@asma_katty_butt:

Asma Butt
Asma Butt
Open In TikTok:
Region: AE
Thursday 18 June 2026 15:29:52 GMT
4897
968
55
8

Music

Download

Comments

ahmadsheikh683
Ahmad sheikh :
pyari ho MashaAllah👍👍
2026-06-19 06:01:18
0
bilalrajput1107
bilalahmed5705 :
hai geo
2026-06-18 15:33:15
1
pakistani.hero68
💪Mr patlo ka fan Hun 💪 :
queen of TikTok AMNA but
2026-06-18 15:33:57
1
itx_saeed33
saeed Khan :
2026-06-18 17:08:12
0
user302526126
shehzad khan :
nice
2026-06-18 19:28:38
0
shakir.siddique6
Shakir Siddique :
2026-06-18 20:11:00
0
mehmoodchformsargodha
Sargodha :
nice
2026-06-18 15:36:18
1
sabirkk12
Sabir Sheikh :
💗💗💗🥰🥰🥰❤️❤️❤️nice
2026-06-18 15:31:49
0
umarshahid822
umarshahid822 :
so beautiful ❤️❤️❤️
2026-06-18 15:34:36
2
user1565284713421
usman :
Hyee
2026-06-18 20:09:57
0
maliksaleemkhan06
maliksaleemkhan❤🦅 :
Perty ❤️
2026-06-18 20:53:25
0
kamranofficial879
ch _Kamran 🇵🇰 🇵🇰 pakistan :
kash aap meri hoti
2026-06-18 15:38:10
0
zainzaini247
Ⓑⓡⓞⓚⓔⓝ ⓑⓞⓨ🥀💔 :
Yִ࣪ᦒ᩠ׂׅυ ִׂαׂׅׅꭉׂ໋ׅᧉ᩠֗ ࣭࣪ꭑׂׂ͓ׅᨮׂׅ݂ ƒִִׂ֗αׂׅׅvִ࣪ᦒ᩠ׂׅꭉׂ໋ׅ݂࣭݂ꪱִ໋ׅ࣪֗ȶׂׅᧉ᩠֗ ࣪℘ִֺֹֹֹ࠭ᧉ᩠֗ꭉִׂ໋໋ׅ࣪꯱ִָׂ࣪ᦒ᩠ׂׅ࣭֗ꬻׂׅ 😍😍
2026-06-18 15:32:17
1
user302526126
shehzad khan :
beautiful
2026-06-18 19:28:33
0
user5740808754231
ansari saab :
so cute
2026-06-18 17:15:13
0
muhammadasif30727
Muhammad Asif :
My dreem mummy
2026-06-19 00:20:08
0
naheem.noomi
Naheem Noomi :
off red is........❤️❤️❣️❣️❣️❣️
2026-06-18 15:42:54
1
bilalrajput1107
bilalahmed5705 :
kohi moja bi la jao
2026-06-18 15:33:41
1
muhammad.saleem9633
Muhammad saleem :
❤️❤️❤️
2026-06-18 15:35:01
1
user7153744056744malik
Malik :
🥰🥰🥰🥰🥰
2026-06-19 05:56:11
0
asad.khan.530
👑👑asad veer :
👍👍👍
2026-06-18 15:38:51
1
muhammadirfanmanz5
Muhammad Irfan Manzo :
♥️♥️♥️
2026-06-19 05:47:23
0
user12756101881753
suleman jan :
🥰🥰🥰
2026-06-18 15:31:29
0
To see more videos from user @asma_katty_butt, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dear The Sultan Hotel, dahulu orang-orang mengenalmu sebagai Hilton. Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Tiga puluh tahun adalah masa ketika seorang gadis muda yang baru lulus sekolah, dengan mimpi yang masih sederhana dan langkah yang masih gemetar, pertama kali melangkahkan kaki ke dalam gedung megahmu. Barangkali saat itu ia tak pernah membayangkan bahwa sebagian besar hidupnya akan ia titipkan di sana. Ia hanya seorang anak perempuan yang ingin membantu keluarga, mencari nafkah, dan bertahan di kerasnya ibu kota. Namun siapa sangka, dari lorong-lorongmu yang panjang, dari seragam yang ia kenakan setiap hari, dari tawa dan lelah yang ia bawa pulang setiap malam, lahirlah sebuah kehidupan yang kelak menghidupi banyak orang. Di dalam dinding-dindingmu, masa muda ibuku tinggal. Di sana ia belajar menjadi dewasa. Di sana ia menangis diam-diam ketika lelah, tertawa bersama teman-temannya, dan menemukan keluarga kedua yang bahkan hingga hari ini masih saling memanggil nama dengan hangat. Persahabatan yang mungkin tak akan pernah lahir seandainya takdir tak mempertemukan mereka di bawah atapmu. Rambut mereka kini mulai memutih, usia mereka tak lagi muda, namun kenangan mereka masih tinggal di setiap sudut yang pernah mereka lalui bersama. Dan aku, tumbuh bersama cerita tentangmu. Sejak kecil, kebahagiaanku sesederhana menemani ibu bekerja. Aku begitu menyukai aroma khasmu. Aroma room service yang bercampur dengan wangi dari kitchen, suara piring yang beradu, langkah kaki yang sibuk, suara tawa para karyawan yang terdengar seperti musik paling menenangkan. Teman-teman ibuku selalu menyapaku dengan hangat, menyodorkan makanan, bercanda seolah aku adalah bagian dari keluarga mereka. Bagiku, bekerja di The Sultan Hotel tampak seperti sesuatu yang menyenangkan. Tempat itu tidak pernah terasa asing. Tempat itu terasa seperti rumah. Aku masih ingat setiap kali melewati pintu karyawan, ada sebuah kolam besar yang selalu kupandangi dengan takjub. Waktu itu tubuhku masih kecil, sehingga kolam itu terlihat begitu luas. Aku menyebutnya
Dear The Sultan Hotel, dahulu orang-orang mengenalmu sebagai Hilton. Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Tiga puluh tahun adalah masa ketika seorang gadis muda yang baru lulus sekolah, dengan mimpi yang masih sederhana dan langkah yang masih gemetar, pertama kali melangkahkan kaki ke dalam gedung megahmu. Barangkali saat itu ia tak pernah membayangkan bahwa sebagian besar hidupnya akan ia titipkan di sana. Ia hanya seorang anak perempuan yang ingin membantu keluarga, mencari nafkah, dan bertahan di kerasnya ibu kota. Namun siapa sangka, dari lorong-lorongmu yang panjang, dari seragam yang ia kenakan setiap hari, dari tawa dan lelah yang ia bawa pulang setiap malam, lahirlah sebuah kehidupan yang kelak menghidupi banyak orang. Di dalam dinding-dindingmu, masa muda ibuku tinggal. Di sana ia belajar menjadi dewasa. Di sana ia menangis diam-diam ketika lelah, tertawa bersama teman-temannya, dan menemukan keluarga kedua yang bahkan hingga hari ini masih saling memanggil nama dengan hangat. Persahabatan yang mungkin tak akan pernah lahir seandainya takdir tak mempertemukan mereka di bawah atapmu. Rambut mereka kini mulai memutih, usia mereka tak lagi muda, namun kenangan mereka masih tinggal di setiap sudut yang pernah mereka lalui bersama. Dan aku, tumbuh bersama cerita tentangmu. Sejak kecil, kebahagiaanku sesederhana menemani ibu bekerja. Aku begitu menyukai aroma khasmu. Aroma room service yang bercampur dengan wangi dari kitchen, suara piring yang beradu, langkah kaki yang sibuk, suara tawa para karyawan yang terdengar seperti musik paling menenangkan. Teman-teman ibuku selalu menyapaku dengan hangat, menyodorkan makanan, bercanda seolah aku adalah bagian dari keluarga mereka. Bagiku, bekerja di The Sultan Hotel tampak seperti sesuatu yang menyenangkan. Tempat itu tidak pernah terasa asing. Tempat itu terasa seperti rumah. Aku masih ingat setiap kali melewati pintu karyawan, ada sebuah kolam besar yang selalu kupandangi dengan takjub. Waktu itu tubuhku masih kecil, sehingga kolam itu terlihat begitu luas. Aku menyebutnya "danau". Danau kecil yang selalu menyambut kedatanganku. Aku masih mengingat aroma lorong menuju locker, aroma yang mungkin biasa bagi orang lain, namun selalu membuatku merasa tenang. Aku masih mengingat bangunanmu yang mulai menua, tetapi tetap berdiri dengan anggun dan elegan, seperti seorang lelaki tua yang menyimpan ribuan cerita di dalam dirinya. Aku masih ingat family gathering ke Dufan yang selalu menjadi hari paling kutunggu setiap tahunnya. Aku masih ingat ketika teman-teman ibu tertawa bersama, saling mengejek, saling mengabadikan foto, seolah mereka lupa bahwa besok mereka harus kembali bekerja. Aku masih ingat saat sekolah, ketika ibu bertanya, "Kalau besar nanti mau jadi apa?" Dan tanpa berpikir panjang, aku selalu menjawab dengan bangga, "Aku mau kerja di The Sultan Hotel." Karena bagiku, The Sultan Hotel bukan sekadar hotel bintang lima pertama di Jakarta. Kau adalah rumah. Rumah bagi ribuan orang yang datang dari berbagai kota dengan mimpi yang sama: bertahan hidup. Rumah bagi orang-orang yang rela mengorbankan masa mudanya demi keluarganya. Rumah bagi para ayah yang pulang larut malam, bagi para ibu yang tetap tersenyum meski tubuhnya lelah, bagi mereka yang diam-diam menyimpan rindu pada anak-anak yang menunggu di rumah. Rumah bagi ribuan jiwa yang berjuang. Dan di antara ribuan jiwa itu, ada ibuku. Seorang gadis muda yang menjadikan masa mudanya sebagai persembahan untuk keluarganya. Seorang perempuan yang bahkan di usia yang masih sangat muda, telah menjadi tulang punggung bagi orang-orang yang dicintainya. Seorang ibu yang selama tiga puluh tahun, dengan setia, menukar tenaga dan waktunya dengan harapan agar kedua anaknya dapat hidup lebih baik. Berkatmu, ia berhasil mengantarkan aku dan adikku menjadi seorang sarjana. Berkatmu, dapur rumah kami tak pernah berhenti mengepul. (lanjutan di kolom komentar) #thesultanhoteljakarta #thesultanhotelandresidencejakarta

About