nasgor goreng :
saya juga setuju bahwa kerapian adalah hal yang penting. Saya tidak pernah mengatakan aturan rambut rapi itu salah. Justru saya percaya bahwa disiplin adalah bagian dari pendidikan.
Namun, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan. Jika tujuan dari aturan itu adalah menciptakan kerapian, apakah setiap cara untuk mencapai tujuan tersebut otomatis menjadi benar?
Menurut saya, di sinilah letak perbedaannya. Dalam filsafat, sering dikatakan bahwa tujuan yang baik tidak selalu membenarkan segala cara. Ketika rambut siswa dipotong secara acak atau dicobel sebagai hukuman, mungkin kerapian memang tercapai. Tetapi pada saat yang sama, rasa malu, hilangnya kepercayaan diri, bahkan potensi perundungan juga bisa muncul. Jika demikian, apakah pendidikan benar-benar telah mencapai tujuannya secara utuh?
Saya justru berpikir masih ada cara yang lebih bijaksana. Misalnya, sekolah dapat bekerja sama dengan tukang pangkas rambut sehingga siswa yang melanggar tetap dipotong rambutnya dengan rapi. Biayanya bisa ditanggung siswa atau melalui kesepakatan bersama jika memang memungkinkan. Dengan begitu, disiplin tetap ditegakkan tanpa mengurangi martabat siswa.
Saya tidak sedang memihak siswa yang melanggar ataupun menyalahkan guru. Saya hanya percaya bahwa pendidikan bukan sekadar mengubah penampilan seseorang, melainkan juga menjaga harga dirinya. Sebab seseorang mungkin akan lupa mengapa ia dipotong rambutnya, tetapi ia bisa mengingat seumur hidup bagaimana ia diperlakukan.
"Tujuan pendidikan bukan hanya membentuk manusia yang taat terhadap aturan, tetapi juga membentuk manusia yang tetap memiliki martabat. Sebab aturan mengajarkan disiplin, sedangkan cara menerapkannya mengajarkan kemanusiaan."
2026-07-05 04:02:44