@simi.ooo:

Simi
Simi
Open In TikTok:
Region: GB
Wednesday 17 June 2026 22:24:50 GMT
828
189
8
2

Music

Download

Comments

volvojatt2013
VOLVO JATT :
Wow
2026-06-17 22:53:23
0
kasmir1622
kasmir :
looking. nice
2026-06-17 23:18:58
0
user2213079462526
Singh deep :
❤️❤️❤️💕💕💕💘💘💘
2026-06-17 22:52:03
1
btownbadboy
Mann1 :
🔥🔥
2026-06-17 22:56:14
0
jayiqbal007007
jayiqbal007007 🇵🇰💘❤️❤️🇵🇰 :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-06-17 22:29:47
0
mandeepmanu295
⚡🇮🇳JÄTT•Mandeep🇦🇹⚡ :
🥰🥰🥰
2026-06-17 22:29:10
0
shahkhan175
Shah Khan :
❤️❤️❤️
2026-06-17 22:28:14
0
rajmeah
rajmeah :
💛🫶🏻💛🫶🏻💛
2026-06-17 22:58:12
0
To see more videos from user @simi.ooo, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Keterlaluan kau, Mas! Kenapa kau tak pulang saja ke rumahnya sekalian, ha?! Tidur sampai pagi di rumah si janda sialan itu!” Aku mengerjapkan mata. Melayangkan pandangan ke sekitar yang diselimuti keremangan cahaya lampu tidur. Tatapanku berhenti pada jam meja analog milik kakakku yang berpendar mengeluarkan cahaya lembut pada jarum jam dan angka-angkanya. Jarum jam dan menit pada benda itu sama-sama menunjuk pada angka satu. Lagi-lagi aku harus terbangun oleh suara keributan yang ditimbulkan Ayah dan Ibu. “Apa sih, Ras? Kebiasaan kau sembarangan nuduh! Aku ini ada rapat sama para pengurus partai lainnya sampai tengah malem. Aku Cuma kebetulan ketemu Rahma pas pulang.” “Prang,” suara benturan dari benda pecah belah yang beradu dengan lantai menyusul terdengar. “Sudah kubilang jangan kau sebut nama si janda laknat itu! Dasar kau banyak alasan! Kau tak ingat ha, tiga anakmu itu perempuan semua, Darman?! Kau tak takut karmamu jatuh pada anak-anakmu, ha?!” “Seharusnya kau ngaca Rasti! Siapa suruh kau hanya mampu melahirkan anak perempuan!” Lama berjeda. Tak kudengar jawaban keluar dari mulut Ibu. Tapi sepertinya ibuku mulai menangis. Dapat kutebak dari suara isakan perempuan yang perlahan mulai terdengar. Aku menggoyangkan tubuh Kak Abel yang terbaring di sampingku. Aku gelisah, aku tak tahu kenapa akhir-akhir ini Ayah dan Ibu sering ribut di tengah malam seperti ini.Kak Abel seketika membuka mata. Ia menatap tajam ke arahku dan berbisik, “ssstttt! Udah, tidur!” ia lalu kembali menutup matanya seolah-olah tengah tertidur pulas. Rupanya sejak tadi kakakku itu juga ikut mendengarkan suara keributan Ayah dan Ibu. “Anak itu titipan Tuhan, Mas! Aku tak mampu menentukan jenis kelaminnya!” Ibu kembali bicara dengan suara terisak. “Seharusnya kau mikir, kenapa Tuhan terus kasih kita anak perempuan! Itu biar kau sadar, biar kau tidak terus-terusan sakiti aku!” sambungnya lagi. “Lihat saja, Mas! Aku bersumpah karmamu pasti turun ke anak-anakmu! Semoga kau panjang umur agar kau dapat menyaksikan itu semua!” Terdengar suara langkah kaki orang berlari. Disusul debum daun pintu dibanting yang menggema ke seisi rumah. Mengagetkan para penghuninya. Termasuk kakakku yang juga sekejap membuka matanya, namun kemudian kembali tertidur. Atau mungkin tepatnya pura-pura tertidur. Aku mengikutinya. Aku memeluk erat si Melvin, boneka monyet kesayanganku, lalu mencoba memejamkan mata seperti yang dilakukan Kak Abel di sampingku. Pukul setengah enam pagi Kak Abel membangunkanku. Pasti Ibu masih marah. Tak kudengar suara Ibu yang mengomel tanpa henti tentang kebiasaan tidurku yang sulit untuk bangun seperti biasa. Ibu memang selalu jadi pendiam jika telah bertengkar dengan Ayah.  “Cepatlah kau makannya, Naya! Jangan banyak melamun! Kamu semua serba disiapin masih aja lelet! Lihat tuh kakakmu, Abel! Bangun paling pagi, siap-siap sendiri, ke sekolah sendiri. Lah kau? Bangun masih harus dibangunin, makan masih harus disiapin, berangkat pun masih harus kuantar,” omelnya. “Cepat, Naya! Lihat teman-temanmu sudah pada nunggu!” Aku ikut bergabung bersama teman-temanku menuju sekolah. Ibu berjalan di belakang bersama para orang tua siswa lain yang juga ikut mengantarkan anaknya. “Tiit tiiit tiiitttt,” dari belakang terdengar seseorang menirukan bunyi klakson. Kami semua menyingkir untuk memberikannya jalan. Seorang anak lelaki melintas dengan sepeda barunya. Itu Galang, anaknya Tante Rahma. Ayahnya meninggal karena kecelakaan satu tahun yang lalu. “Wiiih, sepeda baru, Lang?” tanya salah seorang ibu.
“Keterlaluan kau, Mas! Kenapa kau tak pulang saja ke rumahnya sekalian, ha?! Tidur sampai pagi di rumah si janda sialan itu!” Aku mengerjapkan mata. Melayangkan pandangan ke sekitar yang diselimuti keremangan cahaya lampu tidur. Tatapanku berhenti pada jam meja analog milik kakakku yang berpendar mengeluarkan cahaya lembut pada jarum jam dan angka-angkanya. Jarum jam dan menit pada benda itu sama-sama menunjuk pada angka satu. Lagi-lagi aku harus terbangun oleh suara keributan yang ditimbulkan Ayah dan Ibu. “Apa sih, Ras? Kebiasaan kau sembarangan nuduh! Aku ini ada rapat sama para pengurus partai lainnya sampai tengah malem. Aku Cuma kebetulan ketemu Rahma pas pulang.” “Prang,” suara benturan dari benda pecah belah yang beradu dengan lantai menyusul terdengar. “Sudah kubilang jangan kau sebut nama si janda laknat itu! Dasar kau banyak alasan! Kau tak ingat ha, tiga anakmu itu perempuan semua, Darman?! Kau tak takut karmamu jatuh pada anak-anakmu, ha?!” “Seharusnya kau ngaca Rasti! Siapa suruh kau hanya mampu melahirkan anak perempuan!” Lama berjeda. Tak kudengar jawaban keluar dari mulut Ibu. Tapi sepertinya ibuku mulai menangis. Dapat kutebak dari suara isakan perempuan yang perlahan mulai terdengar. Aku menggoyangkan tubuh Kak Abel yang terbaring di sampingku. Aku gelisah, aku tak tahu kenapa akhir-akhir ini Ayah dan Ibu sering ribut di tengah malam seperti ini.Kak Abel seketika membuka mata. Ia menatap tajam ke arahku dan berbisik, “ssstttt! Udah, tidur!” ia lalu kembali menutup matanya seolah-olah tengah tertidur pulas. Rupanya sejak tadi kakakku itu juga ikut mendengarkan suara keributan Ayah dan Ibu. “Anak itu titipan Tuhan, Mas! Aku tak mampu menentukan jenis kelaminnya!” Ibu kembali bicara dengan suara terisak. “Seharusnya kau mikir, kenapa Tuhan terus kasih kita anak perempuan! Itu biar kau sadar, biar kau tidak terus-terusan sakiti aku!” sambungnya lagi. “Lihat saja, Mas! Aku bersumpah karmamu pasti turun ke anak-anakmu! Semoga kau panjang umur agar kau dapat menyaksikan itu semua!” Terdengar suara langkah kaki orang berlari. Disusul debum daun pintu dibanting yang menggema ke seisi rumah. Mengagetkan para penghuninya. Termasuk kakakku yang juga sekejap membuka matanya, namun kemudian kembali tertidur. Atau mungkin tepatnya pura-pura tertidur. Aku mengikutinya. Aku memeluk erat si Melvin, boneka monyet kesayanganku, lalu mencoba memejamkan mata seperti yang dilakukan Kak Abel di sampingku. Pukul setengah enam pagi Kak Abel membangunkanku. Pasti Ibu masih marah. Tak kudengar suara Ibu yang mengomel tanpa henti tentang kebiasaan tidurku yang sulit untuk bangun seperti biasa. Ibu memang selalu jadi pendiam jika telah bertengkar dengan Ayah. “Cepatlah kau makannya, Naya! Jangan banyak melamun! Kamu semua serba disiapin masih aja lelet! Lihat tuh kakakmu, Abel! Bangun paling pagi, siap-siap sendiri, ke sekolah sendiri. Lah kau? Bangun masih harus dibangunin, makan masih harus disiapin, berangkat pun masih harus kuantar,” omelnya. “Cepat, Naya! Lihat teman-temanmu sudah pada nunggu!” Aku ikut bergabung bersama teman-temanku menuju sekolah. Ibu berjalan di belakang bersama para orang tua siswa lain yang juga ikut mengantarkan anaknya. “Tiit tiiit tiiitttt,” dari belakang terdengar seseorang menirukan bunyi klakson. Kami semua menyingkir untuk memberikannya jalan. Seorang anak lelaki melintas dengan sepeda barunya. Itu Galang, anaknya Tante Rahma. Ayahnya meninggal karena kecelakaan satu tahun yang lalu. “Wiiih, sepeda baru, Lang?” tanya salah seorang ibu. "Iya. dibelikan papanya Naya," jawab Galang sambil terus berlalu. Apa? Tunggu? Sepeda baru? Dibelikan ayahku? Padahal aku saja minta sepeda tak pernah dibelikan. ********** Baca selengkapnya di KBM-app: Judul: Mematahkan Sumpah Ibu Penulis: Luna Aira #brokenhome #kbmapp #kbmnovel #pelakor #ceritakeluarga

About