@lluv301: ๐๐๐ก๐๐ ๐ข๐๐ง ๐ | ๐๐๐ง๐ข๐ค๐๐ก ๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐จ๐ฌ๐๐ง๐ฆ๐ฎ. Sudah hampir dua bulan sejak pernikahan itu. Dan anehnya... Tidak ada yang berubah. Mingyu tetap Mingyu. Dingin. Formal. Menyebalkan. Sedangkan Y/N tetap Y/N. Keras kepala. Sulit diatur. Dan terlalu suka membalas semua perkataan Mingyu. --- Siang itu, kelas baru saja selesai. Y/N sedang membereskan buku-bukunya ketika seorang mahasiswa menghampiri. Namanya Jaehyun. Asisten ketua kelas. Ramah. Pintar. Dan yang paling penting... Sangat cerewet. "Y/N." "Hm?" "Mau pulang?" "Iya." "Aku antar sampai gerbang." "Nggak usah." "Ayolah." "Nggak." "Aku traktir es kopi." Y/N langsung berdiri. "Ayo." Jaehyun tertawa. "Dasar." Mereka berjalan keluar kelas sambil mengobrol. Tidak jauh. Hanya teman biasa. Tidak lebih. Setidaknya menurut Y/N. --- Dari lantai dua gedung fakultas... Seseorang melihat semuanya. Kim Mingyu. Tangannya masih memegang beberapa berkas. Tatapannya mengikuti dua orang yang berjalan menjauh. Lalu berhenti pada satu hal. Jaehyun terlalu banyak tersenyum. Dan Y/N terlihat nyaman berbicara dengannya. Entah kenapa. Mingyu tidak menyukai pemandangan itu. Sama sekali. --- Malamnya. Y/N pulang dengan membawa beberapa makanan. Begitu membuka pintu rumah... Dia langsung melihat Mingyu di meja makan. Membaca dokumen. Seperti biasa. "Masih kerja?" "Hm." "Aku beli makanan." "Hm." Y/N mendelik. Kadang dia ingin melempar sendal ke wajah pria itu. Semua jawabannya cuma: "Hm." "Hm." Dan "baik." Robot pun lebih ekspresif. Y/N duduk di hadapannya. Lalu mulai makan. Beberapa menit berlalu. Sunyi. Sampai akhirnyaโ "Siapa dia?" Y/N mengangkat kepala. "Hah?" "Mahasiswa yang bersama kamu tadi." Y/N berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu hampir tersedak. "Tunggu." Mingyu tetap membaca dokumennya. Tenang. Datar. Seolah pertanyaan itu tidak berarti apa-apa. "Kamu lihat?" "Saya dosen." "Itu bukan jawaban." "Itu jawaban." Y/N menatapnya curiga. "Oh." "Apa?" "Kamu kepo." Mingyu menutup dokumennya perlahan. Tatapannya langsung membuat Y/N diam. "Saya hanya bertanya." "Kenapa?" "Karena saya ingin tahu." "Kenapa ingin tahu?" Hening. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Laluโ "Karena dia terlalu dekat dengan istri saya." ... Ruangan mendadak sunyi. Y/N membeku. Mingyu juga baru menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Dan itu membuat suasana menjadi semakin aneh. "Istri?" Y/N mengulang pelan. Mingyu berdiri. Mengambil gelasnya. "Selesaikan makanmu." "Mingyu." "Saya masih ada pekerjaan." "Mingyu." Pria itu berhenti. "Apa?" Y/N menahan senyum. "Lucu." Tatapan Mingyu langsung berubah dingin. "Y/N." "Iya?" "Jangan membuat saya kesal." Lalu dia pergi ke ruang kerja. Sedangkan Y/N... Masih duduk di kursinya. Dengan senyum kecil yang sulit dijelaskan. Karena untuk pertama kalinya... Kim Mingyu terdengar seperti seorang suami. Bukan dosen. Bukan orang asing. Seorang suami. Dan itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. --- Di ruang kerja. Mingyu menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca apa pun. Pikirannya masih berada di meja makan. "Karena dia terlalu dekat dengan istri saya." Mingyu mengusap wajahnya pelan. Menyebalkan. Sangat menyebalkan. Karena dia mulai sadar satu hal. Dia memperhatikan Y/N terlalu banyak. Lebih banyak dari yang seharusnya. Dan itu bukan pertanda baik. Sama sekali tidak baik. ------- #creatorsearchinsights #fypindonesia #alternativeuniverse #povseventeen #mingyupov