@cassoncreates: new summer wardrobe from @pacsun #pshub #fashion #pacsun #tampabaycreators #OOTD

cassoncreates
cassoncreates
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 25 June 2026 14:46:55 GMT
237
20
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @cassoncreates, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Agresi Militer Belanda I yang dimulai pada 21 Juli 1947 merupakan upaya Belanda untuk merebut kembali wilayah-wilayah penting Republik Indonesia setelah ketegangan pasca Perjanjian Linggarjati. Di Jawa Timur, Kota Malang menjadi salah satu target utama karena memiliki nilai strategis sebagai pusat ekonomi dan jalur penghubung ke daerah perkebunan di sekitarnya. Serangan diawali dengan pergerakan pasukan Belanda dari arah Surabaya, Pasuruan, dan Probolinggo yang kemudian mengepung Malang dari berbagai sisi. Pada saat itu, pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan laskar rakyat berusaha mempertahankan kota, namun keterbatasan persenjataan dan tekanan serangan membuat posisi mereka semakin terdesak. Untuk mencegah fasilitas penting dimanfaatkan oleh Belanda, pihak Republik menerapkan taktik bumi hangus dengan merusak beberapa infrastruktur vital sebelum akhirnya mundur.  Dalam waktu singkat, Belanda berhasil menguasai kota Malang, yang menyebabkan kerusakan pada berbagai sarana kota serta terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat. Setelah kota jatuh ke tangan Belanda, kondisi keamanan menjadi tidak stabil dan menimbulkan kecemasan sosial di kalangan warga karena kondisi dan ketegangan keamanan yang tidak stabil. Banyak penduduk memilih meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman, terutama ke wilayah pedesaan dan pegunungan di Malang bagian selatan dan timur seperti Tumpang, Turen, hingga Dampit. Di daerah-daerah tersebut, selain menjadi tempat pengungsian, juga berkembang basis pertahanan baru bagi TNI yang kemudian beralih menggunakan strategi perang gerilya.  Para pengungsi hidup dalam kondisi terbatas, bergantung pada bantuan masyarakat setempat, sementara jalur distribusi barang dan hasil pertanian terganggu akibat situasi perang. Secara keseluruhan, Agresi Militer Belanda I di Malang tidak hanya menimbulkan kerugian militer, tetapi juga berdampak besar pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, hal itu ditandai dengan kerusakan kota, terhentinya aktivitas ekonomi, serta pengungsian besar-besaran penduduk ke wilayah yang lebih aman. sc: dokumentasi komunitas sejarah dan budaya kota malang #sejarahmalang#History
Agresi Militer Belanda I yang dimulai pada 21 Juli 1947 merupakan upaya Belanda untuk merebut kembali wilayah-wilayah penting Republik Indonesia setelah ketegangan pasca Perjanjian Linggarjati. Di Jawa Timur, Kota Malang menjadi salah satu target utama karena memiliki nilai strategis sebagai pusat ekonomi dan jalur penghubung ke daerah perkebunan di sekitarnya. Serangan diawali dengan pergerakan pasukan Belanda dari arah Surabaya, Pasuruan, dan Probolinggo yang kemudian mengepung Malang dari berbagai sisi. Pada saat itu, pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan laskar rakyat berusaha mempertahankan kota, namun keterbatasan persenjataan dan tekanan serangan membuat posisi mereka semakin terdesak. Untuk mencegah fasilitas penting dimanfaatkan oleh Belanda, pihak Republik menerapkan taktik bumi hangus dengan merusak beberapa infrastruktur vital sebelum akhirnya mundur. Dalam waktu singkat, Belanda berhasil menguasai kota Malang, yang menyebabkan kerusakan pada berbagai sarana kota serta terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat. Setelah kota jatuh ke tangan Belanda, kondisi keamanan menjadi tidak stabil dan menimbulkan kecemasan sosial di kalangan warga karena kondisi dan ketegangan keamanan yang tidak stabil. Banyak penduduk memilih meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman, terutama ke wilayah pedesaan dan pegunungan di Malang bagian selatan dan timur seperti Tumpang, Turen, hingga Dampit. Di daerah-daerah tersebut, selain menjadi tempat pengungsian, juga berkembang basis pertahanan baru bagi TNI yang kemudian beralih menggunakan strategi perang gerilya. Para pengungsi hidup dalam kondisi terbatas, bergantung pada bantuan masyarakat setempat, sementara jalur distribusi barang dan hasil pertanian terganggu akibat situasi perang. Secara keseluruhan, Agresi Militer Belanda I di Malang tidak hanya menimbulkan kerugian militer, tetapi juga berdampak besar pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, hal itu ditandai dengan kerusakan kota, terhentinya aktivitas ekonomi, serta pengungsian besar-besaran penduduk ke wilayah yang lebih aman. sc: dokumentasi komunitas sejarah dan budaya kota malang #sejarahmalang#History

About