@deepsinmyfeels: Take your time. Everybody heals differently ✨ The heart is complex and its healing is not linear, some days will be good days and some days will feel like 3 steps in the wrong direction. Just be patient and give yourself time or if you're falling for someone who's still healing then let them know that you'll wait how ever long it takes. #sad #HealingJourney #singersongwriter #Relationship #viral

deeps
deeps
Open In TikTok:
Region: GB
Tuesday 30 June 2026 00:40:29 GMT
4157
434
10
9

Music

Download

Comments

jane_delaney5
Jane🤍 :
I love all of your music
2026-06-30 00:42:57
0
northernkingofmilano8
✅🕯️MEDDYSEA🇸🇸 :
name of the song 💔❤️‍🩹❤️‍🩹
2026-06-30 01:52:53
0
tina672357
Bright girl :
one time you will get back your happiness🥰🥰🥰
2026-07-01 06:49:35
0
melvin.smith047
Melvin Smith :
deeps
2026-06-30 10:27:35
0
jess2005xo
Jess⁷ 💜 :
one day I’ll be healed 🫶🏻😪
2026-06-30 00:44:31
0
wandia558
wandia :
💙
2026-06-30 02:25:28
0
emelysantos305e
Emely :
👏👏👏
2026-06-30 00:48:35
0
addo.richard5
Addo Richard :
🥰🥰🥰
2026-06-30 10:37:33
0
To see more videos from user @deepsinmyfeels, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada seorang ibu yang ingin pisah dan bercerai dari suaminya. Ia kemudian berdiskusi panjang dengan saya. Ibu: “Mbah Mun, saya sudah tidak kuat dengan suami saya. Saya ingin bercerai saja.”  Kiai: “Memangnya kenapa, Bu?”  Ibu: “Suami saya sudah tidak punya pekerjaan, tidak kreatif, dan tidak bisa menjadi pemimpin untuk anak-anak. Bagaimana nanti masa depan anak-anak saya kalau ayahnya seperti itu? Saya harus mencari nafkah capek-capek, sementara dia santai saja di rumah.”  Kiai: “Oh begitu, hanya itu saja?”  Ibu: “Sebenarnya masih banyak, tapi itu mungkin sebab yang paling utama.”  Kiai: “Oh… iya. Mau tahu pandangan saya, Bu?”  Ibu: “Boleh, Mbah Mun.”  Kiai: “Begini. Ibarat orang punya kulkas, tetapi dipakai sebagai lemari pakaian. Ya jelas tidak akan puas. Tidak muat banyak, tidak ada gantungan, tidak ada laci, tidak bisa dikunci, malah boros listrik. Nah, itulah jika sebuah produk digunakan tidak sesuai fungsinya. Sebagus apa pun, kalau tidak sesuai peruntukannya, tetap tidak akan memberi kepuasan.”  Ibu: “Hm… lalu apa hubungannya dengan suami saya?”  Kiai: “Ibu terlalu berharap suami menjalankan fungsi sekunder, bahkan mungkin tersier. Sementara fungsi primernya justru tidak digunakan.”  Ibu: “Saya tidak berharap berlebihan, Mbah Mun. Saya hanya ingin dia menafkahi keluarga dan menjadi pemimpin yang baik.”  Kiai: “Itu justru fungsi sampingan dari seorang suami. Sayang sekali jika suami hanya diharapkan sebatas itu. Fungsi primernya yang paling utama malah tidak ibu kejar.”  Ibu: “Lalu, apa fungsi primer seorang suami?”  Kiai: “Fungsi primer suami adalah menjadi tameng bagi dosa-dosa istrinya di neraka. Saat seorang istri memperoleh rida suaminya, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah karena keridaan itu. Jadi, meskipun suami hanya duduk diam di rumah, sejatinya ia sangat bermanfaat bagi istri—asal istrinya menggunakan fungsi itu dengan maksimal. Lakukan yang terbaik untuk mendapatkan rida suami. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan:  ‘Ayyumamra’atin mātat wa zawjuhā ‘anhā rāḍin dakhala til-jannah’  Artinya: “Seorang istri yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya rida kepadanya, maka ia akan masuk surga.” Selain itu hanyalah fungsi-fungsi sekunder. Kejarlah yang utama terlebih dahulu. Suami tidak bekerja, tidak mengapa. Yang penting ia masih menjadi suami ibu. Jangan dilepaskan, jangan dicerai. Biarkan ia menjadi tameng dari neraka. Jika bercerai, ibu akan berhadapan langsung dengan api neraka, karena tidak ada lagi yang menghapus dosa-dosa ibu—kecuali jika amal ibu benar-benar luar biasa dan tanpa dosa. Jika ibu yang mencari nafkah, itu tidak masalah. Semua harta yang ibu berikan untuk anak dan rumah tangga dihitung sebagai sedekah yang sangat mulia, bahkan lebih mulia daripada sedekah kepada anak yatim.”  Ibu: “Kok bisa lebih mulia daripada sedekah kepada anak yatim?”  Kiai: “Karena anak yatim bukan bagian langsung dari hidup ibu. Sedekah kepada mereka hukumnya sunah. Sedangkan suami dan keluarga terikat akad nikah, sudah menjadi bagian dari diri ibu. Silakan bersedekah kepada siapa pun, tetapi sedekah kepada keluarga adalah yang paling utama.”  Ibu: “Tapi bagaimana jika suami zalim, bahkan melakukan KDRT?”  Kiai: “Zalimnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Suami akan menanggung akibat perbuatannya. Siksa Allah sangat pedih bagi suami yang menyakiti keluarganya. Sementara itu, ibu tetap fokus mencari rida suami. Pernah dengar istri Fir’aun masuk surga? Apa kurang zalim Fir’aun? Ia menyiksa istrinya, bahkan membunuh bayi-bayi. Namun istrinya, Asiyah, tetap bersabar. Doa terakhirnya diabadikan dalam Al-Qur’an: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.’ (QS. At-Tahrim: 11) Ia tidak meminta Fir’aun diazab, hanya meminta balasan atas kesabarannya.”  Ibu: “Ya Allah, Mbah Mun… terima kasih atas nasihatnya #mbahmoen  #nasehatislami #renunganhati #sejarahulama #ridhosuami
Ada seorang ibu yang ingin pisah dan bercerai dari suaminya. Ia kemudian berdiskusi panjang dengan saya. Ibu: “Mbah Mun, saya sudah tidak kuat dengan suami saya. Saya ingin bercerai saja.” Kiai: “Memangnya kenapa, Bu?” Ibu: “Suami saya sudah tidak punya pekerjaan, tidak kreatif, dan tidak bisa menjadi pemimpin untuk anak-anak. Bagaimana nanti masa depan anak-anak saya kalau ayahnya seperti itu? Saya harus mencari nafkah capek-capek, sementara dia santai saja di rumah.” Kiai: “Oh begitu, hanya itu saja?” Ibu: “Sebenarnya masih banyak, tapi itu mungkin sebab yang paling utama.” Kiai: “Oh… iya. Mau tahu pandangan saya, Bu?” Ibu: “Boleh, Mbah Mun.” Kiai: “Begini. Ibarat orang punya kulkas, tetapi dipakai sebagai lemari pakaian. Ya jelas tidak akan puas. Tidak muat banyak, tidak ada gantungan, tidak ada laci, tidak bisa dikunci, malah boros listrik. Nah, itulah jika sebuah produk digunakan tidak sesuai fungsinya. Sebagus apa pun, kalau tidak sesuai peruntukannya, tetap tidak akan memberi kepuasan.” Ibu: “Hm… lalu apa hubungannya dengan suami saya?” Kiai: “Ibu terlalu berharap suami menjalankan fungsi sekunder, bahkan mungkin tersier. Sementara fungsi primernya justru tidak digunakan.” Ibu: “Saya tidak berharap berlebihan, Mbah Mun. Saya hanya ingin dia menafkahi keluarga dan menjadi pemimpin yang baik.” Kiai: “Itu justru fungsi sampingan dari seorang suami. Sayang sekali jika suami hanya diharapkan sebatas itu. Fungsi primernya yang paling utama malah tidak ibu kejar.” Ibu: “Lalu, apa fungsi primer seorang suami?” Kiai: “Fungsi primer suami adalah menjadi tameng bagi dosa-dosa istrinya di neraka. Saat seorang istri memperoleh rida suaminya, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah karena keridaan itu. Jadi, meskipun suami hanya duduk diam di rumah, sejatinya ia sangat bermanfaat bagi istri—asal istrinya menggunakan fungsi itu dengan maksimal. Lakukan yang terbaik untuk mendapatkan rida suami. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan: ‘Ayyumamra’atin mātat wa zawjuhā ‘anhā rāḍin dakhala til-jannah’ Artinya: “Seorang istri yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya rida kepadanya, maka ia akan masuk surga.” Selain itu hanyalah fungsi-fungsi sekunder. Kejarlah yang utama terlebih dahulu. Suami tidak bekerja, tidak mengapa. Yang penting ia masih menjadi suami ibu. Jangan dilepaskan, jangan dicerai. Biarkan ia menjadi tameng dari neraka. Jika bercerai, ibu akan berhadapan langsung dengan api neraka, karena tidak ada lagi yang menghapus dosa-dosa ibu—kecuali jika amal ibu benar-benar luar biasa dan tanpa dosa. Jika ibu yang mencari nafkah, itu tidak masalah. Semua harta yang ibu berikan untuk anak dan rumah tangga dihitung sebagai sedekah yang sangat mulia, bahkan lebih mulia daripada sedekah kepada anak yatim.” Ibu: “Kok bisa lebih mulia daripada sedekah kepada anak yatim?” Kiai: “Karena anak yatim bukan bagian langsung dari hidup ibu. Sedekah kepada mereka hukumnya sunah. Sedangkan suami dan keluarga terikat akad nikah, sudah menjadi bagian dari diri ibu. Silakan bersedekah kepada siapa pun, tetapi sedekah kepada keluarga adalah yang paling utama.” Ibu: “Tapi bagaimana jika suami zalim, bahkan melakukan KDRT?” Kiai: “Zalimnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Suami akan menanggung akibat perbuatannya. Siksa Allah sangat pedih bagi suami yang menyakiti keluarganya. Sementara itu, ibu tetap fokus mencari rida suami. Pernah dengar istri Fir’aun masuk surga? Apa kurang zalim Fir’aun? Ia menyiksa istrinya, bahkan membunuh bayi-bayi. Namun istrinya, Asiyah, tetap bersabar. Doa terakhirnya diabadikan dalam Al-Qur’an: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.’ (QS. At-Tahrim: 11) Ia tidak meminta Fir’aun diazab, hanya meminta balasan atas kesabarannya.” Ibu: “Ya Allah, Mbah Mun… terima kasih atas nasihatnya #mbahmoen #nasehatislami #renunganhati #sejarahulama #ridhosuami

About