@i_2ul: #cardigan #taylorswift

R
R
Open In TikTok:
Region: SA
Saturday 27 June 2026 14:17:00 GMT
876906
117636
212
8416

Music

Download

Comments

omar8_ts
ᴏᴍ ⸆⸉ :
i knew u come back to me...
2026-07-03 22:16:10
3000
kiraxdanielle
kira♡ :
I hate when people hate on taylor, I have most of her songs on repeat everyday
2026-06-29 03:59:47
1560
elisecarrigan_
elise :
i knew youd miss me once the thrill expired
2026-06-30 05:37:44
266
._bichotaaa
⋆.˚: 𐙚˚࿔ gabby !𝜗𝜚˚⋆ :
“i knew to love would be to lose my mind”
2026-07-02 02:37:51
56
5li.i3
M :
طيب ليش تسوون فيني كذا
2026-06-29 06:24:05
391
_valerrriiiaa
𝒱 :
and i knew you’d come back to meeeeeee
2026-06-30 00:42:22
11
_m.72a
ٖ :
ياخي شلون تسوون هيج
2026-06-27 22:16:00
151
bibaz
Habiba :
why would u stab an innocent girl
2026-08-15 22:41:50
12
pvq3p_
ryu :
2026-06-28 11:24:46
80
pluvni
⟡ :
طف طف الاغاني
2026-06-28 08:41:39
21
roriwelq
ة :
اغنيه تهزمني دائماً
2026-07-11 03:37:22
31
vluiu
8 :
2026-06-27 21:05:09
11
haya58664
haya :
يالله صباح خير
2026-06-28 01:34:56
27
1n.der
W🇾🇪 :
الاغنيه فيها مشاعر بشكل اهخ يا تايلور سويتي اغنيه مره اوتش
2026-08-11 02:31:07
0
yusufnasirimat
رسائل مجهوله :
مين يبي؟
2026-07-04 22:38:21
6
sara04915ef
𝐆𝐢𝐧 ⚚ :
يمه ليه الاكسبلور صاير حزين
2026-07-05 13:40:07
9
o_flji
꩜ - :
طيب شسويت ياخي
2026-06-28 16:19:25
5
o5jl.l
reem :
ايوا كذا دمرني
2026-07-06 15:09:14
7
_atinysani
ATEEZ⁸ | SAN :
طف الاغاني خلاص
2026-06-27 23:41:48
61
shanasspamx
S H A N A 🔆 :
2026-06-29 16:11:43
19
8revx
8revx :
i knew u come back to me...
2026-09-17 10:30:12
3
ill1oij
Soly :
2026-07-20 09:57:52
1
gerlanesilvageh
Gerlane Silva Geh :
qual nome da música
2026-08-16 22:13:34
0
hxzlrs
Leo⛓️‍💥. :
يحزن
2026-08-21 19:21:49
1
To see more videos from user @i_2ul, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

AKAL YANG BAIK, KEJAYAAN YANG SEJATI: KETIKA KECERDASAN MEMBUTUHKAN KEBIJAKSANAAN Manusia sering mengukur kejayaan melalui apa yang berhasil dikumpulkannya: ilmu, kekayaan, kedudukan, pengaruh, dan pengakuan orang lain. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada semua itu: apakah segala pencapaian tersebut telah menjadikan dirinya manusia yang lebih baik? Sebab, seseorang bisa memiliki pikiran yang tajam, tetapi hatinya dipenuhi kesombongan. Ia bisa memenangkan banyak perdebatan, tetapi gagal berdamai dengan dirinya sendiri. Ia bisa mengetahui banyak kebenaran, tetapi tidak memiliki keberanian untuk menjalankannya. Siapa Al-Farabi? Al-Farabi dikenal dengan nama Abū Naṣr Muḥammad al-Fārābī. Ia merupakan salah satu filsuf besar dalam tradisi pemikiran Islam dan dikenal dengan gelar al-Mu‘allim al-Tsānī, yang berarti “Guru Kedua”, setelah Aristoteles. Ia diperkirakan lahir sekitar tahun 870 M di Farab atau Faryab, tetapi lokasi kelahirannya masih diperdebatkan oleh para peneliti. Ia wafat di Damaskus sekitar Desember 950 atau Januari 951 M. Al-Farabi mendalami filsafat, logika, metafisika, etika, politik, psikologi, dan teori musik. Di antara karya penting yang dikaitkan dengannya ialah Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah atau The Virtuous City, Iḥṣā’ al-‘Ulūm atau Enumeration of the Sciences, dan Risālah fī al-‘Aql atau Treatise on the Intellect. Pemikirannya berusaha memahami kesempurnaan manusia dan kebahagiaan, sekaligus bagaimana kehidupan bersama dapat diarahkan menuju kebaikan. Informasi biografisnya tidak seluruhnya pasti, sehingga sejumlah tanggal dan detail kehidupannya perlu diperlakukan sebagai perkiraan. Kecerdasan tidak selalu sama dengan kebijaksanaan. Dalam pemikiran Al-Farabi, akal menempati kedudukan penting dalam proses manusia mencapai kesempurnaan. Namun, pengetahuan bukan sekadar kumpulan informasi. Pengetahuan seharusnya membantu manusia memahami kenyataan, memperbaiki cara bertindak, dan mengarahkan kehidupannya menuju kebahagiaan yang lebih luhur. Dalam pembahasannya tentang kota utama atau al-Madīnah al-Fāḍilah, ia juga menekankan pentingnya kehidupan bersama yang diarahkan kepada kebahagiaan sejati. Dari sini kita dapat menarik pelajaran: manusia yang cerdas belum tentu bijaksana apabila pengetahuannya hanya digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi. Kecerdasan dapat membantu seseorang menemukan cara mencapai tujuan, tetapi kebijaksanaan menuntutnya memeriksa apakah tujuan itu memang patut diperjuangkan. Akal dapat menjadi alat yang sangat kuat; nilai moral menentukan bagaimana kekuatan itu digunakan. Di sinilah tasawuf memberikan kedalaman makna. Dalam perjalanan tasawuf, manusia tidak hanya diajak memperluas pengetahuan, tetapi juga mengenali keadaan batinnya sendiri. Seseorang mungkin memahami banyak ajaran tentang kesabaran, tetapi masih mudah dikuasai amarah. Ia mungkin fasih berbicara tentang keikhlasan, tetapi hatinya terluka ketika tidak memperoleh pujian. Ia mungkin mengetahui bahwa kesombongan merusak jiwa, tetapi diam-diam merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Persoalannya bukan semata-mata kurangnya pengetahuan. Bisa jadi, pengetahuan itu belum benar-benar mengubah keadaan batin. Di sinilah pentingnya tazkiyatun nafs, yaitu proses penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela sekaligus menumbuhkan sifat-sifat terpuji. Akal membantu seseorang mengenali kesalahannya, sedangkan latihan batin menuntutnya untuk sungguh-sungguh memperbaiki diri. Lalu, bagaimana hubungannya dengan tauhid? Dalam perspektif tauhid, akal bukan sesuatu yang harus dimatikan, dan berpikir bukan lawan dari iman. Akal dapat menjadi sarana untuk merenungi ciptaan, memahami tanggung jawab, dan menyadari keterbatasan manusia. Namun, akal juga bukan sesuatu yang patut disembah seolah-olah manusia mampu mengetahui segala sesuatu tanpa batas. Manusia dapat memiliki pengetahuan yang luas, tetapi tetap terbatas. Ia dapat menyusun teori yang rumit, tetapi tidak menguasai seluruh rahasia kehidupan. Kesadaran ini bukan penghinaan te
AKAL YANG BAIK, KEJAYAAN YANG SEJATI: KETIKA KECERDASAN MEMBUTUHKAN KEBIJAKSANAAN Manusia sering mengukur kejayaan melalui apa yang berhasil dikumpulkannya: ilmu, kekayaan, kedudukan, pengaruh, dan pengakuan orang lain. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada semua itu: apakah segala pencapaian tersebut telah menjadikan dirinya manusia yang lebih baik? Sebab, seseorang bisa memiliki pikiran yang tajam, tetapi hatinya dipenuhi kesombongan. Ia bisa memenangkan banyak perdebatan, tetapi gagal berdamai dengan dirinya sendiri. Ia bisa mengetahui banyak kebenaran, tetapi tidak memiliki keberanian untuk menjalankannya. Siapa Al-Farabi? Al-Farabi dikenal dengan nama Abū Naṣr Muḥammad al-Fārābī. Ia merupakan salah satu filsuf besar dalam tradisi pemikiran Islam dan dikenal dengan gelar al-Mu‘allim al-Tsānī, yang berarti “Guru Kedua”, setelah Aristoteles. Ia diperkirakan lahir sekitar tahun 870 M di Farab atau Faryab, tetapi lokasi kelahirannya masih diperdebatkan oleh para peneliti. Ia wafat di Damaskus sekitar Desember 950 atau Januari 951 M. Al-Farabi mendalami filsafat, logika, metafisika, etika, politik, psikologi, dan teori musik. Di antara karya penting yang dikaitkan dengannya ialah Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah atau The Virtuous City, Iḥṣā’ al-‘Ulūm atau Enumeration of the Sciences, dan Risālah fī al-‘Aql atau Treatise on the Intellect. Pemikirannya berusaha memahami kesempurnaan manusia dan kebahagiaan, sekaligus bagaimana kehidupan bersama dapat diarahkan menuju kebaikan. Informasi biografisnya tidak seluruhnya pasti, sehingga sejumlah tanggal dan detail kehidupannya perlu diperlakukan sebagai perkiraan. Kecerdasan tidak selalu sama dengan kebijaksanaan. Dalam pemikiran Al-Farabi, akal menempati kedudukan penting dalam proses manusia mencapai kesempurnaan. Namun, pengetahuan bukan sekadar kumpulan informasi. Pengetahuan seharusnya membantu manusia memahami kenyataan, memperbaiki cara bertindak, dan mengarahkan kehidupannya menuju kebahagiaan yang lebih luhur. Dalam pembahasannya tentang kota utama atau al-Madīnah al-Fāḍilah, ia juga menekankan pentingnya kehidupan bersama yang diarahkan kepada kebahagiaan sejati. Dari sini kita dapat menarik pelajaran: manusia yang cerdas belum tentu bijaksana apabila pengetahuannya hanya digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi. Kecerdasan dapat membantu seseorang menemukan cara mencapai tujuan, tetapi kebijaksanaan menuntutnya memeriksa apakah tujuan itu memang patut diperjuangkan. Akal dapat menjadi alat yang sangat kuat; nilai moral menentukan bagaimana kekuatan itu digunakan. Di sinilah tasawuf memberikan kedalaman makna. Dalam perjalanan tasawuf, manusia tidak hanya diajak memperluas pengetahuan, tetapi juga mengenali keadaan batinnya sendiri. Seseorang mungkin memahami banyak ajaran tentang kesabaran, tetapi masih mudah dikuasai amarah. Ia mungkin fasih berbicara tentang keikhlasan, tetapi hatinya terluka ketika tidak memperoleh pujian. Ia mungkin mengetahui bahwa kesombongan merusak jiwa, tetapi diam-diam merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Persoalannya bukan semata-mata kurangnya pengetahuan. Bisa jadi, pengetahuan itu belum benar-benar mengubah keadaan batin. Di sinilah pentingnya tazkiyatun nafs, yaitu proses penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela sekaligus menumbuhkan sifat-sifat terpuji. Akal membantu seseorang mengenali kesalahannya, sedangkan latihan batin menuntutnya untuk sungguh-sungguh memperbaiki diri. Lalu, bagaimana hubungannya dengan tauhid? Dalam perspektif tauhid, akal bukan sesuatu yang harus dimatikan, dan berpikir bukan lawan dari iman. Akal dapat menjadi sarana untuk merenungi ciptaan, memahami tanggung jawab, dan menyadari keterbatasan manusia. Namun, akal juga bukan sesuatu yang patut disembah seolah-olah manusia mampu mengetahui segala sesuatu tanpa batas. Manusia dapat memiliki pengetahuan yang luas, tetapi tetap terbatas. Ia dapat menyusun teori yang rumit, tetapi tidak menguasai seluruh rahasia kehidupan. Kesadaran ini bukan penghinaan te

About