@sosok_ejeh: Part76|| #POV EVILTWINS KKN udah selesai hampir dua minggu. Dan kalau dipikir-pikir...Banyak hal berubah. Pelan. Tapi berubah. Dulu kalau ada apa-apa...Lu bakal nyari Joshua. Sekarang? Kadang tanpa sadar...Yang pertama muncul di kepala lu malah Jeonghan. Dan s1alnya...Lu gak sadar itu. Sore itu rumah Eviltwins rame seperti biasa. Mama mereka lagi di dapur. Papa mereka belum pulang. Dan lu udah nongkrong di rumah itu dari habis kuliah. Awalnya niat cuma numpang ngerjain laporan. Tapi ya...Berakhir jadi rebahan. Seperti biasa. Ruang keluarga. TV nyala. Tapi gak ada yang nonton. Jeonghan duduk di lantai sambil nyender ke sofa. HP ada di tangannya. Entah lagi ngapain. Dan lu duduk di sebelah dia. Deket banget. Karena lagi ngeliatin sesuatu di layar HP dia. "Bentar." Kata Jeonghan. Jarinya gerak cepet. "Nah ini." Lu langsung maju sedikit. "Hah?" "Yang ini." "Lah kok jelek." "Bagus." "Jelek." "Bagus." "Jelek." "Yaudah mata lu yang jelek." "ANJIR." Jeonghan ngakak. Lu reflek nyubit lengannya. Jeonghan teriak lebay. "SAKIT WOI." "Rasain." "Kasar banget sama calon suami." "Dih." Obrolan berlanjut biasa aja. Santai. Natural. Kayak yang udah terjadi ratusan kali. Sampai bahkan...Saat pundak kalian saling nempel... Gak ada yang sadar. Karena udah terlalu biasa. Dan tepat saat itu...Pintu depan kebuka. Klik. Joshua pulang. Tas masih di bahu. Kemeja kuliah masih rapi. Awalnya dia cuma masuk seperti biasa. Sampai langkahnya berhenti, Karena di ruang keluarga... Ada lu Dan Jeonghan. Duduk berdempetan di lantai. Ngeliatin HP yang sama. Ketawa bareng. Ribut bareng. Kayak dunia cuma milik kalian berdua. Sunyi. Cuma sepersekian detik. Tapi cukup. Cukup buat sesuatu di dada Joshua terasa aneh. Lagi. "Shuaa." Lu langsung nengok. Ngeliat dia. Terus ngelambai santai. "Haii." Joshua senyum. Reflek. Kebiasaan. "Hm." Jeonghan juga nengok. "Oh." "Kok cepet?" "Tugas selesai." Jawab Joshua. Tenang. Normal. Seperti biasa. Lu balik lagi ke HP Jeonghan. "Gue tetep lebih suka yang tadi." "Selera lu buruk." "Mulut lu." "Hahaha." Dan itu...Harusnya gak jadi masalah. Harusnya. Tapi Joshua masih berdiri di sana. Beberapa detik. Ngeliatin. Karena biasanya...Kalau ada dia...Lu bakal otomatis nyamper. Ngajak ngobrol. Atau minimal pindah posisi. Tapi sekarang? Enggak. Lu tetap duduk di sebelah Jeonghan. Tetap ketawa sama Jeonghan. Tetap fokus ke Jeonghan. Seolah Joshua cuma...Orang yang baru lewat. "..." Joshua akhirnya jalan. Masih senyum. Masih tenang. Masih Joshua yang sama. "Gue ke atas dulu." Katanya. "Hm." Jawab lu santai. Bahkan gak nengok. Karena lagi debat sama Jeonghan soal sesuatu yang gak penting. Dan itu...Entah kenapa...Lebih sakit dari yang seharusnya. Pintu kamar Joshua nutup. Klik. Sunyi. Senyum di wajahnya hilang. Pelan. Banget. Tas dilempar ke kursi. Jaket ikut dilempar. Joshua berdiri di tengah kamar. Diam. Otaknya muter. Terus muter. Terus muter. Karena gambar tadi gak mau hilang. Lu yang duduk nempel sama Jeonghan. Lu yang ketawa sama Jeonghan. Lu yang bahkan gak sadar dia datang. Rahang Joshua mengeras. "...sejak kapan?" Gumamnya pelan. Sejak kapan lu senyaman itu sama Jeonghan? Sejak kapan? Joshua duduk di pinggir kasur. Kedua tangannya saling menggenggam. Kuat. Banget. Karena semakin dia pikir... Semakin banyak hal yang dia sadari. Lu makin sering nyebut Jeonghan. Makin sering bareng Jeonghan. Makin sering ketawa gara-gara Jeonghan. Dan yang paling parah...Lu keliatan bahagia. Bruk. Tinjunya menghantam tembok. Keras. Sampai buku-buku di rak bergetar sedikit. Joshua langsung narik napas. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tapi gak membantu. Karena untuk pertama kalinya...Muncul pikiran yang selama ini dia hindari. Bagaimana kalau...Dia benar-benar kalah? "..." Joshua nunduk. Tangannya masih mengepal. Dan semakin dia berusaha menepis pikiran itu...Semakin keras juga suara di kepalanya. Kalau lu milih Jeonghan...Gimana? Kalau suatu hari lu bilang iya ke Jeonghan...Gimana? Kalau Jeonghan yang akhirnya berdiri di samping lu...Gimana? DEG. Joshua langsung nutup mata. Rahangnya mengeras lagi. "...No." #Jeoghan #Joshua #seventeen #FYP