@412yak: 63. #formula1

yak
yak
Open In TikTok:
Region: ID
Monday 29 June 2026 04:27:45 GMT
48615
17932
68
1901

Music

Download

Comments

che_azri
Che Azri :
best smart colour petronas x merc
2026-06-29 23:55:23
2
5minsleft_
baut :
2026-06-30 05:34:29
4
floweriiy_
Rii :
george, sampe ke mobilnya pun aura divaa✨
2026-06-29 16:11:20
375
arftmlna
yak. :
king russell😛☝️
2026-06-29 16:51:00
83
ravenclawhogwartss
forgetmenot :
beneran catalunya sm spielberg ini momentum bagus bgt buat george, yuk bisa semangat terus smpe akhir musim keep pushingg
2026-06-29 13:35:20
178
user937362630
fheli🎀 :
Mercedes dengan Ke DAHSYATAN NYA
2026-06-29 15:04:15
32
milianojonathanszone
MilianoJonathanszone :
Ganteng bgt sukak 🥺🥰
2026-06-29 14:06:21
18
septynrl
septynrl :
fyp ku f1 semuaa
2026-06-30 01:20:09
4
zaynefisip
russell mayo :
holy aura
2026-06-30 02:09:59
0
user2159620478246
anathn :
ANJIRR GANTENG BANGET GILA
2026-06-29 19:02:08
4
depushadid
deepuss✧*. :
GAMTENK BANGET BUSEETTTTTTT MY RUSLIII
2026-06-29 17:04:46
1
orangdua458
￴￴ ￴ :
2026-06-30 05:26:35
0
To see more videos from user @412yak, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Anak: “Ayah… bolehkah aku bertanya sesuatu?” Ayah: “Tentu, Nak. Apa yang membuat hatimu gelisah malam ini?” Anak: “Aku melihat manusia berlari ke sana kemari… sibuk mengejar uang, jabatan, pujian, dan kemewahan. Mereka tertawa karena dunia, menangis karena dunia, bahkan saling melukai demi dunia. Tapi Ayah… mengapa sedikit sekali yang menangis karena akhiratnya?” Ayah: “Karena dunia terlihat oleh mata, sedangkan akhirat harus dilihat dengan hati.” Anak: “Padahal dunia hanya sebentar ya, Ayah?” Ayah: “Iya, Nak… sangat sebentar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:” وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ‘Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.’ (QS. آل عمران : 185) Anak: “Lalu mengapa manusia begitu mencintainya?” Ayah: “Karena hati mereka terlalu lama memandang bumi… hingga lupa menengadah ke langit. Nak… kuburan itu sunyi. Tak ada rumah mewah di sana. Tak ada pujian manusia. Yang menemani hanyalah amal.” Anak: (matanya mulai berkaca-kaca) “Berarti… suatu hari Ayah juga akan pergi?” Ayah: “Dan kau juga akan pergi, Nak…” Anak: “Jangan berkata begitu Ayah…” Ayah: “Ini kenyataan yang harus dicintai orang beriman. Allah berfirman:” كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ‘Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.’ (QS. الأنبياء : 35) Anak: “Kalau begitu… kenapa manusia masih sombong?” Ayah: “Karena mereka lupa bahwa kain kafan tidak memiliki kantong.” Anak: (menangis perlahan) “Ayah… aku takut. Takut jika selama ini aku lebih sibuk mempercantik dunia daripada mempersiapkan kuburku.” Ayah: (mengusap kepala anaknya) “Rasa takut itu baik jika membuatmu kembali kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:” أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.’ (HR. الترمذي) Anak: “Jadi orang yang cerdas bukan yang paling kaya?” Ayah: “Bukan, Nak… Orang cerdas adalah yang paling banyak mengingat akhirat dan mempersiapkan bekalnya.” Lalu Ayah menunduk… suaranya mulai bergetar. Ayah: “Ketika jasad Ayah nanti dibaringkan di liang lahat… mungkin banyak orang pulang setelah pemakaman selesai. Tapi amal Ayah tidak akan pulang. Ia akan tinggal bersama Ayah… Maka jangan tertipu oleh dunia, Nak. Dunia itu seperti bayangan sore—terlihat panjang, padahal sebentar lagi hilang.” Anak: (air matanya jatuh tanpa mampu ditahan) “Ayah… mulai malam ini aku ingin belajar mencintai akhirat. Aku tidak ingin menjadi manusia yang sibuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya ditinggalkan.” Ayah: “Menangislah jika itu membuat hatimu hidup. Sebab banyak manusia yang matanya terbuka… tetapi hatinya telah lama mati.”
Anak: “Ayah… bolehkah aku bertanya sesuatu?” Ayah: “Tentu, Nak. Apa yang membuat hatimu gelisah malam ini?” Anak: “Aku melihat manusia berlari ke sana kemari… sibuk mengejar uang, jabatan, pujian, dan kemewahan. Mereka tertawa karena dunia, menangis karena dunia, bahkan saling melukai demi dunia. Tapi Ayah… mengapa sedikit sekali yang menangis karena akhiratnya?” Ayah: “Karena dunia terlihat oleh mata, sedangkan akhirat harus dilihat dengan hati.” Anak: “Padahal dunia hanya sebentar ya, Ayah?” Ayah: “Iya, Nak… sangat sebentar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:” وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ‘Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.’ (QS. آل عمران : 185) Anak: “Lalu mengapa manusia begitu mencintainya?” Ayah: “Karena hati mereka terlalu lama memandang bumi… hingga lupa menengadah ke langit. Nak… kuburan itu sunyi. Tak ada rumah mewah di sana. Tak ada pujian manusia. Yang menemani hanyalah amal.” Anak: (matanya mulai berkaca-kaca) “Berarti… suatu hari Ayah juga akan pergi?” Ayah: “Dan kau juga akan pergi, Nak…” Anak: “Jangan berkata begitu Ayah…” Ayah: “Ini kenyataan yang harus dicintai orang beriman. Allah berfirman:” كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ‘Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.’ (QS. الأنبياء : 35) Anak: “Kalau begitu… kenapa manusia masih sombong?” Ayah: “Karena mereka lupa bahwa kain kafan tidak memiliki kantong.” Anak: (menangis perlahan) “Ayah… aku takut. Takut jika selama ini aku lebih sibuk mempercantik dunia daripada mempersiapkan kuburku.” Ayah: (mengusap kepala anaknya) “Rasa takut itu baik jika membuatmu kembali kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:” أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.’ (HR. الترمذي) Anak: “Jadi orang yang cerdas bukan yang paling kaya?” Ayah: “Bukan, Nak… Orang cerdas adalah yang paling banyak mengingat akhirat dan mempersiapkan bekalnya.” Lalu Ayah menunduk… suaranya mulai bergetar. Ayah: “Ketika jasad Ayah nanti dibaringkan di liang lahat… mungkin banyak orang pulang setelah pemakaman selesai. Tapi amal Ayah tidak akan pulang. Ia akan tinggal bersama Ayah… Maka jangan tertipu oleh dunia, Nak. Dunia itu seperti bayangan sore—terlihat panjang, padahal sebentar lagi hilang.” Anak: (air matanya jatuh tanpa mampu ditahan) “Ayah… mulai malam ini aku ingin belajar mencintai akhirat. Aku tidak ingin menjadi manusia yang sibuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya ditinggalkan.” Ayah: “Menangislah jika itu membuat hatimu hidup. Sebab banyak manusia yang matanya terbuka… tetapi hatinya telah lama mati.”

About