@imamalinet: في شهر الأحزان..استذكار عوائل شهـ،داء مدرسة الشجرة الطيّبة من مدينة ميناب الإيـ،ـرانية #على_خطى_الحسين #النجف_تحتضن_ميناب #ميناب_در_آغوش_نجف #Najaf4Minab

العتبة العلویة المقدسة
العتبة العلویة المقدسة
Open In TikTok:
Region: IQ
Wednesday 17 June 2026 21:35:06 GMT
25377
4290
54
26

Music

Download

Comments

9_c5c_
صادق علاوي :
الله يصبرهم ويصبرنا وياهم
2026-06-18 20:32:45
1
zhr.ui0
أمـلـي بـالله 🤍 :
2026-06-18 12:21:51
1
k.a.d.r80
K A D R :
ساعد الله قلوبكم
2026-06-20 11:46:56
0
dymicogdn4sa
dymicogdn4sa :
يعينهم الله يصبرهم من صبر زينب عليها السلام
2026-06-19 18:16:50
0
dy5j57ff3417
صباح نوري زايردهام :
الله يبارك بيكم الله يصبرهم
2026-06-19 19:00:01
0
tahseen811
تحسين :
الله يصبر أهلهم
2026-06-18 21:47:14
0
user9492501
user949250 :
اللهي بالحسين وانتا اعلم
2026-06-18 04:59:35
1
miss_sarah1994
miss_sarah1994 :
يا عيوني🥺
2026-06-18 10:56:59
0
k.a.d.r80
K A D R :
لاحول ولا قوة الا بالله العلي العظيم
2026-06-20 11:46:38
0
h_r3689
h_r :
انا لله وانا اليه راجعون وحسبنا الله ونعم الوكيل
2026-06-18 07:05:15
2
n.a37432
N.A :
الله يرحمهم
2026-06-18 06:08:20
2
9._wz
ابو هارون :
لاحول ولاقوة الابالله العلي العظيم الله يرحمهم ويجعل مثواهم الجنه
2026-06-18 08:58:40
1
s.s.s.s509
𓆩𝙎𝙤𝙎𝙤𓆪 :
اللهم هون عليهم مصيبتهم يارب😥
2026-06-18 07:29:48
1
hadi8564
hadi :
ya hussain😭😭😭😭😭😭
2026-06-18 02:51:13
0
user5782217602144
حسین العراقی :
الله يرحمهم. واحسنتم لهذه المبادره
2026-06-18 10:46:01
0
user6580169067359
أللَّھُمَ ؏َـجل لِوَلیِڪ ألفرج :
إلى رحمة الله 💔 😭
2026-06-18 08:15:06
0
user56740628770716
حسن فنر :
الله يرحمهم
2026-06-18 20:15:10
0
user1245195932312
حب الحسين وسيلة السعداءِ :
الله يرحمهم 😢
2026-06-18 11:16:16
0
alaa1995_m
اميري علي ونعم الامير :
لاحول ولاقوة إلا بالله العلي العظيم 🥺
2026-06-20 10:09:49
0
user7913449825992
امي إلى جنات الخلد :
لاحول ولاقوة الابالله الله يصبرهم وآلله يرحم الشهداء
2026-06-18 21:57:34
0
mrtada64
مرتضى الشمري :
انا الله وانا اليه راجعون 😭😭
2026-06-17 22:13:53
0
To see more videos from user @imamalinet, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov: Masih terlalu pagi untuk bertamu. Kamu sudah berdiri tegak di depan pintu rumah Seonghyeon—penuh harap untuk segera di buka. Saat pintu terbuka, lelaki itu terperanjat. Ia mendongak, melirik langit yang masih setengah terang. “Udah berapa lagi kamu di sini?” tanyanya bingung. Kamu nyengir, kemudian menyodorkan rantang kosong. “Nggak lama, kok...paling 30 menit yang lalu.” Seonghyeon menggeleng tak percaya, tubuh bergeser untuk memberi jalan padamu. Untuk pertama kalinya kamu masuk ke dalam rumahnya, melihat beberapa foto terpajang rapi. Setelah mengambil makanan, kamu hendak pulang. Namun tiba-tiba rantang yang sudah berisi direbut Seonghyeon. “Aku anter.” Alhasil langkah kalian beriringan. Awalnya hening, tapi senyum terus mengembang pada bibir. “Kamu... kuliah?” Seonghyeon menoleh, kemudian mengangguk.  “Dimana?” tanyamu lagi. Alih-alih menjawab Seonghyeon malah menarikmu sehingga tubuh kamu membentur pelan padanya. “Kalau jalan lihat juga sama kendaraan.” Bibirmu maju—cemberut tapi bahagia karena perhatiannya masih sama seperti kala itu. Sejak hari itu, jarak yang pernah ia ciptakan kini tidak lagi jauh. Seonghyeon memang masih tak memberitahu alasannya pergi mendadak, namun tak kamu paksa. Setiap pagi saat membuang sampah di depan gang bersama teman-temanmu, selalu saja berpapasan dengan Seonghyeon yang baru pulang lari pagi. Di sore hari bukan kamu lagi yang sengaja lewat di depan rumahnya—melainkan dirinya yang mondar-mandir di sekitar rumah tempat kalian menginap. Teman-temanmu bahkan hafal dengan kebiasaan Seonghyeon. Tak jarang namamu selalu dipanggil ketika lelaki itu datang.  “Y/N, kayaknya dia suka sama lo deh,” celetuk salah satu temanmu tapi dengan cepat kamu tepis. “Nggak mungkin, gue sama dia tuh sahabat dari kecil.” Teman-temanmu hanya bisa saling pandang, mengangkat bahu. Hingga pada suatu hari, sebuah pesan dari Seonghyeon membuat ponsel bergetar singkat. Buru-buru kamu membukanya, “Sore ini main sama gue mau nggak?” Tanpa banyak berpikir kamu segera mengiyakan ajakannya. Waktu berlalu begitu cepat. Kamu kini sudah bersiap rapi. Sesekali kepalamu menoleh ke arah jalan, menanti Seonghyeon. Raungan motor perlahan mendekat, entah kenapa debaran dada terasa aneh. Apalagi melihat lelaki itu mengendarai motornya dengan jeans hitam serta jaket kulit cokelat. Rambutnya lebih tertata, dan saat ia berhenti tepat di sebelahmu aroma parfum maskulin menusuk lembut hidungmu. “Pake dulu helmnya,” ia menyodorkannya. Tapi ketika jemarimu hendak meraih helm, Seonghyeon sudah lebih dulu memasang di kepalamu. Tubuhmu sempat membeku, tapi langsung tersadar ketika bunyi klik terdengar. “Ayo,” ajaknya.  Malam itu angin bertiup sepoi-sepoi, lampu jalan memanjakan mata. Matamu menyapu sekeliling, tak banyak bicara karena fokusmu cuma satu. Kenapa debaran dada semakin tak karuan? Sesampainya kalian di sebuah cafe yang cukup ramai. Alunan musik di sudut ruangan, anak-anak muda duduk bergerombol dengan pembicaraan seru. Seonghyeon meraih tanganmu, lembut. Langkahmu dituntun menuju salah satu meja, dimana teman-temannya sudah menunggu. Semua orang menoleh menatap kalian berdua. Ada yang kebingungan, ada juga yang tersenyum penuh maksud.  “Cakep bener cewe lo, Sean,” celetuk salah satu temannya.  Seonghyeon tertawa kecil, membawa dirimu berdiri di antara mereka. “Sayang, ini teman-teman aku.” Sayang. Satu panggilan yang membuat jantungmu mencelos. Detak di dada? Jangan ditanya. Sudah berantakan. Perasaan aneh menjadi-jadi, ditambah raut wajah lelaki itu tak ada jejak rasa berdosa. Percakapan mengalir, berawal dari bertanya asalmu, sejak kapan pacaran, dan kenapa kamu mau bersama Seonghyeon. Kamu tak paham, tetapi mulutmu seolah mengikuti alur. Sesekali dia melirik, menyelipkan sehelai rambut ke belakang telingamu—sampai teman-temannya mengerang iri. Pukul 10 malam, kalian baru saja tiba di rumah. Seonghyeon ikut turun dari motor, berdiri di hadapanmu kemudian melepaskan helm penuh hati-hati. #pov #cortis #seonghyeon
Pov: Masih terlalu pagi untuk bertamu. Kamu sudah berdiri tegak di depan pintu rumah Seonghyeon—penuh harap untuk segera di buka. Saat pintu terbuka, lelaki itu terperanjat. Ia mendongak, melirik langit yang masih setengah terang. “Udah berapa lagi kamu di sini?” tanyanya bingung. Kamu nyengir, kemudian menyodorkan rantang kosong. “Nggak lama, kok...paling 30 menit yang lalu.” Seonghyeon menggeleng tak percaya, tubuh bergeser untuk memberi jalan padamu. Untuk pertama kalinya kamu masuk ke dalam rumahnya, melihat beberapa foto terpajang rapi. Setelah mengambil makanan, kamu hendak pulang. Namun tiba-tiba rantang yang sudah berisi direbut Seonghyeon. “Aku anter.” Alhasil langkah kalian beriringan. Awalnya hening, tapi senyum terus mengembang pada bibir. “Kamu... kuliah?” Seonghyeon menoleh, kemudian mengangguk. “Dimana?” tanyamu lagi. Alih-alih menjawab Seonghyeon malah menarikmu sehingga tubuh kamu membentur pelan padanya. “Kalau jalan lihat juga sama kendaraan.” Bibirmu maju—cemberut tapi bahagia karena perhatiannya masih sama seperti kala itu. Sejak hari itu, jarak yang pernah ia ciptakan kini tidak lagi jauh. Seonghyeon memang masih tak memberitahu alasannya pergi mendadak, namun tak kamu paksa. Setiap pagi saat membuang sampah di depan gang bersama teman-temanmu, selalu saja berpapasan dengan Seonghyeon yang baru pulang lari pagi. Di sore hari bukan kamu lagi yang sengaja lewat di depan rumahnya—melainkan dirinya yang mondar-mandir di sekitar rumah tempat kalian menginap. Teman-temanmu bahkan hafal dengan kebiasaan Seonghyeon. Tak jarang namamu selalu dipanggil ketika lelaki itu datang. “Y/N, kayaknya dia suka sama lo deh,” celetuk salah satu temanmu tapi dengan cepat kamu tepis. “Nggak mungkin, gue sama dia tuh sahabat dari kecil.” Teman-temanmu hanya bisa saling pandang, mengangkat bahu. Hingga pada suatu hari, sebuah pesan dari Seonghyeon membuat ponsel bergetar singkat. Buru-buru kamu membukanya, “Sore ini main sama gue mau nggak?” Tanpa banyak berpikir kamu segera mengiyakan ajakannya. Waktu berlalu begitu cepat. Kamu kini sudah bersiap rapi. Sesekali kepalamu menoleh ke arah jalan, menanti Seonghyeon. Raungan motor perlahan mendekat, entah kenapa debaran dada terasa aneh. Apalagi melihat lelaki itu mengendarai motornya dengan jeans hitam serta jaket kulit cokelat. Rambutnya lebih tertata, dan saat ia berhenti tepat di sebelahmu aroma parfum maskulin menusuk lembut hidungmu. “Pake dulu helmnya,” ia menyodorkannya. Tapi ketika jemarimu hendak meraih helm, Seonghyeon sudah lebih dulu memasang di kepalamu. Tubuhmu sempat membeku, tapi langsung tersadar ketika bunyi klik terdengar. “Ayo,” ajaknya. Malam itu angin bertiup sepoi-sepoi, lampu jalan memanjakan mata. Matamu menyapu sekeliling, tak banyak bicara karena fokusmu cuma satu. Kenapa debaran dada semakin tak karuan? Sesampainya kalian di sebuah cafe yang cukup ramai. Alunan musik di sudut ruangan, anak-anak muda duduk bergerombol dengan pembicaraan seru. Seonghyeon meraih tanganmu, lembut. Langkahmu dituntun menuju salah satu meja, dimana teman-temannya sudah menunggu. Semua orang menoleh menatap kalian berdua. Ada yang kebingungan, ada juga yang tersenyum penuh maksud. “Cakep bener cewe lo, Sean,” celetuk salah satu temannya. Seonghyeon tertawa kecil, membawa dirimu berdiri di antara mereka. “Sayang, ini teman-teman aku.” Sayang. Satu panggilan yang membuat jantungmu mencelos. Detak di dada? Jangan ditanya. Sudah berantakan. Perasaan aneh menjadi-jadi, ditambah raut wajah lelaki itu tak ada jejak rasa berdosa. Percakapan mengalir, berawal dari bertanya asalmu, sejak kapan pacaran, dan kenapa kamu mau bersama Seonghyeon. Kamu tak paham, tetapi mulutmu seolah mengikuti alur. Sesekali dia melirik, menyelipkan sehelai rambut ke belakang telingamu—sampai teman-temannya mengerang iri. Pukul 10 malam, kalian baru saja tiba di rumah. Seonghyeon ikut turun dari motor, berdiri di hadapanmu kemudian melepaskan helm penuh hati-hati. #pov #cortis #seonghyeon

About