@linh310106: "Trong lúc chờ đợi KimSooHyun… người hâm mộ lại mang về thêm một vị trí số 1 nữa [Star Ranking]" 🏆💙✨ 😭😭 Tiêu đề thật sự rất ấm lòng 🫂🫂💙 Trong bối cảnh ông Kim Se-ui, đại diện kênh YouTube từng có những phát ngôn ác ý nhằm vào KimSooHyun, gần đây đã bị bắt giam và truy tố ⚖️, KimSooHyun đang dần rũ bỏ những cáo buộc oan sai và được kỳ vọng sẽ sớm trở lại 🎬✨🌟 Những người hâm mộ vẫn luôn chờ đợi anh đã cùng nhau giữ vững vị trí số 1 trên bảng xếp hạng Star Ranking suốt 59 tuần liên tiếp 🥇🏆💙, như một cách thể hiện sự tin tưởng và đồng hành không đổi 🫶🏻🌸✨ Có những ngôi sao tỏa sáng nhờ ánh đèn sân khấu ✨🎭, còn có những ngôi sao tỏa sáng nhờ những người vẫn luôn ở lại chờ đợi. 🫂💙🌙⭐ 59 tuần số 1 — không chỉ là một thành tích, mà là 59 tuần yêu thương, tin tưởng và chờ đợi. #kimsoohyun #kimsoohyun김수현 #fyp #foryou #Love

Linh
Linh
Open In TikTok:
Region: VN
Thursday 25 June 2026 08:08:49 GMT
3006
272
8
0

Music

Download

Comments

marquezkatherine8
Marquez Katherine865. :
2026-06-25 12:10:10
1
user6063749453850
박춘자 :
지지합니다🥰
2026-06-27 23:43:39
0
user1212953207142
鼻毛 :
2026-06-25 10:08:15
1
fancyrooster011591
A.B.E! :
2026-06-28 05:20:43
0
hay.mar.lwin.offical
ထိပ်ထားလှိုင် :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰KimSooHyun
2026-06-27 15:00:19
0
martadelacruz595
martadelacruz595 :
Hermozo😳
2026-07-11 00:01:12
0
maibeteu
maibeteum :
♥️♥️♥️♥️♥️✨✨✨✨💯
2026-06-26 00:32:34
0
maydabarrios4
Mayda Barrios :
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
2026-07-08 04:06:23
0
To see more videos from user @linh310106, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pada Agustus 1945, dunia berada di titik balik sejarah. Perang Dunia II yang telah berlangsung selama enam tahun akhirnya mendekati akhir, namun Jepang masih bertahan sebagai kekuatan terakhir Poros di kawasan Asia–Pasifik. Hingga saat itu, Jepang menguasai banyak wilayah, termasuk Indonesia, melalui pemerintahan militer yang ketat dan penuh tekanan. Segalanya berubah secara drastis ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, disusul bom kedua di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Dua ledakan ini bukan sekadar serangan militer, melainkan kejutan global. Dalam hitungan detik, kota-kota tersebut hancur, ratusan ribu orang tewas secara langsung maupun akibat radiasi, dan dunia menyaksikan jenis kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Skala kehancuran bom atom membuat Jepang menyadari bahwa perang tidak lagi dapat dilanjutkan. Kombinasi dari kerusakan besar akibat bom atom dan tekanan militer Uni Soviet yang menyatakan perang terhadap Jepang mendorong pemerintah Jepang untuk mengambil keputusan bersejarah. Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu. Ini menandai berakhirnya Perang Dunia II di kawasan Pasifik. Namun, dampak penyerahan Jepang tidak berhenti di Jepang saja. Di wilayah jajahan seperti Indonesia, kekalahan Jepang menciptakan kondisi yang sangat unik dan krusial. Pemerintahan militer Jepang di Indonesia secara de facto kehilangan kekuasaan dan legitimasi. Mereka tidak lagi memiliki wewenang untuk mengambil keputusan politik, sementara pasukan Sekutu belum tiba untuk mengambil alih kendali. Situasi inilah yang dikenal sebagai vacuum of power, atau kekosongan kekuasaan. Kekosongan ini menjadi momen yang sangat singkat, rapuh, namun menentukan. Para tokoh pergerakan nasional Indonesia memahami bahwa kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali. Jika kemerdekaan tidak segera diproklamasikan, ada kemungkinan Indonesia kembali berada di bawah kendali kekuatan asing. Dengan kesadaran akan urgensi waktu, para pemimpin bangsa bergerak cepat. Hanya dua hari setelah Jepang menyerah, tepat pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Proklamasi ini dilakukan tanpa persetujuan Jepang dan sebelum Sekutu tiba, menjadikannya sebuah langkah politik yang berani dan strategis. Keputusan tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan dan kehendak bangsa sendiri, bukan hadiah dari pihak mana pun. Penting untuk dipahami bahwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tidak secara langsung memerdekakan Indonesia. Namun, peristiwa tersebut mempercepat runtuhnya kekuasaan Jepang, menciptakan kondisi global dan regional yang memungkinkan Indonesia mengambil langkah menentukan menuju kemerdekaan. Dalam konteks sejarah dunia, inilah contoh nyata bagaimana satu peristiwa besar dapat menimbulkan efek domino lintas negara dan benua. Hiroshima dan Nagasaki menjadi simbol tragedi kemanusiaan sekaligus penanda perubahan besar dalam sejarah dunia. Sementara bagi Indonesia, peristiwa itu menjadi latar belakang penting yang mempercepat lahirnya sebuah negara merdeka. Di antara kehancuran global dan kekacauan pascaperang, Indonesia menemukan celah waktu yang sempit—dan memanfaatkannya untuk menentukan masa depan bangsa. Intinya, Hiroshima–Nagasaki adalah pemicu runtuhnya kekuasaan Jepang, sementara kemerdekaan Indonesia adalah hasil keberanian, perhitungan, dan perjuangan para tokoh bangsa dalam membaca momentum sejarah.
Pada Agustus 1945, dunia berada di titik balik sejarah. Perang Dunia II yang telah berlangsung selama enam tahun akhirnya mendekati akhir, namun Jepang masih bertahan sebagai kekuatan terakhir Poros di kawasan Asia–Pasifik. Hingga saat itu, Jepang menguasai banyak wilayah, termasuk Indonesia, melalui pemerintahan militer yang ketat dan penuh tekanan. Segalanya berubah secara drastis ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, disusul bom kedua di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Dua ledakan ini bukan sekadar serangan militer, melainkan kejutan global. Dalam hitungan detik, kota-kota tersebut hancur, ratusan ribu orang tewas secara langsung maupun akibat radiasi, dan dunia menyaksikan jenis kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Skala kehancuran bom atom membuat Jepang menyadari bahwa perang tidak lagi dapat dilanjutkan. Kombinasi dari kerusakan besar akibat bom atom dan tekanan militer Uni Soviet yang menyatakan perang terhadap Jepang mendorong pemerintah Jepang untuk mengambil keputusan bersejarah. Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu. Ini menandai berakhirnya Perang Dunia II di kawasan Pasifik. Namun, dampak penyerahan Jepang tidak berhenti di Jepang saja. Di wilayah jajahan seperti Indonesia, kekalahan Jepang menciptakan kondisi yang sangat unik dan krusial. Pemerintahan militer Jepang di Indonesia secara de facto kehilangan kekuasaan dan legitimasi. Mereka tidak lagi memiliki wewenang untuk mengambil keputusan politik, sementara pasukan Sekutu belum tiba untuk mengambil alih kendali. Situasi inilah yang dikenal sebagai vacuum of power, atau kekosongan kekuasaan. Kekosongan ini menjadi momen yang sangat singkat, rapuh, namun menentukan. Para tokoh pergerakan nasional Indonesia memahami bahwa kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali. Jika kemerdekaan tidak segera diproklamasikan, ada kemungkinan Indonesia kembali berada di bawah kendali kekuatan asing. Dengan kesadaran akan urgensi waktu, para pemimpin bangsa bergerak cepat. Hanya dua hari setelah Jepang menyerah, tepat pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Proklamasi ini dilakukan tanpa persetujuan Jepang dan sebelum Sekutu tiba, menjadikannya sebuah langkah politik yang berani dan strategis. Keputusan tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan dan kehendak bangsa sendiri, bukan hadiah dari pihak mana pun. Penting untuk dipahami bahwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tidak secara langsung memerdekakan Indonesia. Namun, peristiwa tersebut mempercepat runtuhnya kekuasaan Jepang, menciptakan kondisi global dan regional yang memungkinkan Indonesia mengambil langkah menentukan menuju kemerdekaan. Dalam konteks sejarah dunia, inilah contoh nyata bagaimana satu peristiwa besar dapat menimbulkan efek domino lintas negara dan benua. Hiroshima dan Nagasaki menjadi simbol tragedi kemanusiaan sekaligus penanda perubahan besar dalam sejarah dunia. Sementara bagi Indonesia, peristiwa itu menjadi latar belakang penting yang mempercepat lahirnya sebuah negara merdeka. Di antara kehancuran global dan kekacauan pascaperang, Indonesia menemukan celah waktu yang sempit—dan memanfaatkannya untuk menentukan masa depan bangsa. Intinya, Hiroshima–Nagasaki adalah pemicu runtuhnya kekuasaan Jepang, sementara kemerdekaan Indonesia adalah hasil keberanian, perhitungan, dan perjuangan para tokoh bangsa dalam membaca momentum sejarah.

About