@ert.006: #منقول

ملكه الشهري
ملكه الشهري
Open In TikTok:
Region: SA
Wednesday 24 June 2026 14:42:04 GMT
131745
1070
12
395

Music

Download

Comments

lshrqy_lgrby
الشرقي الغربي :
يوووووووووووووه قديمه
2026-06-25 13:37:15
0
alali0966
َ :
ابداع
2026-06-25 14:52:16
0
ali.abo.torki
ابوتركي :
ممتاز والله 👍👍👍👍👍👍
2026-06-25 14:31:03
0
fatiaslimaan
SwiftKey :
على كذا ما صار فيه تهويه للجرح😳
2026-06-25 00:25:49
0
oumhajaarr
oumhajar :
🥰🥰🥰
2026-06-25 10:42:17
0
h79571
h :
😳😳😳
2026-06-25 03:52:59
0
user7987929532168
user7987929532168 :
❤️❤️❤️
2026-06-25 02:46:06
0
fxhbi4
user2075095942919 :
😳😳😳
2026-06-25 00:29:15
0
abassalbaaj3
AbassAlbaaj :
🥰🥰🥰
2026-06-25 13:46:18
0
k.m.k546
K.M.K :
😂😂😂
2026-06-24 23:38:41
0
babo.424
امــــــــيرة ابـــــــوهــــا :
🥰🥰🥰
2026-06-24 18:44:53
0
tisam.tisam
.maryamm :
👍👍👍👍
2026-06-25 14:18:29
0
To see more videos from user @ert.006, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV | James si bodyguard bermata dingin itu, perlahan menjadi alasan mengapa kamu tak lagi merasa aman di dalam rumahmu sendiri. Malam itu, suara heelsmu beradu lebih cepat di atas lantai marmer sepanjang koridor yang terlalu sunyi. Bukan karena terburu-buru, melainkan karena kamu sadar ada sepasang mata yang kembali mengikutimu. Tatapan yang akhir-akhir ini terasa terlalu setia untuk dianggap kebetulan. Dan kamu tahu, itu bukan tatapan seorang pengawal yang sedang memastikan keselamatan tuannya. Tatapan James terlalu lama, terlalu berbeda. Seolah disetiap sorot mata gelapnya, tersimpan sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan. Di tengah langkahmu yang mulai kehilangan ritme, kamu menoleh. James masih berdiri di ujung lorong dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Tubuhnya tetap tegap, diam, nyaris tak bergerak. Hanya matanya yang mengikuti setiap langkahmu. Dan sialnya, di sudut bibirnya tersungging senyum tipis—senyum yang tak pernah menjelaskan apa pun. Namun cukup untuk membuat jantungmu lupa bagaimana caranya berdetak dengan tenang. Napasmu tertahan sesaat saat tanganmu mencoba meraih gagang pintu kamar berlapis emas itu. Namun sebelum jemarimu sempat menyentuhnya, pintu itu lebih dulu terbuka. “Sayang?” Suara itu membuat bahumu tersentak. Edward Hartwell—CEO termuda Hartwell Group sekaligus tunanganmu, berdiri di hadapanmu. Tatapannya menyapu wajahmu yang dipenuhi kegugupan, seolah berusaha membaca sesuatu yang gagal kamu sembunyikan. Edward sedikit mengernyit. “Is everything alright, darling?” Tenggorokanmu mendadak terasa kering. Untuk pertama kalinya, kamu tak tahu harus menjawab apa. Tanpa sadar, kepalamu kembali menoleh ke ujung lorong tempat James berdiri beberapa saat lalu. Kosong. Hanya cahaya remang dan koridor yang kembali sunyi. Tidak ada sosok tinggi itu. Tidak ada tatapan yang sejak tadi membuat jantungmu kehilangan ritmenya. “Hey.” Kedua tangan Edward yang mendarat pelan di bahumu, membuatmu kembali tersadar. “Are you okay? You seem nervous. Did something happen?” Suaranya lembut, tatapannya penuh khawatir. Namun anehnya, yang masih memenuhi kepalamu justru sepasang mata gelap milik pria lain. Kamu memaksakan senyum kecil. “Nothing. I'm okay,” jawabmu, meski kamu tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya. ••• Langkah kecil mu yang pelan saat menuruni anak tangga pagi itu, membawamu keruang tamu. Aroma kopi dan koran pagi memenuhi udara, menciptakan suasana hangat yang jarang kamu temui di rumah sebesar ini. Di salah satu sofa, ayahmu duduk dengan postur yang masih tegap meski usianya tak lagi muda. Sementara di seberangnya, Edward Hartwell tampak tenang dalam balutan kemeja gelap yang belum sempat tertutup jas kerjanya. Senyummu perlahan mengembang. Seperti biasa, kamu berjalan menghampiri Edward. Sebelum duduk di sampingnya, kamu menyelipkan jemarimu pada lengannya dan menyandarkan kepalamu dengan manja. “Hari ini kamu jadi nemenin aku nail art, kan?” tanyamu penuh harap. Edward menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. “Hari ini aku ada urusan dengan Papa.” Jeda singkat itu terasa begitu tenang, hingga kalimat berikutnya keluar. “Biar James yang antar.” Nama itu jatuh nyata begitu saja di tengah percakapan pagi yang semula hangat. James. Nama yang akhir-akhir ini terasa terlalu sering memenuhi kepalamu. Senyum di bibirmu perlahan memudar, sementara jemarimu yang semula memeluk lengan Edward mendadak kehilangan tenaga. Dadamu yang tenang mendadak dipenuhi riak yang sulit kamu jelaskan. “James?” suaramu terdengar pelan, nyaris tak lebih dari bisikan. Seolah nama itu membawa ribuan keraguan yang tak sanggup kamu ungkapkan. Edward menoleh. “Kamu tidak keberatan, kan?” Namun sebelum kamu sempat menjawab— “Mobil sudah siap, Tuan.” Suara berat itu membuatmu menoleh. James berdiri tak jauh dari ruang tamu, masih dalam balutan setelan hitam yang sama seperti biasanya. Kedua tangannya terlipat rapi di belakang punggung, sementara tatapannya sempat jatuh padamu sebelum kembali mengarah pada Edward. +🗨️ #pov #james #cortis #jamescortis #fypage
POV | James si bodyguard bermata dingin itu, perlahan menjadi alasan mengapa kamu tak lagi merasa aman di dalam rumahmu sendiri. Malam itu, suara heelsmu beradu lebih cepat di atas lantai marmer sepanjang koridor yang terlalu sunyi. Bukan karena terburu-buru, melainkan karena kamu sadar ada sepasang mata yang kembali mengikutimu. Tatapan yang akhir-akhir ini terasa terlalu setia untuk dianggap kebetulan. Dan kamu tahu, itu bukan tatapan seorang pengawal yang sedang memastikan keselamatan tuannya. Tatapan James terlalu lama, terlalu berbeda. Seolah disetiap sorot mata gelapnya, tersimpan sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan. Di tengah langkahmu yang mulai kehilangan ritme, kamu menoleh. James masih berdiri di ujung lorong dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Tubuhnya tetap tegap, diam, nyaris tak bergerak. Hanya matanya yang mengikuti setiap langkahmu. Dan sialnya, di sudut bibirnya tersungging senyum tipis—senyum yang tak pernah menjelaskan apa pun. Namun cukup untuk membuat jantungmu lupa bagaimana caranya berdetak dengan tenang. Napasmu tertahan sesaat saat tanganmu mencoba meraih gagang pintu kamar berlapis emas itu. Namun sebelum jemarimu sempat menyentuhnya, pintu itu lebih dulu terbuka. “Sayang?” Suara itu membuat bahumu tersentak. Edward Hartwell—CEO termuda Hartwell Group sekaligus tunanganmu, berdiri di hadapanmu. Tatapannya menyapu wajahmu yang dipenuhi kegugupan, seolah berusaha membaca sesuatu yang gagal kamu sembunyikan. Edward sedikit mengernyit. “Is everything alright, darling?” Tenggorokanmu mendadak terasa kering. Untuk pertama kalinya, kamu tak tahu harus menjawab apa. Tanpa sadar, kepalamu kembali menoleh ke ujung lorong tempat James berdiri beberapa saat lalu. Kosong. Hanya cahaya remang dan koridor yang kembali sunyi. Tidak ada sosok tinggi itu. Tidak ada tatapan yang sejak tadi membuat jantungmu kehilangan ritmenya. “Hey.” Kedua tangan Edward yang mendarat pelan di bahumu, membuatmu kembali tersadar. “Are you okay? You seem nervous. Did something happen?” Suaranya lembut, tatapannya penuh khawatir. Namun anehnya, yang masih memenuhi kepalamu justru sepasang mata gelap milik pria lain. Kamu memaksakan senyum kecil. “Nothing. I'm okay,” jawabmu, meski kamu tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya. ••• Langkah kecil mu yang pelan saat menuruni anak tangga pagi itu, membawamu keruang tamu. Aroma kopi dan koran pagi memenuhi udara, menciptakan suasana hangat yang jarang kamu temui di rumah sebesar ini. Di salah satu sofa, ayahmu duduk dengan postur yang masih tegap meski usianya tak lagi muda. Sementara di seberangnya, Edward Hartwell tampak tenang dalam balutan kemeja gelap yang belum sempat tertutup jas kerjanya. Senyummu perlahan mengembang. Seperti biasa, kamu berjalan menghampiri Edward. Sebelum duduk di sampingnya, kamu menyelipkan jemarimu pada lengannya dan menyandarkan kepalamu dengan manja. “Hari ini kamu jadi nemenin aku nail art, kan?” tanyamu penuh harap. Edward menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. “Hari ini aku ada urusan dengan Papa.” Jeda singkat itu terasa begitu tenang, hingga kalimat berikutnya keluar. “Biar James yang antar.” Nama itu jatuh nyata begitu saja di tengah percakapan pagi yang semula hangat. James. Nama yang akhir-akhir ini terasa terlalu sering memenuhi kepalamu. Senyum di bibirmu perlahan memudar, sementara jemarimu yang semula memeluk lengan Edward mendadak kehilangan tenaga. Dadamu yang tenang mendadak dipenuhi riak yang sulit kamu jelaskan. “James?” suaramu terdengar pelan, nyaris tak lebih dari bisikan. Seolah nama itu membawa ribuan keraguan yang tak sanggup kamu ungkapkan. Edward menoleh. “Kamu tidak keberatan, kan?” Namun sebelum kamu sempat menjawab— “Mobil sudah siap, Tuan.” Suara berat itu membuatmu menoleh. James berdiri tak jauh dari ruang tamu, masih dalam balutan setelan hitam yang sama seperti biasanya. Kedua tangannya terlipat rapi di belakang punggung, sementara tatapannya sempat jatuh padamu sebelum kembali mengarah pada Edward. +🗨️ #pov #james #cortis #jamescortis #fypage

About