@senga.okwepicha: #solomd #trending #fivepalmjumeirah #sengaokwepicha #fyppppppppppppppppppppppppシ゚viral

MAMA_KABOOZI256
MAMA_KABOOZI256
Open In TikTok:
Region: UG
Sunday 21 June 2026 16:06:41 GMT
943
30
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @senga.okwepicha, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sultrapedia.com — Kebijakan penarikan retribusi parkir terhadap kendaraan yang mengantre pengisian bahan bakar minyak (BBM) solar di SPBU di Kota Kendari menuai protes dari masyarakat. Diketahui kebijakan tersebut baru terjadi di Kota Kendari, di Bawah kepemimpinan Siska Karin Imran sebagai wali kota. Sejumlah pengantre mengaku keberatan karena tetap diminta membayar parkir meski hanya mengantre untuk mengisi BBM, bukan memarkir kendaraan untuk ditinggalkan. Penerapan retribusi di bahu jalan tersebut dinilai tidak adil serta terkesan memanfaatkan situasi kelangkaan BBM yang saat ini dialami para pengemudi. ​Pungutan tersebut memberlakukan tarif berbeda berdasarkan ukuran kendaraan, yakni sebesar Rp5.000 untuk mobil kecil dan Rp10.000 untuk mobil berukuran besar. ​Salah seorang pengantri solar di SPBU, Rudi, mengungkapkan rasa keberatannya atas penarikan retribusi yang dinilai tebang pilih.  Bahkan, Ia mempertanyakan alasan Pemerintah Kota dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Kendari yang hanya menyasar pengantri solar, sementara kendaraan pengantri BBM jenis Pertalite yang juga menggunakan bahu jalan tidak dikenakan pungutan serupa. ​
Sultrapedia.com — Kebijakan penarikan retribusi parkir terhadap kendaraan yang mengantre pengisian bahan bakar minyak (BBM) solar di SPBU di Kota Kendari menuai protes dari masyarakat. Diketahui kebijakan tersebut baru terjadi di Kota Kendari, di Bawah kepemimpinan Siska Karin Imran sebagai wali kota. Sejumlah pengantre mengaku keberatan karena tetap diminta membayar parkir meski hanya mengantre untuk mengisi BBM, bukan memarkir kendaraan untuk ditinggalkan. Penerapan retribusi di bahu jalan tersebut dinilai tidak adil serta terkesan memanfaatkan situasi kelangkaan BBM yang saat ini dialami para pengemudi. ​Pungutan tersebut memberlakukan tarif berbeda berdasarkan ukuran kendaraan, yakni sebesar Rp5.000 untuk mobil kecil dan Rp10.000 untuk mobil berukuran besar. ​Salah seorang pengantri solar di SPBU, Rudi, mengungkapkan rasa keberatannya atas penarikan retribusi yang dinilai tebang pilih. Bahkan, Ia mempertanyakan alasan Pemerintah Kota dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Kendari yang hanya menyasar pengantri solar, sementara kendaraan pengantri BBM jenis Pertalite yang juga menggunakan bahu jalan tidak dikenakan pungutan serupa. ​"Kami tidak mempermasalahkan jika memang itu untuk pendapatan Pemda, tapi kenapa hanya pengantri solar yang dikenai tarif biaya retribusi sementara pengantri Pertalite baik motor dan mobil tidak dikenakan biaya retribusi," Ujar Rudi saat dikonfirmasi media ini melalui sambungan telepon WhatsApp. "Kami justru mendukung kalau itu memang untuk pemda, tapi ini kan kita sedang mengantri BBM bukan menitipkan kendaraan, kalau seperti di Swalayan kan wajar retribusinya jelas untuk jasa menitipkan kendaraan sementara di SPBU itu kita mengantri," sambung Rudi. ​Rudi menambahkan bahwa keberadaan para sopir yang mengular hingga ke bahu jalan di sekitar SPBU murni disebabkan oleh keterbatasan pasokan solar, bukan karena kesengajaan para pengemudi untuk memarkirkan kendaraan mereka. ​"Dan mengantri BBM juga ini bukan kemauan kami, kami mengantri karena kelangkaan BBM itu sendiri. Kalau memang harus dikenakan tarif retribusi, pihak Dishub harus adil artinya pengantri pertalite juga yang keluar di bahu Jalan harus dikenakan retribusi," tegasnya. ​Sorotan masyarakat ini menyasar pada efektivitas serta keadilan regulasi penarikan retribusi daerah di lapangan. Penarikan biaya di tengah situasi kelangkaan bahan bakar dinilai kian menambah beban para sopir yang sudah harus menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan solar. ​Guna berimbangnya pemberitaan, media ini melakukan upaya konfirmasi kepada pihak dinas terlait. Saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp, Kepala Dinas Perhubungan Kota Kendari, Paminuddin, meminta media ini untuk menemuinya secara langsung di kantor guna memberikan konfirmasi terkait keluhan para sopir tersebut. ​"Nanti besok ya. Konfirmasi dikator, selesai saya kerja bakti," ujar Paminuddin singkat. #sultra #viral #viralvideo #kendari #konsel

About