@j.i939: الضلوعيه 2014 #الصامده#yyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy #.@الفنان احمد الغريب

زيــن ألـمـلالـي!🕴️
زيــن ألـمـلالـي!🕴️
Open In TikTok:
Region: IQ
Thursday 18 June 2026 18:58:53 GMT
3707
355
11
66

Music

Download

Comments

a0947895
👑🫶 :
الله حيهم
2026-07-09 10:24:17
1
the.live062
the live :
الله يرحمهم ويغفر للهم يارب
2026-07-10 12:58:02
1
jshsgehh4
ابن تكريت :
2026-06-19 07:34:43
1
0jklv
احـمدَ 𖣂 :
خوش زلم اهل الضلوعية
2026-06-20 21:48:26
1
hdoarohe.0
HDOA ROHE🤍🤍. :
يبوووه
2026-06-18 22:26:49
1
mu_.ta3
مُـطاع الخَيرو :
حي الله الابطال
2026-06-18 22:59:24
1
2am_32
🤍 :
حيهم ابطال
2026-07-02 11:10:05
1
user3935530443514
علي ابو يزن 💙 :
دزي خاص
2026-07-01 20:47:52
1
user8187485226148
همام 🫶🏻 ❤️‍🩹 :
🥰🥰🥰
2026-06-18 19:49:01
1
z.sd.26
🦋 :
🥰🥰
2026-06-19 11:44:12
1
user52820816662381
امي تاج راسي :
🥰🥰🥰🥰🥰
2026-07-09 19:52:59
1
To see more videos from user @j.i939, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Orang-orang bilang, jatuh cinta terjadi karena kebetulan. Kalau menurutku, jatuh cinta sama Gaon terjadi karena terlalu banyak momen kecil yang akhirnya terasa seperti rumah. Aku mengenalnya di kampus. Mahasiswa yang lebih sering bawa hardcase gitar daripada laptop, kaos band hampir tiap hari, rambut sedikit berantakan, dan tawa yang selalu berhasil bikin suasana hidup. Sejak itu, entah bagaimana, pulang selalu terasa ada di dekatnya. Kami berawal dari teman tongkrongan. Lalu teman pulang. Sampai akhirnya, tanpa sadar, jadi rumah untuk satu sama lain.
Orang-orang bilang, jatuh cinta terjadi karena kebetulan. Kalau menurutku, jatuh cinta sama Gaon terjadi karena terlalu banyak momen kecil yang akhirnya terasa seperti rumah. Aku mengenalnya di kampus. Mahasiswa yang lebih sering bawa hardcase gitar daripada laptop, kaos band hampir tiap hari, rambut sedikit berantakan, dan tawa yang selalu berhasil bikin suasana hidup. Sejak itu, entah bagaimana, pulang selalu terasa ada di dekatnya. Kami berawal dari teman tongkrongan. Lalu teman pulang. Sampai akhirnya, tanpa sadar, jadi rumah untuk satu sama lain. "Gue jemput." "Hujan." "Ada jas hujan." "Sok romantis banget." "Nggak. Gue cuma pengen pulang bareng lo." Gaon memang begitu. Nggak pandai merangkai kata, tapi selalu berhasil bikin kalimat sederhana terdengar seperti pengakuan cinta. Pacaran sama Gaon rasanya tenang. Yang sering kami perdebatkan justru hal-hal receh. "Kalau nikah nanti prasmanan apa buffet?" "Kita nikah apa buka hotel?" "Pelit." "Realistis." Atau... "Pelaminannya outdoor." "Kalau hujan?" "Kan ada tenda." "Kalau angin?" "Kok doanya jelek gitu?" Dia langsung ngakak sampai hampir keselek es teh, sementara aku cuma geleng-geleng kepala lihat tingkahnya. Kami terlalu sering membicarakan masa depan, sampai hal sekecil jumlah tamu undangan pun bisa jadi bahan debat. "Aku maunya intimate." "Sepupuku aja lima puluh orang." Gaon menghela napas. "Yaudah... nyewa gedung aja." Aku tertawa. Rasanya, waktu itu, masa depan memang sedekat itu. Seolah tinggal menunggu tanggal di kalender. Kami benar-benar yakin. Suatu sore, setelah menghadiri pernikahan senior kampus, kami duduk di taman kota. Lampu-lampu mulai menyala. Anak-anak kecil masih berlarian. Gaon memainkan jemariku pelan. "Aku seneng." "Kenapa?" "Kayaknya nanti kita juga bakal kayak gitu." "Hm?" "Nikah." Aku memandangnya. "Kamu yakin?" Dia mengangguk tanpa ragu. "Very." Kalau dipikir-pikir sekarang... Mungkin itu hari di mana harapanku tumbuh terlalu tinggi. Terlalu indah. Sampai aku lupa... Kadang hidup nggak pernah tanya kita sudah siap atau belum. Beberapa minggu kemudian, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Dia tetap datang ke tempat magangku sambil bawa roti favoritku. Tetap video call sebelum tidur. Tetap ngirim foto langit kalau menurutnya awannya cantik. Tetap bilang, "Jangan lupa makan." Tetap bilang, "I miss you." Tetap bilang, "See you tomorrow." Sampai suatu hari... "Besok jadi ketemu?" Chat-ku terkirim pukul tujuh malam. Centang dua. Tidak dibalas. Aku mengerutkan dahi. Biasanya paling lama lima menit. Setengah jam berlalu. Satu jam. Aku menelepon. Tidak diangkat. "Mungkin lagi latihan." Aku mencoba berpikir positif. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya... Tidak ada telepon sebelum tidur. Besok paginya aku datang ke kampus. Biasanya dia sudah menunggu di parkiran. Hari ini kosong. Aku mengirim pesan lagi. "Udah di kampus? Tidak ada balasan. Teman-temannya bilang dia izin pulang lebih cepat. Aneh. Aku menelepon lagi. Masih sama. Tidak diangkat. Hari berganti. Gaon masih ada. Masih kuliah. Masih latihan. Masih mengunggah story langit sore. Masih terlihat tertawa bersama teman-temannya. Tapi... Entah kenapa, setiap aku muncul... Dia selalu punya alasan untuk pergi. "Aku duluan ya." "Ada rapat." "Lagi buru-buru." "Nanti aja." Jawabannya pendek. Senyumnya tetap sama. Tapi matanya... Tidak pernah benar-benar melihat ke arahku lagi. Aku berdiri memandangi punggungnya yang semakin jauh. Di tanganku masih ada dua gelas kopi. Satu untukku. Satu lagi... Yang mulai terasa terlalu dingin untuk diberikan. Aku menggenggam ponsel, membuka ruang chat kami yang dulu penuh dengan rencana-rencana konyol tentang masa depan. Tentang gedung. Tentang jumlah tamu. Tentang pelaminan outdoor. Tentang hidup yang katanya akan kami jalani bersama. Layar itu tetap sunyi. Tak ada balasan, tak ada alasan. Hanya keheningan yang perlahan berubah menjadi luka. Cowok yang dulu selalu memilih berjalan di sampingku, kini bahkan memilih menjauh. Dan ternyata, diam seseorang bisa lebih menyakitkan daripada kata perpisahan. [to be continued] #kwakjiseokxdinaryheroes #alternativeuniverse #foryoupage

About