yaelllll :
Kalau dipikir-pikir memang aneh. Dia bisa menjalani hari-harinya dengan tenang setelah semuanya berakhir, sementara aku masih sibuk membereskan serpihan hati yang bahkan bukan dia yang pecahkan sendirian. Dia tertawa, berbicara dengan orang baru, melanjutkan hidup seolah aku hanya satu bab kecil yang mudah dilupakan. Sedangkan aku masih sering terdiam saat namanya tiba-tiba lewat dikepala. Tapi mungkin yang terlihat aneh itu bukan karena aku terlalu lemah, melainkan karena aku mencintainya lebih dalam dari yang dia pernah tahu. Tidak semua orang kehilangan dengan cara yang sama. Ada yang bisa melepaskan dalam hitungan hari, ada yang membutuhkan berbulan-bulan hanya untuk menerima kenyataan bahwa orang yang dulu menjadi alasan pulang kini bahkan tidak lagi menanyakan kabar. Yang paling menyakitkan bukan karena dia pergi. Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa kepergiannya tidak menyakitinya sebesar kepergiannya menyakitiku. Rasanya seperti aku sedang berduka atas seseorang yang bahkan tidak merasa kehilangan. Kadang aku iri. Iri pada caranya melanjutkan hidup tanpa beban, tanpa sesak, tanpa harus berpura-pura kuat setiap malam. Sementara aku masih berusaha berdamai dengan kenangan yang terus datang tanpa diundang. Masih mengingat bagaimana semuanya dimulai, bagaimana aku percaya kita akan bertahan, dan bagaimana pada akhirnya hanya aku yang tertinggal memegang janji-janji yang sudah tidak berarti apa-apa baginya. Jadi ya, mungkin memang terlihat aneh. Dia tidak sedih tanpaku, sedangkan aku sesedih ini tanpa dia. Tapi yang lebih aneh lagi adalah bagaimana seseorang bisa menjadi rumah bagimu, sementara baginya kamu hanya tempat singgah. Dan sayangnya, aku baru menyadari perbedaan itu setelah dia benar-benar pergi.
2026-06-29 03:02:19