Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@eltiotony5: Nike air force one 🙌 970784555📲 Envios a todo el Perú 🇵🇪 Contraentrega todo lima 🚊 #peru🇵🇪 #sneakers #fypシ゚ #viral #nike
El Tio Tony ✨
Open In TikTok:
Region: PE
Tuesday 16 June 2026 15:13:30 GMT
27532
1753
14
76
Music
Download
No Watermark .mp4 (
0.72MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
1.23MB
)
Watermark .mp4 (
0.72MB
)
Music .mp3
Comments
Davis :
como q air force 1 si tiene logo de nocta re fekaa
2026-07-11 16:19:32
4
07phlkv :
votame el precio acá nmss mano
2026-06-22 12:32:07
0
𝐁𝐫𝐲𝐱𝐧 𝐉𝐱𝐳 :
origen?
2026-07-09 01:21:44
0
Steven.⚽ :
hermano información.
2026-08-12 11:29:41
0
ES LA J' :
precio?
2026-06-16 20:18:03
0
mmmm :
que te kche pe
2026-07-10 21:43:55
0
Andyy :
2026-08-10 01:17:47
0
To see more videos from user @eltiotony5, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
Get ready to bust a move as Kulot, Jaze, and Argus take on the Brazilian dance challenge in their favorite Moose Gear and Moose Girl fits! 🧽💛 Black Combi Windbreaker Varsity Jacket CODE: JVW 609 16701 Light Brown Oversized Cooling Tee T-shirt CODE: TS-C OS 609 16514 Shop now! #moosegear #moosegirl #KidsFashion #ootdforkids #showtimekids
Dog fail. #funnyvideo #funnydog #usa #fyp #dogsoftiktok
Suku Sawang di Bangka Selatan Makin Langka, Regenerasi Terhenti dan Kini Tersisa Dua Keluarga Laut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Suku Sawang atau Suku Sekak, yang juga dikenal sebagai Suku Laut, di Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Dahulu, puluhan kepala keluarga Suku Sawang hidup berdampingan di kawasan pesisir tersebut, mengikuti arah angin dan musim sebagai bagian dari kehidupan mereka. Kini, jumlahnya semakin sedikit, sementara regenerasi masyarakat asli Suku Sawang di desa itu disebut telah berhenti. Jejak Suku Sawang yang semakin sedikit di Desa Kumbung menarik perhatian Bangkapos.com untuk menelusuri lebih jauh kehidupan komunitas tersebut. Perjalanan itu membawa kami meninggalkan pusat Kota Toboali, menyeberangi laut menuju Pulau Lepar, hingga masuk ke permukiman warga yang berada di ujung perjalanan. Bukan sekadar mencari tahu tentang keberadaan mereka, perjalanan ini menjadi upaya untuk melihat lebih dekat bagaimana sebuah komunitas yang dahulu terdiri atas puluhan kepala keluarga kini perlahan menyusut. Perjalanan menuju Desa Kumbung dari pusat Kota Toboali membutuhkan waktu hingga dua jam. Perjalanan dimulai menuju Pelabuhan Penyeberangan Sadai, kemudian dilanjutkan menggunakan speedboat menuju Pelabuhan Penutuk di Pulau Lepar selama sekitar lima hingga sepuluh menit, tergantung kondisi cuaca. Dari Penutuk, perjalanan kembali dilanjutkan sekitar 20 kilometer atau 30 menit menggunakan kendaraan roda dua, roda empat, maupun bus yang tersedia bagi penumpang. Sepanjang perjalanan menuju Desa Kumbung, perkebunan sawit, lada, dan karet silih berganti menghiasi sisi jalan. Sesekali, bongkahan batu terlihat di antara perbukitan dan hamparan hijau Pulau Lepar. Sebelum tiba di Kumbung, perjalanan melewati Desa Tanjung Sangkar yang lokasinya bersebelahan dan nyaris tak memiliki batas yang terlihat jelas. Batas kedua desa hanya ditandai jalan dan sebuah gapura. Memasuki Kumbung, suasana berubah menjadi lebih padat dengan rumah-rumah penduduk yang berdiri berdekatan. Jalan menuju permukiman semakin menyempit hingga hanya dapat dilalui satu mobil. Di tempat inilah jurnalis Bangkapos.com mencoba mendalami jejak mereka, dari kehidupan sehari-hari hingga cerita leluhur yang masih tersimpan dalam ingatan para tetua adat. Di sebuah rumah di Desa Kumbung, kami bertemu Matyani yang baru saja pulang dari berkebun. Kupluk hitam masih menempel di kepalanya, dipadukan dengan baju abu-abu bergaris, sementara sebilah parang lengkap dengan sarungnya masih terikat di pinggang. Setelah duduk, perlahan ia melepas parang tersebut dan meletakkannya di samping. Dari percakapan sederhana itulah cerita tentang Suku Sawang mulai mengalir. Matyani, yang merupakan tokoh adat Suku Sawang Desa Kumbung, menjadi orang yang menyimpan cerita tentang perjalanan panjang komunitasnya. Ia mengaku tidak lagi mengetahui secara pasti generasi ke berapa dirinya dalam garis keturunan Suku Sawang di Desa Kumbung. Namun, diperkirakan berada pada generasi kedelapan atau kesembilan. Sejak lahir pada era 1970-an, ia telah menetap di Kumbung dan menyaksikan perubahan komunitas Suku Sawang dari masa ke masa. “Kalau tidak salah, saya keturunan kedelapan atau kesembilan,” katanya kepada Bangkapos.com, Rabu (12/8/2026). Menurutnya, jejak Suku Sawang di Desa Kumbung telah ada sejak 1932. Sebelum menetap, leluhur mereka dikenal sebagai masyarakat yang hidup berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya mengikuti musim dan kondisi laut. Cerita yang diwariskan para tetua adat menyebut perjalanan mereka bermula dari kawasan perairan Riau dan Kepulauan Riau-Lingga, sebelum akhirnya sampai ke Kepulauan Bangka Belitung. Perjalanan panjang itu membawa mereka ke sejumlah wilayah di Bangka Belitung. Dari Belinyu, Kabupaten Bangka, mereka kemudian berpindah ke Pulau Semujur dan sebagian menyebar hingga Pulau Pongok sebelum akhirnya menetap di Desa Kumbung.
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy