@abo1320000:

يوميات  الفنان عبدالله 🤍🤍
يوميات الفنان عبدالله 🤍🤍
Open In TikTok:
Region: SA
Tuesday 16 June 2026 05:53:17 GMT
8332
126
14
120

Music

Download

Comments

amalaziz569
Amal 👒 :
2026-06-17 21:15:40
0
emelyam1
مولي :
عجيب
2026-06-16 19:02:42
0
gfustduf
Ra :
الله يجبر خاطر لكل امل
2026-06-16 18:42:49
0
user27955772
أموله 🤍 :
لولا تسوا ماعطيتك خفوقي
2026-06-16 07:06:22
0
amaloo37
أمــ🤍ـــل :
🌚🌚🌚🌚🌚🌚 هذا تفتحون قلبه تلفون فيه ١٠٠ أمل قاعده😁😂
2026-06-16 09:46:34
0
ksa200819
ksa200 :
🌹🌹🌹
2026-06-16 15:35:59
0
a_a_6000
أمول :
❤️❤️❤️
2026-06-16 09:36:52
0
user27955772
أموله 🤍 :
💞💞💞💞💞💞💞
2026-06-16 07:06:07
0
user63674032084631
💞💞الغامدية :
❤️❤️❤️❤️
2026-06-16 06:47:12
0
m_iz33
الجنوبيه :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-06-16 05:59:26
0
alsarif487
💐💐امل الشريف 💐💐 :
🥰🥰
2026-06-20 20:53:17
0
To see more videos from user @abo1320000, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Keterangan lebih lanjut Tentang Ulah Para Monyet dan Babi Babi di Langit Langit Kekuasaan.... Ungkapan itu mencerminkan kemarahan mendalam masyarakat terhadap perilaku elite politik dan birokrat yang dianggap korup dan tidak bertanggung jawab. Intinya: pejabat yang korupsi, mencuri, atau memboroskan uang negara untuk pesta, gaya hidup mewah, dan proyek yang tidak jelas manfaatnya bagi rakyat. Ketika kas negara kosong karena utang membengkak dan korupsi merajalela, solusi yang diambil adalah menaikkan pajak secara agresif kepada rakyat kecil yang sudah susah. Ini siklus klasik **fiscal mismanagement**:  Korupsi menggerogoti APBN, proyek infrastruktur atau pengadaan barang sering mark-up, dana bantuan sosial diselewengkan, dan anggaran tak transparan.  Hasilnya, defisit anggaran membesar, pemerintah berutang dalam dan luar negeri. Bunga utang pun membebani, sehingga ketika cash flow ketat, yang kena imbas adalah kenaikan PPN, pajak penghasilan, cukai, bahkan pajak baru seperti pajak karbon atau digital.  Rakyat yang membayar pajak justru merasa “dipaksa bayar utang elite”. Otak waras? Banyak yang mempertanyakan prioritas. Di saat rakyat kesulitan ekonomi, inflasi naik, lapangan kerja terbatas, dan daya beli turun, elite masih terlihat glamor di media sosial atau acara-acara mewah.  Ini menciptakan distrust besar: mengapa rakyat harus disuruh “berkontribusi lebih” sementara koruptor jarang dihukum berat, hukum Mati, asetnya sulit dirampas, dan budaya “pesta” dengan uang publik terus berulang. Akibatnya, kepercayaan publik runtuh. Pajak yang seharusnya untuk pembangunan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan malah terasa seperti pemerasan.  Masyarakat menuntut transparansi anggaran yang ketat, penguatan KPK, audit forensik menyeluruh, dan hukuman tegas bagi koruptor. Hukum Mati. Tanpa reformasi struktural, siklus ini akan terus berputar: korupsi → utang → pajak tinggi → kemiskinan → ketidakpuasan. Solusi jangka panjang butuh political will: -Batasi anggaran protokoler dan -Perjalanan dinas mewah, di sertai Asisten Pribadi  -Prioritaskan belanja produktif, dan -Libatkan masyarakat dalam pengawasan -Rakyat bukan ATM negara.  Jika pemerintah terus “menggenjot pajak” tanpa membersihkan rumah sendiri,  amarah seperti ini akan semakin meluas dan berpotensi destabilisasi sosial. Total Chaos tanpa bisa di bendung lagi. #JUSTINFO #PEJABATBABI #PEJABATANJING #PEJABATBEDEBAH
Keterangan lebih lanjut Tentang Ulah Para Monyet dan Babi Babi di Langit Langit Kekuasaan.... Ungkapan itu mencerminkan kemarahan mendalam masyarakat terhadap perilaku elite politik dan birokrat yang dianggap korup dan tidak bertanggung jawab. Intinya: pejabat yang korupsi, mencuri, atau memboroskan uang negara untuk pesta, gaya hidup mewah, dan proyek yang tidak jelas manfaatnya bagi rakyat. Ketika kas negara kosong karena utang membengkak dan korupsi merajalela, solusi yang diambil adalah menaikkan pajak secara agresif kepada rakyat kecil yang sudah susah. Ini siklus klasik **fiscal mismanagement**:  Korupsi menggerogoti APBN, proyek infrastruktur atau pengadaan barang sering mark-up, dana bantuan sosial diselewengkan, dan anggaran tak transparan.  Hasilnya, defisit anggaran membesar, pemerintah berutang dalam dan luar negeri. Bunga utang pun membebani, sehingga ketika cash flow ketat, yang kena imbas adalah kenaikan PPN, pajak penghasilan, cukai, bahkan pajak baru seperti pajak karbon atau digital.  Rakyat yang membayar pajak justru merasa “dipaksa bayar utang elite”. Otak waras? Banyak yang mempertanyakan prioritas. Di saat rakyat kesulitan ekonomi, inflasi naik, lapangan kerja terbatas, dan daya beli turun, elite masih terlihat glamor di media sosial atau acara-acara mewah.  Ini menciptakan distrust besar: mengapa rakyat harus disuruh “berkontribusi lebih” sementara koruptor jarang dihukum berat, hukum Mati, asetnya sulit dirampas, dan budaya “pesta” dengan uang publik terus berulang. Akibatnya, kepercayaan publik runtuh. Pajak yang seharusnya untuk pembangunan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan malah terasa seperti pemerasan.  Masyarakat menuntut transparansi anggaran yang ketat, penguatan KPK, audit forensik menyeluruh, dan hukuman tegas bagi koruptor. Hukum Mati. Tanpa reformasi struktural, siklus ini akan terus berputar: korupsi → utang → pajak tinggi → kemiskinan → ketidakpuasan. Solusi jangka panjang butuh political will: -Batasi anggaran protokoler dan -Perjalanan dinas mewah, di sertai Asisten Pribadi  -Prioritaskan belanja produktif, dan -Libatkan masyarakat dalam pengawasan -Rakyat bukan ATM negara.  Jika pemerintah terus “menggenjot pajak” tanpa membersihkan rumah sendiri,  amarah seperti ini akan semakin meluas dan berpotensi destabilisasi sosial. Total Chaos tanpa bisa di bendung lagi. #JUSTINFO #PEJABATBABI #PEJABATANJING #PEJABATBEDEBAH

About