@bura3951: free bura bull #capcut #foryou #foryoupage #ethiopian_drill_music #ethiopian_tik_tok🇪🇹 @Bura bull 🤟

Bura bull🤟
Bura bull🤟
Open In TikTok:
Region: ET
Sunday 28 June 2026 15:12:06 GMT
16701
2873
39
199

Music

Download

Comments

wizdand09
lij dãn̈ḍi💥 :
king 🤴
2026-06-29 10:11:21
0
yenehanifisha
Yenehani Fisha :
BURAYE WENDME 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
2026-06-28 19:39:43
0
lili.magna444
Lili magna :
bura bul
2026-06-28 23:33:31
0
abeba.reta3
Fiyori 🌹 :
2026-06-29 05:29:28
0
abdi254555
abdi254555 :
2026-06-29 07:06:11
0
adonay21191
Adu በሚለው :
💀
2026-06-28 15:16:33
1
user5789357900
user lij Burabul :
😈😈😈😈
2026-06-30 07:06:42
0
user77619032725523ziyee
Bura bull :
🥰🥰🥰🥰🥰
2026-06-30 03:40:05
0
nimurod.m
🦋𝐣𝐎𝐒𝐢🫀✍🥷🔗💊🔗💊☦️🎎🚭 :
@bura bull 🤟
2026-06-30 07:31:41
0
lilyvins7
@Lily Vins$,,, 💔👌 :
🥰🥰🥰
2026-06-29 13:44:02
0
natnaelsolomonnat4
nati man :
😁😁😁
2026-06-29 10:53:30
0
natnaelsolomonnat4
nati man :
🥰🥰🥰
2026-06-29 10:53:27
0
wizdand09
lij dãn̈ḍi💥 :
🥰🥰🥰
2026-06-29 10:11:09
0
abrshe593
abrshe :
🤟🤟🤟
2026-06-29 09:43:53
0
estaru14
Xo Estaru🥷🏼🇧🇷 :
🥰🥰🥰
2026-06-29 07:31:07
0
burabull648
off.eba :
🤟🤟🤟
2026-06-29 04:51:08
0
user2817700110
babby mane :
🥰🥰🥰
2026-06-29 18:04:41
0
samiorten_
ተባዕ 🐺wedi🔥orten አbo🤟አተን 🤟 :
🤟🤟🤟
2026-06-30 07:33:23
0
habtish94
@Habtish gunner :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-06-30 09:26:17
0
bura.bullt6
Bura.bull☠️🦬 :
🤟🤟🤟
2026-06-28 22:08:24
0
elshu549
scary girl :
💀💀💀
2026-06-28 15:14:38
1
To see more videos from user @bura3951, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Perayaan hari jadi ke-113 Kabupaten Solok, Senin (20/4/2026) di Arosuka, melalui pawai budaya dan festival kuliner 74 nagari, tampil meriah. Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy, dengan pesan kuat bahwa budaya dan ekonomi nagari harus menjadi fondasi pembangunan. Namun pertanyaannya, apakah momentum ini akan benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan nyata, atau kembali berakhir sebagai seremoni tahunan? Pawai budaya menghadirkan kekayaan identitas Minangkabau. Tiap nagari menampilkan ciri khasnya, busana adat, seni pertunjukan, hingga simbol tradisi. Ini bukan sekadar tontonan, melainkan pengingat bahwa nagari adalah basis peradaban. Di tengah arus globalisasi, menjaga identitas bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa itu, pembangunan akan kehilangan arah dan akar. Namun, menjaga budaya tidak cukup dengan parade. Tanpa kebijakan konkret, pawai hanya menjadi romantisme sesaat. Budaya harus masuk dalam sistem pendidikan, kebijakan pembangunan, hingga strategi ekonomi. Jika tidak, generasi muda hanya akan menjadi penonton, bukan pewaris nilai. Festival kuliner di sisi lain membuka ruang ekonomi yang lebih nyata. Produk-produk nagari dipromosikan, memberi peluang bagi UMKM untuk berkembang. Tetapi persoalan klasik tetap muncul: apakah ada keberlanjutan setelah acara usai? Tanpa pembinaan, akses modal, dan jaringan pasar, festival ini berisiko hanya menjadi “pasar sehari”. Dalam arahannya, Bupati Solok, Jon Firman Pandu, menegaskan pentingnya menjadikan nagari sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal. Ia juga mendorong agar kegiatan ini menjadi agenda wisata tahunan yang terintegrasi dengan promosi luas, termasuk digitalisasi. Arahan ini tepat, tetapi yang dibutuhkan adalah konsistensi pelaksanaan, bukan sekadar wacana. Kabupaten Solok sejatinya tidak kekurangan potensi. Budaya kuat, kuliner beragam, dan pariwisata menjanjikan. Masalahnya terletak pada keberlanjutan kebijakan. Banyak program berhenti di tengah jalan. Jika ini terus terjadi, maka pawai budaya dan festival kuliner hanya akan menjadi rutinitas tanpa dampak signifikan. Kegiatan ini juga penting sebagai ruang konsolidasi sosial. Keterlibatan 74 nagari memperkuat kebersamaan dan rasa memiliki. Namun kohesi sosial tidak cukup dibangun dari perayaan sesaat, melainkan dari keberlanjutan program dan pemerataan pembangunan. Perayaan ini seharusnya menjadi titik awal, bukan akhir. Pemerintah daerah perlu menyusun langkah konkret: penguatan UMKM, pengembangan ekonomi nagari, dan menjadikan budaya sebagai basis industri kreatif. Tanpa itu, perayaan hanya akan menghabiskan energi tanpa hasil nyata. Pada akhirnya, perayaan 113 tahun ini adalah ujian arah. Pemerintah daerah telah meletakkan gagasan. Kini publik menunggu: apakah itu akan diwujudkan dalam kebijakan yang konsisten, atau kembali tenggelam dalam euforia seremoni. #syaiful  rj bungsu#fypシ゚viral
Perayaan hari jadi ke-113 Kabupaten Solok, Senin (20/4/2026) di Arosuka, melalui pawai budaya dan festival kuliner 74 nagari, tampil meriah. Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy, dengan pesan kuat bahwa budaya dan ekonomi nagari harus menjadi fondasi pembangunan. Namun pertanyaannya, apakah momentum ini akan benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan nyata, atau kembali berakhir sebagai seremoni tahunan? Pawai budaya menghadirkan kekayaan identitas Minangkabau. Tiap nagari menampilkan ciri khasnya, busana adat, seni pertunjukan, hingga simbol tradisi. Ini bukan sekadar tontonan, melainkan pengingat bahwa nagari adalah basis peradaban. Di tengah arus globalisasi, menjaga identitas bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa itu, pembangunan akan kehilangan arah dan akar. Namun, menjaga budaya tidak cukup dengan parade. Tanpa kebijakan konkret, pawai hanya menjadi romantisme sesaat. Budaya harus masuk dalam sistem pendidikan, kebijakan pembangunan, hingga strategi ekonomi. Jika tidak, generasi muda hanya akan menjadi penonton, bukan pewaris nilai. Festival kuliner di sisi lain membuka ruang ekonomi yang lebih nyata. Produk-produk nagari dipromosikan, memberi peluang bagi UMKM untuk berkembang. Tetapi persoalan klasik tetap muncul: apakah ada keberlanjutan setelah acara usai? Tanpa pembinaan, akses modal, dan jaringan pasar, festival ini berisiko hanya menjadi “pasar sehari”. Dalam arahannya, Bupati Solok, Jon Firman Pandu, menegaskan pentingnya menjadikan nagari sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal. Ia juga mendorong agar kegiatan ini menjadi agenda wisata tahunan yang terintegrasi dengan promosi luas, termasuk digitalisasi. Arahan ini tepat, tetapi yang dibutuhkan adalah konsistensi pelaksanaan, bukan sekadar wacana. Kabupaten Solok sejatinya tidak kekurangan potensi. Budaya kuat, kuliner beragam, dan pariwisata menjanjikan. Masalahnya terletak pada keberlanjutan kebijakan. Banyak program berhenti di tengah jalan. Jika ini terus terjadi, maka pawai budaya dan festival kuliner hanya akan menjadi rutinitas tanpa dampak signifikan. Kegiatan ini juga penting sebagai ruang konsolidasi sosial. Keterlibatan 74 nagari memperkuat kebersamaan dan rasa memiliki. Namun kohesi sosial tidak cukup dibangun dari perayaan sesaat, melainkan dari keberlanjutan program dan pemerataan pembangunan. Perayaan ini seharusnya menjadi titik awal, bukan akhir. Pemerintah daerah perlu menyusun langkah konkret: penguatan UMKM, pengembangan ekonomi nagari, dan menjadikan budaya sebagai basis industri kreatif. Tanpa itu, perayaan hanya akan menghabiskan energi tanpa hasil nyata. Pada akhirnya, perayaan 113 tahun ini adalah ujian arah. Pemerintah daerah telah meletakkan gagasan. Kini publik menunggu: apakah itu akan diwujudkan dalam kebijakan yang konsisten, atau kembali tenggelam dalam euforia seremoni. #syaiful rj bungsu#fypシ゚viral

About