waktu, keadaan, dan kehidupan memilih jalan yang berbeda. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena cinta tidak selalu diberi hak untuk menjadi milik.
Namun jika hidup memintaku mengulang semuanya dari awal, mungkin aku tetap akan memilih kisah yang sama. Sebab meski ia meninggalkan luka, luka itu mengajariku bahwa ada cinta yang tak diukur dari seberapa lama saling memiliki, melainkan dari seberapa tulus seseorang tetap menjaga nama yang dicintainya di dalam doa.
Maka jangan merasa iba pada kisahku. Sebab aku pernah mengenal seseorang yang membuat hatiku mengerti arti pulang, meski aku sendiri tak pernah benar-benar menjadi rumahnya.
2026-06-30 08:55:55