@sandy.rodrguez891: #diadelpadre

Sandy Rodríguez
Sandy Rodríguez
Open In TikTok:
Region: MX
Friday 19 June 2026 21:52:16 GMT
646644
5940
1005
9600

Music

Download

Comments

malaquias348
malaquias :
en las cantinas y tabledance no entra la lluvia ,todos para alla aaaaaa
2026-06-20 12:41:47
224
erick.nava36
Erick Nava :
es mejor q llueva a q nos regalen calcetines
2026-06-20 02:53:03
182
donramio1
DON RAMIO :
perfecto yo no necesito que me festejen con ver ami familia bien estoy más qué satisfecho ese es el mejor regalo
2026-06-20 07:18:55
78
rob.gonzalez13
Rob Gonzalez :
ni sabía que existía ese día , YO cuando quiero algo me lo compro y listo
2026-06-20 15:10:59
51
frutsiguerrero
frutsi :
Cuando mis hijas eran chicas me la pasé trabajando y ahora que son profesionistas mi gusto es estar tranquilo, sentado y viendo sus logros ese es mi mejor regalo. por eso trabaje mucho. Nota importante ellas nunca me dejan solo siempre están al pendiente de mi 🥰
2026-06-20 12:05:59
12
mihaelborgasho97
Luka Loris :
Aquí uno como padre no anda uno llorando porque nos regalen algo, con ver a la familia feliz y con buena Salud me doy por bien servido, claro y que no falte el pan en la mesa.
2026-06-20 21:03:20
5
abrazac2
Tapicería Miranda :
pues no necesitamos la aceptacion de nadie ni el reconocimiento ya q la mayoría somos chingones
2026-06-20 11:15:47
34
user1418704794399
Josue :
a poco si existe el día del padre??
2026-06-20 12:02:07
9
vicgomez78
victor 78 :
no mecesitamos de ese dia para saber que somos la columna vertebral de la humanidad
2026-06-20 22:44:32
7
alfredohernandez6962
Alfredo Hernández :
no importa yo festejo en casita con unas cumbias pico de gallo chicharrón y un guacamole chulo. y de tomar unas bien frías
2026-06-20 06:33:24
34
gaborarg
Gabo Rami-rez :
no necesito un día especial para festejar, con ver a mis hijas sanas y felices es más que suficiente y ese es mi mejor regalo
2026-06-20 14:48:18
20
r_3y_6
Ramos :
desde que me divorcie hace 7 meses ando festejando, apoco ya se llego el dia del padre, ojala vengan a traerme regalos jajajajajaj
2026-06-20 22:41:14
0
chico.krispis
chico krispis :
apoco se festeja el dia del padre ?
2026-06-20 03:18:03
3
leo.torres549
Leo Torres :
no cual lluvia a dar regalo orale
2026-06-20 10:25:32
10
gero.positivo
César Inn :
De que festejo hablan????
2026-06-20 07:26:06
6
gamaleon_16
gamaleon_16 :
también se suspende el dies de mayo por las horas de calor se recomienda tomar unas caguamas
2026-06-20 12:51:34
7
gasparinlopsan
Gasparin Lopsan :
Ya estamos acostumbrados a no festejar ese día, muchos lo trabajamos para seguir cubriendo los gastos de la casa, la esposa, los hijos y los gustos, al final siempre de lo que se da de gasto en la familia, de ahí mismo se compran los obsequios al papá, en pocas palabras nos autoregalamos 😂😂😂😂😂
2026-06-20 04:11:57
7
kamilo847494
kamilo847494 :
no inventen tanto esperar el día para esto 😁
2026-06-20 03:30:47
5
caballero.de.la.n3998
caballero de la noche :
Solos nos festejamos 😁😁😁
2026-06-20 12:57:00
18
jos.0142
José.014 :
también por mi casa llueve nos vemos proximo año feliz dia señores
2026-06-20 03:40:14
6
_japones_10
william diaz :
osea que ya me fregué con el dinero que me pidieron para festejar el dia del padre !!! ni dinero ni festejo !!! no no no dios mio no por favor ...
2026-06-20 05:35:39
6
raulriojas00
akiyoayakien :
noooo, mi regalo iba ASER el más chikito😅😅😅😅😓😓😓
2026-06-20 23:00:23
2
luffytarochoppa
luffy :
alguien sabe que motor trae la F150
2026-06-20 22:57:10
0
omarser11
Omar Ser :
Att. Claudia Sheinbaum
2026-06-20 13:15:51
1
rafaelhernandez4386
Rafael Hernandez4380 :
Excelente 😂
2026-06-20 02:21:20
4
To see more videos from user @sandy.rodrguez891, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Bumi memang nggak mau sekolah lagi.”   Kalimat itu membuatku terdiam.   Awalnya aku hanya kesal melihat kaki Bumi yang bengkak setelah mencari ubi sendirian di malam hari. Bocah itu bahkan harus menahan sakit karena terpeleset di ladang.   “Kenapa kamu cari ubi malam-malam? Kalau terjadi sesuatu gimana?”   Bukannya merasa bersalah, dia malah menjawab santai.   “Ini cuma keseleo, Om. Nggak parah.”   Sikap tenangnya justru membuatku makin kesal.   Aku membalut kakinya sambil terus mengomel. Leon, Ratu, dan Damar sampai menatapku heran. Mungkin mereka tidak pernah melihatku seperti ini. Biasanya aku tidak peduli pada urusan orang lain, tetapi entah kenapa aku selalu berbeda saat bersama Bumi.   Karena sudah terlalu malam, aku membawanya ke rumah kami. Tak lama kemudian Cak Karyo datang dan langsung menanyainya.   “Kok bisa sampai begini? Kamu ngapain malam-malam cari ubi?”   Jawaban Bumi membuat suasana mendadak sunyi.   “Bumi belum dibayar Pakde Jono, jadi Bumi nggak punya uang buat beli beras.”   Dadaku terasa sesak.   Di usia sekecil itu, dia harus memikirkan cara agar keluarganya bisa makan. Sementara banyak orang seusiaku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu.   Cak Karyo menasihatinya agar meminta bantuan jika kesulitan. Namun Bumi hanya menunduk.   “Bumi memang nggak mau sekolah lagi.”   “Kenapa?” tanyaku.   “Kamu diganggu teman-teman lagi?”   Dia menggeleng.   Aku meminta teman-temanku masuk ke kamar. Aku tahu Bumi tidak nyaman bercerita di depan banyak orang.   “Sekarang nggak ada siapa-siapa. Kamu bisa cerita.”   Namun dia hanya berkata pelan,   “Bumi mau pulang, Om.”   Akhirnya aku mengantarnya pulang.   Di perjalanan, aku terus mengingatkan bahwa keluar rumah malam-malam tanpa izin bisa membuat ibunya khawatir.   Lalu Bumi berkata sesuatu yang membuatku sulit bernapas.   “Ibu nggak tahu kalau berasnya habis, Om. Bumi nggak mau bikin ibu sedih.”   Aku terdiam.   Namun kalimat berikutnya jauh lebih menyakitkan.   “Keberadaan Bumi membuat ibu dan nenek malu. Bumi cuma anak yang dianggap membawa kesialan.”   Aku langsung menghentikan motor.   “Dengar, Bumi. Nggak ada anak yang terlahir dengan kesalahan.”   Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.   “Semua anak berharga. Jangan pernah bilang seperti itu lagi.”   “Tapi orang-orang sini bilang....”   “Jangan dengarkan kata orang, Bumi!”   Untuk pertama kalinya aku melihat matanya benar-benar goyah.   Lalu dia mengucapkan sesuatu yang membuatku semakin bingung.   “Papa nggak pernah tahu aku ada, Om.”   “Maksud kamu?”   Namun seperti biasa, Bumi tidak menjawab.   “Ayo pulang, Om. Nanti ibu nyariin.”   Sesampainya di rumah, aku menggendongnya sampai ke teras.   Rumah sederhana itu dipenuhi tanaman mawar yang membuat suasana malam terasa tenang.   “Di sini aja, Om. Bumi bisa jalan sendiri.”   Sebelum masuk, dia malah mengusirku.   “Sana pulang. Jangan sampai ketahuan tetangga.”   “Setidaknya bilang terima kasih dulu.”   Bumi tersenyum.   “Terima kasih, Om Dokter.”   Aku terpaku.   Itu pertama kalinya aku melihat senyum setulus itu. Senyum yang terasa begitu akrab, seolah pernah kulihat di masa lalu.   Namun keterpanaanku buyar ketika terdengar suara dari dalam rumah.   “Bumi, kamu di mana, Le?”   Itu suara ibunya.   Pintu rumah perlahan terbuka.   Seorang wanita keluar dengan wajah lelah dan jilbab sederhana.   Lalu saat melihatnya, duniaku seperti berhenti berputar.   “Ka... kamu... bagaimana bisa?” Bersambung...  Baca selengkapnya di KBM APP. Judul : Kotak Bekal dari Ibu Penulis : nayyukii_ #dramarumahtangga  #tiktokstory  #kisahinspiratif
“Bumi memang nggak mau sekolah lagi.” Kalimat itu membuatku terdiam. Awalnya aku hanya kesal melihat kaki Bumi yang bengkak setelah mencari ubi sendirian di malam hari. Bocah itu bahkan harus menahan sakit karena terpeleset di ladang. “Kenapa kamu cari ubi malam-malam? Kalau terjadi sesuatu gimana?” Bukannya merasa bersalah, dia malah menjawab santai. “Ini cuma keseleo, Om. Nggak parah.” Sikap tenangnya justru membuatku makin kesal. Aku membalut kakinya sambil terus mengomel. Leon, Ratu, dan Damar sampai menatapku heran. Mungkin mereka tidak pernah melihatku seperti ini. Biasanya aku tidak peduli pada urusan orang lain, tetapi entah kenapa aku selalu berbeda saat bersama Bumi. Karena sudah terlalu malam, aku membawanya ke rumah kami. Tak lama kemudian Cak Karyo datang dan langsung menanyainya. “Kok bisa sampai begini? Kamu ngapain malam-malam cari ubi?” Jawaban Bumi membuat suasana mendadak sunyi. “Bumi belum dibayar Pakde Jono, jadi Bumi nggak punya uang buat beli beras.” Dadaku terasa sesak. Di usia sekecil itu, dia harus memikirkan cara agar keluarganya bisa makan. Sementara banyak orang seusiaku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Cak Karyo menasihatinya agar meminta bantuan jika kesulitan. Namun Bumi hanya menunduk. “Bumi memang nggak mau sekolah lagi.” “Kenapa?” tanyaku. “Kamu diganggu teman-teman lagi?” Dia menggeleng. Aku meminta teman-temanku masuk ke kamar. Aku tahu Bumi tidak nyaman bercerita di depan banyak orang. “Sekarang nggak ada siapa-siapa. Kamu bisa cerita.” Namun dia hanya berkata pelan, “Bumi mau pulang, Om.” Akhirnya aku mengantarnya pulang. Di perjalanan, aku terus mengingatkan bahwa keluar rumah malam-malam tanpa izin bisa membuat ibunya khawatir. Lalu Bumi berkata sesuatu yang membuatku sulit bernapas. “Ibu nggak tahu kalau berasnya habis, Om. Bumi nggak mau bikin ibu sedih.” Aku terdiam. Namun kalimat berikutnya jauh lebih menyakitkan. “Keberadaan Bumi membuat ibu dan nenek malu. Bumi cuma anak yang dianggap membawa kesialan.” Aku langsung menghentikan motor. “Dengar, Bumi. Nggak ada anak yang terlahir dengan kesalahan.” Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Semua anak berharga. Jangan pernah bilang seperti itu lagi.” “Tapi orang-orang sini bilang....” “Jangan dengarkan kata orang, Bumi!” Untuk pertama kalinya aku melihat matanya benar-benar goyah. Lalu dia mengucapkan sesuatu yang membuatku semakin bingung. “Papa nggak pernah tahu aku ada, Om.” “Maksud kamu?” Namun seperti biasa, Bumi tidak menjawab. “Ayo pulang, Om. Nanti ibu nyariin.” Sesampainya di rumah, aku menggendongnya sampai ke teras. Rumah sederhana itu dipenuhi tanaman mawar yang membuat suasana malam terasa tenang. “Di sini aja, Om. Bumi bisa jalan sendiri.” Sebelum masuk, dia malah mengusirku. “Sana pulang. Jangan sampai ketahuan tetangga.” “Setidaknya bilang terima kasih dulu.” Bumi tersenyum. “Terima kasih, Om Dokter.” Aku terpaku. Itu pertama kalinya aku melihat senyum setulus itu. Senyum yang terasa begitu akrab, seolah pernah kulihat di masa lalu. Namun keterpanaanku buyar ketika terdengar suara dari dalam rumah. “Bumi, kamu di mana, Le?” Itu suara ibunya. Pintu rumah perlahan terbuka. Seorang wanita keluar dengan wajah lelah dan jilbab sederhana. Lalu saat melihatnya, duniaku seperti berhenti berputar. “Ka... kamu... bagaimana bisa?” Bersambung... Baca selengkapnya di KBM APP. Judul : Kotak Bekal dari Ibu Penulis : nayyukii_ #dramarumahtangga #tiktokstory #kisahinspiratif

About