@jfmr22: #elbueyese #besorobado

fcomejia1974
fcomejia1974
Open In TikTok:
Region: MX
Thursday 18 June 2026 18:40:31 GMT
57527
19810
46
882

Music

Download

Comments

chiclelober777
CotonRandi (König's B-itch) :
MonsterRomance:
2026-06-18 21:41:28
106
srb191001
SRB191001 :
que acabo de ver?
2026-06-19 02:55:54
8
joss66502
Joss :
2026-06-18 21:21:44
35
53637mano
¥[LUISITO]¥🫩 :
jajaja 😂🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2026-06-18 21:16:08
41
marcoantonioespin453
???? :
2026-06-18 23:02:36
1
lic.mendoza81
🕯️👑🪬🖤Méndoza🖤🪬👑🕯️ :
2026-06-18 21:50:00
1
hanelbacchaebacch
Hanel Bacchae :
jajajajaa
2026-06-18 21:22:31
3
lucia...martinez8
📻Lucia😈 :
jajaja 😂😂
2026-06-18 21:10:11
1
unix6013
Unix :
xdddddd
2026-06-18 21:21:28
1
user9233788426622
clarita :
JAJAJAJA
2026-06-18 21:17:45
1
To see more videos from user @jfmr22, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Werner Hartenstein adalah seorang perwira angkatan laut Jerman selama Perang Dunia II yang memimpin kapal selam U-156. Ia menerima Salib Ksatria dari Salib Besi, namanya menjadi terkenal saat terlibat dalam Insiden Laconia pada September 1942, sebuah peristiwa tragis di Samudra Atlantik yang kemudian dikenang sebagai salah satu insiden kemanusiaan paling ironis dalam perang laut. Pada 12 September 1942, U-156 yang sedang berpatroli menemukan kapal penumpang Inggris RMS Laconia yang saat itu digunakan sebagai kapal angkut militer. Mengira kapal tersebut adalah target musuh biasa, Hartenstein memerintahkan penembakan torpedo dan berhasil melumpuhkannya. Namun setelah kapal mulai tenggelam, awak U-156 mendengar teriakan para korban dalam bahasa Italia. Saat itulah Hartenstein sadar bahwa Laconia ternyata membawa ribuan tawanan perang Italia, selain tentara Inggris, awak sipil, wanita, dan anak-anak. Menyadari bahwa banyak sekutu Jerman sendiri ikut menjadi korban, Hartenstein mengambil keputusan yang sangat jarang dilakukan komandan kapal selam pada masa itu. Ia menghentikan operasi tempur dan memulai penyelamatan besar-besaran. U-156 muncul ke permukaan, menaikkan para korban ke atas dek, membagikan makanan dan air, serta menarik sekoci-sekoci penuh penumpang. Hartenstein bahkan mengirim pesan radio terbuka kepada pihak Sekutu bahwa ia sedang menjalankan misi penyelamatan dan tidak akan menyerang kapal mana pun. Selama beberapa hari U-156 bersama kapal selam Jerman lain berubah menjadi armada penyelamat darurat di tengah Atlantik. Namun pada 16 September 1942, saat dek U-156 penuh oleh korban selamat dan bendera Palang Merah telah dipasang, sebuah pesawat pengebom Amerika tetap menyerang. Bom dijatuhkan ke arah kapal selam dan sekoci para korban, memaksa Hartenstein menyelam darurat dan meninggalkan banyak orang kembali terapung di lautan. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Insiden Laconia. Insiden tersebut menjadi pukulan besar bagi angkatan laut Jerman. Setelah kejadian itu, komando U-boat mengeluarkan perintah bahwa kapal selam Jerman tidak lagi diizinkan melakukan penyelamatan korban kapal musuh, karena tindakan kemanusiaan dianggap terlalu berbahaya. Dengan kata lain, usaha Werner Hartenstein untuk menolong justru mengakhiri tradisi belas kasihan dalam perang kapal selam Atlantik. Kapal selam U-156 sendiri adalah U-boat tipe IXC, kapal selam samudra jarak jauh yang dipersenjatai torpedo, meriam dek, dan senjata anti-pesawat. Di bawah komando Hartenstein, U-156 telah menenggelamkan banyak kapal Sekutu dan beroperasi hingga wilayah Karibia. Namun kapal ini paling diingat bukan karena kemenangan tempurnya, melainkan karena menjadi simbol tragedi Insiden Laconia. Werner Hartenstein tetap memimpin U-156 hingga 8 Maret 1943, ketika kapal selam itu ditemukan pesawat patroli Amerika di dekat Barbados dan dihancurkan bersama seluruh awaknya. Hartenstein gugur di laut bersama kapal yang membuat namanya dikenal dunia. Ia dikenang sebagai komandan U-boat yang di tengah kerasnya perang masih sempat menunjukkan sisi kemanusiaan, meski perang pada akhirnya tidak memberi tempat bagi belas kasihan. #WernerHartenstein #garmany #History #fouryou #fyp
Werner Hartenstein adalah seorang perwira angkatan laut Jerman selama Perang Dunia II yang memimpin kapal selam U-156. Ia menerima Salib Ksatria dari Salib Besi, namanya menjadi terkenal saat terlibat dalam Insiden Laconia pada September 1942, sebuah peristiwa tragis di Samudra Atlantik yang kemudian dikenang sebagai salah satu insiden kemanusiaan paling ironis dalam perang laut. Pada 12 September 1942, U-156 yang sedang berpatroli menemukan kapal penumpang Inggris RMS Laconia yang saat itu digunakan sebagai kapal angkut militer. Mengira kapal tersebut adalah target musuh biasa, Hartenstein memerintahkan penembakan torpedo dan berhasil melumpuhkannya. Namun setelah kapal mulai tenggelam, awak U-156 mendengar teriakan para korban dalam bahasa Italia. Saat itulah Hartenstein sadar bahwa Laconia ternyata membawa ribuan tawanan perang Italia, selain tentara Inggris, awak sipil, wanita, dan anak-anak. Menyadari bahwa banyak sekutu Jerman sendiri ikut menjadi korban, Hartenstein mengambil keputusan yang sangat jarang dilakukan komandan kapal selam pada masa itu. Ia menghentikan operasi tempur dan memulai penyelamatan besar-besaran. U-156 muncul ke permukaan, menaikkan para korban ke atas dek, membagikan makanan dan air, serta menarik sekoci-sekoci penuh penumpang. Hartenstein bahkan mengirim pesan radio terbuka kepada pihak Sekutu bahwa ia sedang menjalankan misi penyelamatan dan tidak akan menyerang kapal mana pun. Selama beberapa hari U-156 bersama kapal selam Jerman lain berubah menjadi armada penyelamat darurat di tengah Atlantik. Namun pada 16 September 1942, saat dek U-156 penuh oleh korban selamat dan bendera Palang Merah telah dipasang, sebuah pesawat pengebom Amerika tetap menyerang. Bom dijatuhkan ke arah kapal selam dan sekoci para korban, memaksa Hartenstein menyelam darurat dan meninggalkan banyak orang kembali terapung di lautan. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Insiden Laconia. Insiden tersebut menjadi pukulan besar bagi angkatan laut Jerman. Setelah kejadian itu, komando U-boat mengeluarkan perintah bahwa kapal selam Jerman tidak lagi diizinkan melakukan penyelamatan korban kapal musuh, karena tindakan kemanusiaan dianggap terlalu berbahaya. Dengan kata lain, usaha Werner Hartenstein untuk menolong justru mengakhiri tradisi belas kasihan dalam perang kapal selam Atlantik. Kapal selam U-156 sendiri adalah U-boat tipe IXC, kapal selam samudra jarak jauh yang dipersenjatai torpedo, meriam dek, dan senjata anti-pesawat. Di bawah komando Hartenstein, U-156 telah menenggelamkan banyak kapal Sekutu dan beroperasi hingga wilayah Karibia. Namun kapal ini paling diingat bukan karena kemenangan tempurnya, melainkan karena menjadi simbol tragedi Insiden Laconia. Werner Hartenstein tetap memimpin U-156 hingga 8 Maret 1943, ketika kapal selam itu ditemukan pesawat patroli Amerika di dekat Barbados dan dihancurkan bersama seluruh awaknya. Hartenstein gugur di laut bersama kapal yang membuat namanya dikenal dunia. Ia dikenang sebagai komandan U-boat yang di tengah kerasnya perang masih sempat menunjukkan sisi kemanusiaan, meski perang pada akhirnya tidak memberi tempat bagi belas kasihan. #WernerHartenstein #garmany #History #fouryou #fyp

About