@tamtitriviu2025: Giày nữ phom đẹp ạ #tamtitriviu2025 #giay #giaynuxinh #giaynu

Tâm Tít Rìviu
Tâm Tít Rìviu
Open In TikTok:
Region: VN
Friday 19 June 2026 01:42:08 GMT
12
1
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @tamtitriviu2025, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov: Pagi hari semua orang disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Jalanan ramai akan kendaraan yang melintas, sementara di trotoar para pejalan kaki penuh semangat melangkah menggapai tujuan masing-masing. Di antara ramainya orang, langkahmu selaras bersama mereka. Dress kuning lembut dengan cardigan bermotif bunga melekat manis di tubuhmu, tas selempang besar, dan tak luput botol minum di tangan. Harusnya pandangan lurus saja ke depan, akan tetapi melihat sebuah cafe lucu yang baru saja buka tepi jalan mencuri perhatian. Kepalamu menoleh, langkah melambat tanpa sadar—memperhatikan tiap detail tempat itu. Tapi tiba-tiba, BRUKH—! Dari belakang kamu ditabrak pejalan kaki lainnya sampai-sampai tubuhmu tersungkur ke atas permukaan trotoar yang kasar. Ringisan kecil meluncur, tumblermu lecet, serta isi tas yang berhamburan keluar sehingga matamu membulat terkejut. Belum sempat bangkit, seorang pria berkemeja putih, celana cokelat lembut serta kacamata terpasang di wajah ikut membungkuk—tangannya memungut barangmu. Sejenak kamu terpaku. Wajahnya begitu tampan dan bunga seolah bermekaran di sekitarmu. “Lain kali hati-hati, mbak... Lengah sedikit langsung ditabrak,” katanya pelan. Alih-alih menjawab, kamu justru menatap bibirnya. Saat dia menyodorkan setumpuk berkas kamu segera meraihnya. “Mbak denger nggak apa yang saya bilang tadi?” Sekali lagi matamu memperhatikan bibirnya. Lelaki itu sadar, keningnya berkerut. “Kenapa bibir saya yang diperhatikan?” tanyanya kebingungan. “Mbak?” Buru-buru kamu bangkit. Tanganmu merogoh ke dalam tas, mencari sesuatu hingga akhirnya menemukan sebuah notes kecil dan pulpen. Raut wajah pria itu masih menunjukkan kebingungan, bahkan sedikit jengkel. Matanya terus mengikuti gerak-gerikmu sampai akhirnya kamu selesai menulis. Kertas itu kemudian kamu sodorkan kepadanya. Saya tuli, Mas. Terima kasih sudah membantu. Maaf juga saya terus memperhatikan bibirnya karena tadi lupa membawa alat bantu dengar. Membaca itu, lelaki yang sedari tadi menatapmu masam seketika berubah drastis. Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman lembut menyebabkan degup jantungmu seketika laju. Namun, sesuatu yang dilakukannya setelah itu jauh lebih mengejutkan. Tangannya terangkat. Jari-jarinya mulai bergerak membentuk bahasa isyarat yang begitu familiar bagimu. “Nama saya Jake.” Senyumnya semakin lebar. “Kamu?”  Jari-jarimu segera bergerak, membalas pertanyaannya dengan bahasa isyarat. “Y/N.” Jake mengangguk, seolah mengingat nama itu baik-baik. “Kamu sering lupa bawa alat bantu dengar?” Kamu terkekeh kecil sebelum menjawab. “Kadang. Tadi terburu-buru.” Tatapan Jake berpindah dari wajahmu ke kedua tangan yang terus bergerak. Kepalanya mengangguk paham lalu beralih menatap arloji pada pergelangan tangan. “Saya harus pergi, mbak... Sudah terlambat.” Sebelum lelaki itu berbalik badan, dengan cepat kamu meraih ujung kemejanya. Lalu dengan malu-malu kamu menyodorkan ponsel. Seakan paham, Jake tersenyum kemudian meraih benda pipih itu dan mulai bergelut dengan layar—memberi nomornya padamu. Tak lama, ponsel itu kembali disodorkan kepadamu. Kamu menatap layar, memastikan deretan angka yang baru saja tersimpan. Jake mulai berjalan menjauh dan akhirnya hilang di tengah hiruk-pikuknya kota. Jemari-jemarimu menggenggam erat ponsel dengan senyum yang tak pernah pudar. Keesokan paginya, kamu kembali berjalan di tengah kerumunan. Tepat di depan kafe baru matamu menangkap sosok familiar yang sedang berdiri memegang dua cup kopi. Jake. Begitu menyadari kehadiranmu, senyumnya langsung terukir dan segera menyodorkan satu cup padamu. “Buat saya?” tanyamu dengan wajah kebingungan. Jake mengangguk sambil terus memperhatikan jemarimu. “Kenapa?” Jake hanya menunjuk ke arah kafe, lalu tersenyum. Sejak hari itu, kejadian serupa terus berulang. Pagi berikutnya, Jake kembali berdiri di depan kafe. Hari setelahnya pun begitu. Kadang membawa kopi, kadang hanya berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana. ( lanjut di komentar ) #pov #jake #enhypen #fyp
Pov: Pagi hari semua orang disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Jalanan ramai akan kendaraan yang melintas, sementara di trotoar para pejalan kaki penuh semangat melangkah menggapai tujuan masing-masing. Di antara ramainya orang, langkahmu selaras bersama mereka. Dress kuning lembut dengan cardigan bermotif bunga melekat manis di tubuhmu, tas selempang besar, dan tak luput botol minum di tangan. Harusnya pandangan lurus saja ke depan, akan tetapi melihat sebuah cafe lucu yang baru saja buka tepi jalan mencuri perhatian. Kepalamu menoleh, langkah melambat tanpa sadar—memperhatikan tiap detail tempat itu. Tapi tiba-tiba, BRUKH—! Dari belakang kamu ditabrak pejalan kaki lainnya sampai-sampai tubuhmu tersungkur ke atas permukaan trotoar yang kasar. Ringisan kecil meluncur, tumblermu lecet, serta isi tas yang berhamburan keluar sehingga matamu membulat terkejut. Belum sempat bangkit, seorang pria berkemeja putih, celana cokelat lembut serta kacamata terpasang di wajah ikut membungkuk—tangannya memungut barangmu. Sejenak kamu terpaku. Wajahnya begitu tampan dan bunga seolah bermekaran di sekitarmu. “Lain kali hati-hati, mbak... Lengah sedikit langsung ditabrak,” katanya pelan. Alih-alih menjawab, kamu justru menatap bibirnya. Saat dia menyodorkan setumpuk berkas kamu segera meraihnya. “Mbak denger nggak apa yang saya bilang tadi?” Sekali lagi matamu memperhatikan bibirnya. Lelaki itu sadar, keningnya berkerut. “Kenapa bibir saya yang diperhatikan?” tanyanya kebingungan. “Mbak?” Buru-buru kamu bangkit. Tanganmu merogoh ke dalam tas, mencari sesuatu hingga akhirnya menemukan sebuah notes kecil dan pulpen. Raut wajah pria itu masih menunjukkan kebingungan, bahkan sedikit jengkel. Matanya terus mengikuti gerak-gerikmu sampai akhirnya kamu selesai menulis. Kertas itu kemudian kamu sodorkan kepadanya. Saya tuli, Mas. Terima kasih sudah membantu. Maaf juga saya terus memperhatikan bibirnya karena tadi lupa membawa alat bantu dengar. Membaca itu, lelaki yang sedari tadi menatapmu masam seketika berubah drastis. Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman lembut menyebabkan degup jantungmu seketika laju. Namun, sesuatu yang dilakukannya setelah itu jauh lebih mengejutkan. Tangannya terangkat. Jari-jarinya mulai bergerak membentuk bahasa isyarat yang begitu familiar bagimu. “Nama saya Jake.” Senyumnya semakin lebar. “Kamu?” Jari-jarimu segera bergerak, membalas pertanyaannya dengan bahasa isyarat. “Y/N.” Jake mengangguk, seolah mengingat nama itu baik-baik. “Kamu sering lupa bawa alat bantu dengar?” Kamu terkekeh kecil sebelum menjawab. “Kadang. Tadi terburu-buru.” Tatapan Jake berpindah dari wajahmu ke kedua tangan yang terus bergerak. Kepalanya mengangguk paham lalu beralih menatap arloji pada pergelangan tangan. “Saya harus pergi, mbak... Sudah terlambat.” Sebelum lelaki itu berbalik badan, dengan cepat kamu meraih ujung kemejanya. Lalu dengan malu-malu kamu menyodorkan ponsel. Seakan paham, Jake tersenyum kemudian meraih benda pipih itu dan mulai bergelut dengan layar—memberi nomornya padamu. Tak lama, ponsel itu kembali disodorkan kepadamu. Kamu menatap layar, memastikan deretan angka yang baru saja tersimpan. Jake mulai berjalan menjauh dan akhirnya hilang di tengah hiruk-pikuknya kota. Jemari-jemarimu menggenggam erat ponsel dengan senyum yang tak pernah pudar. Keesokan paginya, kamu kembali berjalan di tengah kerumunan. Tepat di depan kafe baru matamu menangkap sosok familiar yang sedang berdiri memegang dua cup kopi. Jake. Begitu menyadari kehadiranmu, senyumnya langsung terukir dan segera menyodorkan satu cup padamu. “Buat saya?” tanyamu dengan wajah kebingungan. Jake mengangguk sambil terus memperhatikan jemarimu. “Kenapa?” Jake hanya menunjuk ke arah kafe, lalu tersenyum. Sejak hari itu, kejadian serupa terus berulang. Pagi berikutnya, Jake kembali berdiri di depan kafe. Hari setelahnya pun begitu. Kadang membawa kopi, kadang hanya berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana. ( lanjut di komentar ) #pov #jake #enhypen #fyp

About