@pj.lyrics2: Bella Shmurda- My Friend(Lyrics Video)😌🎶 #Myfriend #Bellashmurda #Lyricsvideo #trending #Fyp

PJ LYRICS
PJ LYRICS
Open In TikTok:
Region: NG
Thursday 25 June 2026 16:13:53 GMT
2333
163
1
4

Music

Download

Comments

tgvibez4
TGVIBEZ🎤🇳🇬 :
🔥🔥🔥
2026-06-25 16:19:42
0
To see more videos from user @pj.lyrics2, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Air Mata di Ujung Pena: Kala Bung Karno Terpaksa Meneken Vonis Mati Sang Sahabat ​Jauh sebelum desingan peluru dan jurang ideologi memisahkan langkah mereka, dua pemuda ini adalah kawan karib yang saling mengagumi. Soekarno muda dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pernah berbagi atap yang sama. Mereka adalah anak kos di bawah bimbingan guru besar bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto, di Surabaya. Di rumah itulah mereka kerap berbagi meja makan, berdebat penuh gairah perihal masa depan, dan tertawa lepas bersama. Tak terbersit sedikit pun di benak mereka bahwa kelak, takdir akan memaksa keduanya untuk saling membinasakan. ​Namun, waktu terus bergulir, dan ideologi menjelma menjadi dinding pembatas yang tak tertembus. Soekarno memilih jalan nasionalisme demi merajut kemerdekaan Indonesia yang majemuk. Di seberang sana, Kartosuwiryo begitu teguh memimpikan berdirinya sebuah negara teokrasi. Saat Republik Indonesia yang masih seumur jagung tengah berdarah-darah mempertahankan diri dari gempuran penjajah, Kartosuwiryo justru menempuh jalan memutar. Pada 1949, ia memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (DI/TII). Sejak detik itu, sang kawan seperjuangan resmi menjelma menjadi musuh negara. ​Keputusan itu memantik kobaran perang saudara yang teramat brutal. Selama bertahun-tahun lamanya, tanah Jawa Barat dicekam ketakutan. Ribuan nyawa tak berdosa, baik rakyat sipil maupun prajurit, gugur sia-sia. Pelarian panjang sang imam akhirnya menemui titik akhir. Pada pertengahan tahun 1962, setelah perburuan militer yang menguras tenaga dan air mata, Kartosuwiryo ditangkap di belantara Gunung Geber. Pengadilan militer tak butuh waktu lama untuk menjatuhkan vonis paling mematikan: hukuman mati. ​Sesuai konstitusi, pelatuk regu tembak tak akan ditarik tanpa persetujuan tertulis dari Presiden. Maka, berkas vonis itu pun mendarat di meja kerja Bung Karno. Di sinilah batin sang Proklamator hancur lebur berkeping-keping. Berminggu-minggu lamanya, kertas penentu nasib itu hanya tergeletak membisu. Bung Karno enggan menyentuh pena di atas mejanya. Pikirannya tersiksa oleh rentetan kenangan masa muda, membayangkan persahabatan mereka yang hangat. Sebuah pertanyaan menyiksa terus bergaung di kepalanya: Bagaimana mungkin aku mengirim saudaraku sendiri ke tiang eksekusi? ​Akan tetapi, roda negara tak bisa berhenti karena urusan perasaan. Desakan dari para jenderal militer kian menguat. Hukum negara harus ditegakkan tanpa pandang bulu, dan pemberontakan ini harus diakhiri demi keutuhan Ibu Pertiwi. Di sebuah sore yang kelam, pergolakan batin itu akhirnya mencapai puncaknya. Dengan jemari yang bergetar hebat dan dada yang sesak, Soekarno akhirnya menggoreskan tinta di atas kertas tersebut. Begitu tanda tangan itu tuntas, runtuhlah seluruh pertahanannya. Bung Karno terisak, menangis sejadi-jadinya meratapi nasib kawan seiring yang kini harus menyongsong ajal. ​September 1962, di sebuah pulau sunyi di Kepulauan Seribu, komando regu tembak memecah keheningan. Peluru tajam akhirnya menembus dada Kartosuwiryo. Eksekusi itu tidak hanya mengakhiri pemberontakan panjang DI/TII, tetapi juga menutup lembaran persahabatan mereka untuk selama-lamanya. Soekarno telah membuktikan ketegasannya yang paripurna sebagai seorang kepala negara. Namun, sebagai manusia biasa, sebagian dari jiwanya turut mati rasa. ​Tragedi ini menorehkan luka sejarah yang begitu menganga. Ia menjadi saksi bisu sekaligus pelajaran berharga tentang betapa mahalnya harga keutuhan sebuah negara. Terkadang, takdir memaksa seorang pemimpin untuk mengambil keputusan yang paling menyayat hati—menghancurkan perasaan pribadinya hingga tak bersisa, menyingkirkan kenangan masa lalunya yang indah, demi memastikan Republik ini tetap berdiri tegak.🇮🇩🇮🇩🇮🇩 #sejarahindonesia  #BungKarno  #HidupAtauMati  #Fyp #soekarnohatta
Air Mata di Ujung Pena: Kala Bung Karno Terpaksa Meneken Vonis Mati Sang Sahabat ​Jauh sebelum desingan peluru dan jurang ideologi memisahkan langkah mereka, dua pemuda ini adalah kawan karib yang saling mengagumi. Soekarno muda dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pernah berbagi atap yang sama. Mereka adalah anak kos di bawah bimbingan guru besar bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto, di Surabaya. Di rumah itulah mereka kerap berbagi meja makan, berdebat penuh gairah perihal masa depan, dan tertawa lepas bersama. Tak terbersit sedikit pun di benak mereka bahwa kelak, takdir akan memaksa keduanya untuk saling membinasakan. ​Namun, waktu terus bergulir, dan ideologi menjelma menjadi dinding pembatas yang tak tertembus. Soekarno memilih jalan nasionalisme demi merajut kemerdekaan Indonesia yang majemuk. Di seberang sana, Kartosuwiryo begitu teguh memimpikan berdirinya sebuah negara teokrasi. Saat Republik Indonesia yang masih seumur jagung tengah berdarah-darah mempertahankan diri dari gempuran penjajah, Kartosuwiryo justru menempuh jalan memutar. Pada 1949, ia memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (DI/TII). Sejak detik itu, sang kawan seperjuangan resmi menjelma menjadi musuh negara. ​Keputusan itu memantik kobaran perang saudara yang teramat brutal. Selama bertahun-tahun lamanya, tanah Jawa Barat dicekam ketakutan. Ribuan nyawa tak berdosa, baik rakyat sipil maupun prajurit, gugur sia-sia. Pelarian panjang sang imam akhirnya menemui titik akhir. Pada pertengahan tahun 1962, setelah perburuan militer yang menguras tenaga dan air mata, Kartosuwiryo ditangkap di belantara Gunung Geber. Pengadilan militer tak butuh waktu lama untuk menjatuhkan vonis paling mematikan: hukuman mati. ​Sesuai konstitusi, pelatuk regu tembak tak akan ditarik tanpa persetujuan tertulis dari Presiden. Maka, berkas vonis itu pun mendarat di meja kerja Bung Karno. Di sinilah batin sang Proklamator hancur lebur berkeping-keping. Berminggu-minggu lamanya, kertas penentu nasib itu hanya tergeletak membisu. Bung Karno enggan menyentuh pena di atas mejanya. Pikirannya tersiksa oleh rentetan kenangan masa muda, membayangkan persahabatan mereka yang hangat. Sebuah pertanyaan menyiksa terus bergaung di kepalanya: Bagaimana mungkin aku mengirim saudaraku sendiri ke tiang eksekusi? ​Akan tetapi, roda negara tak bisa berhenti karena urusan perasaan. Desakan dari para jenderal militer kian menguat. Hukum negara harus ditegakkan tanpa pandang bulu, dan pemberontakan ini harus diakhiri demi keutuhan Ibu Pertiwi. Di sebuah sore yang kelam, pergolakan batin itu akhirnya mencapai puncaknya. Dengan jemari yang bergetar hebat dan dada yang sesak, Soekarno akhirnya menggoreskan tinta di atas kertas tersebut. Begitu tanda tangan itu tuntas, runtuhlah seluruh pertahanannya. Bung Karno terisak, menangis sejadi-jadinya meratapi nasib kawan seiring yang kini harus menyongsong ajal. ​September 1962, di sebuah pulau sunyi di Kepulauan Seribu, komando regu tembak memecah keheningan. Peluru tajam akhirnya menembus dada Kartosuwiryo. Eksekusi itu tidak hanya mengakhiri pemberontakan panjang DI/TII, tetapi juga menutup lembaran persahabatan mereka untuk selama-lamanya. Soekarno telah membuktikan ketegasannya yang paripurna sebagai seorang kepala negara. Namun, sebagai manusia biasa, sebagian dari jiwanya turut mati rasa. ​Tragedi ini menorehkan luka sejarah yang begitu menganga. Ia menjadi saksi bisu sekaligus pelajaran berharga tentang betapa mahalnya harga keutuhan sebuah negara. Terkadang, takdir memaksa seorang pemimpin untuk mengambil keputusan yang paling menyayat hati—menghancurkan perasaan pribadinya hingga tak bersisa, menyingkirkan kenangan masa lalunya yang indah, demi memastikan Republik ini tetap berdiri tegak.🇮🇩🇮🇩🇮🇩 #sejarahindonesia #BungKarno #HidupAtauMati #Fyp #soekarnohatta

About