Advokat Dr. Iketutadi Purnama, :
Dalam tradisi Hindu Bali, bunga kamboja sering digunakan sebagai bagian dari canang sari, yaitu sarana persembahyangan harian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kehadirannya bukan karena dianggap memiliki kekuatan magis, melainkan karena bunga yang segar, indah, dan harum dipandang sebagai persembahan terbaik yang mencerminkan rasa bhakti umat.
Pohon kamboja juga banyak ditanam di lingkungan pura. Selain memberikan keteduhan dan suasana yang asri, bunganya yang berguguran secara alami menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia bersifat sementara. Seindah apa pun kehidupan, pada akhirnya setiap insan akan kembali kepada Sang Pencipta. Oleh sebab itu, umat Hindu diajarkan untuk selalu berbuat dharma, menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan agar tetap suci.
Dalam upacara keagamaan, bunga kamboja sering diselipkan di telinga atau rambut setelah sembahyang. Tindakan sederhana ini bukan sekadar hiasan, tetapi menjadi simbol bahwa doa telah dipersembahkan dan diharapkan keharuman kebajikan senantiasa menyertai kehidupan.
Bunga kamboja juga mengajarkan filosofi yang indah. Meskipun tumbuh di tanah yang panas dan kering, ia tetap mampu menghasilkan bunga yang harum dan memesona. Ini menjadi teladan bahwa dalam keadaan sesulit apa pun, manusia tetap dapat menebarkan kebaikan, kasih sayang, dan kedamaian kepada sesama.
Jadi, bagi umat Hindu Bali, bunga kamboja bukanlah lambang kematian sebagaimana sering dipersepsikan di beberapa daerah. Sebaliknya, bunga kamboja adalah simbol kesucian, bhakti, keikhlasan, keindahan, dan pengingat akan siklus kehidupan. Keharumannya mengajak setiap umat untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pengabdian yang tulus serta menjalani hidup dengan cinta kasih kepada seluruh ciptaan.
Pesan Dharma:
"Jadilah seperti bunga kamboja. Tetaplah mekar, tetaplah harum, dan tetap memberi keindahan, meskipun kehidupan tidak selalu berada dalam musim yang mudah." 🙏
2026-06-25 23:23:49