@metmoilamroi.0:

𝓟𝓮́ 𝓣𝓱𝓾̛ 🧸🎀
𝓟𝓮́ 𝓣𝓱𝓾̛ 🧸🎀
Open In TikTok:
Region: VN
Sunday 21 June 2026 03:40:35 GMT
139
28
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @metmoilamroi.0, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

War Kitchen 🔥  Beli alat dapur yang mahal dan estetik karena mikir bakal lebih sehat dan praktis? Eits, tunggu dulu! Di balik kemudahan teknologi modern, ternyata alat-alat jadul menyimpan rahasia sains yang jauh lebih unggul buat kesehatan dan rasa masakanmu!  ⚠️ PELAJARAN PENTING ⚠️   1. Air Fryer & Wajan Minyak Banyak senyawa volatil (pembawa aroma dan rasa) pada bumbu masakan bersifat lipofilik (hanya larut dalam minyak, bukan air). Saat digoreng dengan minyak, senyawa ini mengunci rasa ke dalam makanan. Air fryer murni menggunakan udara panas (metode konveksi) yang membuat kelembapan permukaan makanan menguap drastis, sehingga teksturnya cenderung lebih kering (dry) daripada renyah (crispy) berminyak. Selain itu, vitamin A, D, E, dan K membutuhkan lemak agar bisa diserap oleh tubuh. 2. Blender & Ulekan Batu Pisau blender yang berputar dengan kecepatan tinggi menghasilkan energi kinetik berupa panas akibat gesekan (friksi) dan memasukkan banyak oksigen ke dalam bumbu (oksidasi). Hal ini bisa merusak vitamin yang sensitif panas (seperti Vitamin C) dan mengubah profil rasa cabai menjadi agak pahit/langu. Sebaliknya, ulekan batu menggunakan metode tekanan (crushing), yang secara mekanis memecah dinding sel rempah-rempah untuk mengeluarkan minyak esensial (essential oils) tanpa merusak strukturnya karena panas. 3. Retrogradasi Pati: Rice Cooker & Kukusan Tradisional Nasi yang terus-menerus dipanaskan dalam mode warm pada rice cooker menjaga struktur pati (amilosa dan amilopektin) tetap dalam kondisi tergelatinisasi sempurna, sehingga sangat cepat dicerna tubuh dan menaikkan gula darah secara instan (indeks glikemik tinggi). Sebaliknya, proses mendinginkan nasi atau memasaknya dengan metode kukus tradisional memicu proses retrogradasi, di mana molekul pati menyusun kembali dirinya menjadi Pati Resisten (Type 3). Pati resisten ini tidak bisa dicerna di usus halus, berfungsi seperti serat, dan sangat bagus untuk menjaga stabilitas gula darah. 4. Spons & Kawat Baja Goresan kawat baja pada wajan anti-lengket berbahan PTFE (Teflon) akan merusak lapisan topcoat. Serpihan mikro teflon yang mengelupas berisiko masuk ke dalam makanan. Jika bagian dasar aluminium wajan sampai terekspos akibat digores, logam berat tersebut dapat bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang bersifat asam (seperti tomat atau cuka) dan memicu kontaminasi zat berbahaya bagi tubuh. 5. Spatula Silikon & Spatula Kayu Silikon bersertifikat food-grade (biasanya bersertifikasi FDA atau LFGB) memang aman hingga suhu 230°C. Namun, spatula silikon murah non-sertifikasi sering dicampur dengan bahan pengisi plastik (plastic fillers) yang bisa melepaskan senyawa kimia berbahaya saat terkena minyak panas tinggi. Sementara itu, kayu memiliki pori-pori kapiler alami yang justru menarik cairan bakteri ke dalam, lalu mengeringkannya hingga bakteri tersebut mati kekurangan hidrasi (sifat antimikroba alami kayu). #fakta #funfact #faktaunik #fact #semestafakta #SainsKuliner #FoodScience #TipsDapur #AlatMasak
War Kitchen 🔥 Beli alat dapur yang mahal dan estetik karena mikir bakal lebih sehat dan praktis? Eits, tunggu dulu! Di balik kemudahan teknologi modern, ternyata alat-alat jadul menyimpan rahasia sains yang jauh lebih unggul buat kesehatan dan rasa masakanmu! ⚠️ PELAJARAN PENTING ⚠️ 1. Air Fryer & Wajan Minyak Banyak senyawa volatil (pembawa aroma dan rasa) pada bumbu masakan bersifat lipofilik (hanya larut dalam minyak, bukan air). Saat digoreng dengan minyak, senyawa ini mengunci rasa ke dalam makanan. Air fryer murni menggunakan udara panas (metode konveksi) yang membuat kelembapan permukaan makanan menguap drastis, sehingga teksturnya cenderung lebih kering (dry) daripada renyah (crispy) berminyak. Selain itu, vitamin A, D, E, dan K membutuhkan lemak agar bisa diserap oleh tubuh. 2. Blender & Ulekan Batu Pisau blender yang berputar dengan kecepatan tinggi menghasilkan energi kinetik berupa panas akibat gesekan (friksi) dan memasukkan banyak oksigen ke dalam bumbu (oksidasi). Hal ini bisa merusak vitamin yang sensitif panas (seperti Vitamin C) dan mengubah profil rasa cabai menjadi agak pahit/langu. Sebaliknya, ulekan batu menggunakan metode tekanan (crushing), yang secara mekanis memecah dinding sel rempah-rempah untuk mengeluarkan minyak esensial (essential oils) tanpa merusak strukturnya karena panas. 3. Retrogradasi Pati: Rice Cooker & Kukusan Tradisional Nasi yang terus-menerus dipanaskan dalam mode warm pada rice cooker menjaga struktur pati (amilosa dan amilopektin) tetap dalam kondisi tergelatinisasi sempurna, sehingga sangat cepat dicerna tubuh dan menaikkan gula darah secara instan (indeks glikemik tinggi). Sebaliknya, proses mendinginkan nasi atau memasaknya dengan metode kukus tradisional memicu proses retrogradasi, di mana molekul pati menyusun kembali dirinya menjadi Pati Resisten (Type 3). Pati resisten ini tidak bisa dicerna di usus halus, berfungsi seperti serat, dan sangat bagus untuk menjaga stabilitas gula darah. 4. Spons & Kawat Baja Goresan kawat baja pada wajan anti-lengket berbahan PTFE (Teflon) akan merusak lapisan topcoat. Serpihan mikro teflon yang mengelupas berisiko masuk ke dalam makanan. Jika bagian dasar aluminium wajan sampai terekspos akibat digores, logam berat tersebut dapat bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang bersifat asam (seperti tomat atau cuka) dan memicu kontaminasi zat berbahaya bagi tubuh. 5. Spatula Silikon & Spatula Kayu Silikon bersertifikat food-grade (biasanya bersertifikasi FDA atau LFGB) memang aman hingga suhu 230°C. Namun, spatula silikon murah non-sertifikasi sering dicampur dengan bahan pengisi plastik (plastic fillers) yang bisa melepaskan senyawa kimia berbahaya saat terkena minyak panas tinggi. Sementara itu, kayu memiliki pori-pori kapiler alami yang justru menarik cairan bakteri ke dalam, lalu mengeringkannya hingga bakteri tersebut mati kekurangan hidrasi (sifat antimikroba alami kayu). #fakta #funfact #faktaunik #fact #semestafakta #SainsKuliner #FoodScience #TipsDapur #AlatMasak

About