@techgirlkai: I found this auto-sensing wireless car charger mount, it looks absolutely insane! #carmount #caraccessories #tiktokshop #fyp#brackets

TechGirlKai
TechGirlKai
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 30 June 2026 01:46:32 GMT
145
1
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @techgirlkai, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#pov : [4] Ia jatuh telungkup, darah menetes dari bibirnya. Tangannya gemetar saat mencoba bangkit—namun lututnya tak lagi kuat. “Cukup.” kata Jake akhirnya. Para pengawal berhenti, mengelilingi Sunghoon yang kini nyaris tak berdaya. Jake mendorongmu ke depan, memaksamu berdiri hanya beberapa langkah darinya. Sunghoon mengangkat wajahnya, matanya membulat melihatmu ditahan seperti itu. “Jangan sentuh dia…” gumam Sunghoon lemah. Jake tertawa pelan, lalu menunduk agar sejajar dengan wajah Sunghoon. “Lucu.” katanya dingin. “Kau masih mencoba melindunginya… padahal kau hampir mati.” Ia lalu menoleh padamu. “Sekarang katakan, Yn,” ucapnya, nadanya berubah lembut—terlalu lembut untuk situasi ini. “Siapa yang kau pilih?” Sunghoon terengah, darah mengalir dari luka-lukanya. Tubuhnya penuh goresan, bahunya terkulai, napasnya tersendat—namun matanya tidak pernah lepas darimu. “Jangan… turuti dia,” bisiknya lirih. “Apa pun yang kau katakan… aku akan mengerti.” Jake mendekatkan bibirnya ke telingamu. “Satu kata darimu,” bisiknya penuh ancaman, “dan aku akan mengakhiri penderitaannya.” Di hadapanmu—cinta pertamamu sekarat. Dan pria yang terobsesi padamu memegang kendali penuh. Sampai akhirnya “AKU PILIH KAU, JAKE.” Kata-kata itu jatuh seperti pisau. Sunghoon membulatkan mata, napasnya tercekat. “Yn…?” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar di tengah denting senjata dan desau malam. Kamu memalingkan wajah. Kamu tidak sanggup melihat matanya. Jika kamu menatapnya lebih lama, kamu tahu kamu akan runtuh. Jake tersenyum puas. “Bagus.” Ia menarik wajahmu tanpa memberi waktu untuk bernapas, lalu mencium bibirmu dengan sengaja, lama, dalam—sebuah ciuman yang bukan tentang cinta, melainkan kekuasaan. “LIHATLAH BAIK-BAIK,” gumam Jake di sela ciuman, cukup keras untuk didengar Sunghoon. Sunghoon meraung. “SIALAN, JAKE—!!!” Dengan sisa tenaganya, Sunghoon menyeret tubuhnya, tangannya mencengkeram kaki Jake dengan putus asa. “KAU AKAN MATI! JANGAN BERANI MENYENTUH MILIKKU!” Namun Jake hanya menoleh dingin. Lalu— KREKK.  Kakinya menginjak tangan Sunghoon keras. Tulang berderak. Sunghoon menjerit, tubuhnya menggeliat kesakitan. “Kau masih tidak mengerti posisimu,” ucap Jake datar. “Kau tidak punya apa-apa lagi.” Kamu menggigil. Kukumu menancap ke telapak tangan sendiri agar kau tidak berteriak. Jake menunduk, menatap Sunghoon dengan senyum kejam. “Dia memilihku,” lanjutnya pelan. “Dan kau?” “Kau hanya hantu yang lupa mati.” Ia memberi isyarat. Dua pengawal menarik Sunghoon berdiri dengan kasar. Darah menetes dari rambutnya, bajunya koyak, tubuhnya hampir roboh—namun matanya tetap menatapmu. Bukan marah. Bukan benci. Hancur. “Kalau ini yang kau inginkan…” bisik Sunghoon lirih, nyaris tak terdengar, “…aku akan pergi.” Hatimu berteriak. 'Tolong jangan. Tolong lihat aku. Tolong percaya.' Namun kamu tetap membisu. Jake merangkul bahumu posesif. “Bawa dia,” perintahnya dingin. “Jangan bunuh.” “Aku ingin dia hidup… cukup lama untuk menyesali semuanya.” Sunghoon diseret pergi, jejak darah tertinggal di lantai paviliun. Saat ia melewati sisimu, ia berhenti sejenak. Matanya bertemu matamu untuk terakhir kalinya malam itu. Dan dengan bibir pecah dan suara parau, ia berbisik.  “Jika ini pengorbananmu… aku akan bertahan hidup.” Hatimu runtuh. Jake menekan kepalamu ke dadanya. “Tenang,” bisiknya lembut, penuh kepuasan. “Sekarang kau aman. Kau milikku.” Namun di balik wajah kosongmu, di balik keputusan yang tampak mengkhianati cinta sebuah rencana baru saja dimulai. ——— *Beberapa hari kemudian Malam ini saat nya menjadi malam kamu menjalankan rencanamu.  Langkah kakimu nyaris tak bersuara di lorong bawah tanah. Jubah gelap menutupi tubuhmu, wajahmu tersembunyi di balik kain. Setiap detik terasa seperti tarikan napas terakhir—takut, namun tekadmu lebih besar. Saat para penjaga tertawa di ujung lorong, lengah oleh anggur dan kelelahan, kamu menyelinap masuk. Pintu besi berderit pelan. Di dalam, bau lembap dan darah menyergap. [+KOMENTAR]  #enhypen #jake #sunghoon #fyp
#pov : [4] Ia jatuh telungkup, darah menetes dari bibirnya. Tangannya gemetar saat mencoba bangkit—namun lututnya tak lagi kuat. “Cukup.” kata Jake akhirnya. Para pengawal berhenti, mengelilingi Sunghoon yang kini nyaris tak berdaya. Jake mendorongmu ke depan, memaksamu berdiri hanya beberapa langkah darinya. Sunghoon mengangkat wajahnya, matanya membulat melihatmu ditahan seperti itu. “Jangan sentuh dia…” gumam Sunghoon lemah. Jake tertawa pelan, lalu menunduk agar sejajar dengan wajah Sunghoon. “Lucu.” katanya dingin. “Kau masih mencoba melindunginya… padahal kau hampir mati.” Ia lalu menoleh padamu. “Sekarang katakan, Yn,” ucapnya, nadanya berubah lembut—terlalu lembut untuk situasi ini. “Siapa yang kau pilih?” Sunghoon terengah, darah mengalir dari luka-lukanya. Tubuhnya penuh goresan, bahunya terkulai, napasnya tersendat—namun matanya tidak pernah lepas darimu. “Jangan… turuti dia,” bisiknya lirih. “Apa pun yang kau katakan… aku akan mengerti.” Jake mendekatkan bibirnya ke telingamu. “Satu kata darimu,” bisiknya penuh ancaman, “dan aku akan mengakhiri penderitaannya.” Di hadapanmu—cinta pertamamu sekarat. Dan pria yang terobsesi padamu memegang kendali penuh. Sampai akhirnya “AKU PILIH KAU, JAKE.” Kata-kata itu jatuh seperti pisau. Sunghoon membulatkan mata, napasnya tercekat. “Yn…?” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar di tengah denting senjata dan desau malam. Kamu memalingkan wajah. Kamu tidak sanggup melihat matanya. Jika kamu menatapnya lebih lama, kamu tahu kamu akan runtuh. Jake tersenyum puas. “Bagus.” Ia menarik wajahmu tanpa memberi waktu untuk bernapas, lalu mencium bibirmu dengan sengaja, lama, dalam—sebuah ciuman yang bukan tentang cinta, melainkan kekuasaan. “LIHATLAH BAIK-BAIK,” gumam Jake di sela ciuman, cukup keras untuk didengar Sunghoon. Sunghoon meraung. “SIALAN, JAKE—!!!” Dengan sisa tenaganya, Sunghoon menyeret tubuhnya, tangannya mencengkeram kaki Jake dengan putus asa. “KAU AKAN MATI! JANGAN BERANI MENYENTUH MILIKKU!” Namun Jake hanya menoleh dingin. Lalu— KREKK. Kakinya menginjak tangan Sunghoon keras. Tulang berderak. Sunghoon menjerit, tubuhnya menggeliat kesakitan. “Kau masih tidak mengerti posisimu,” ucap Jake datar. “Kau tidak punya apa-apa lagi.” Kamu menggigil. Kukumu menancap ke telapak tangan sendiri agar kau tidak berteriak. Jake menunduk, menatap Sunghoon dengan senyum kejam. “Dia memilihku,” lanjutnya pelan. “Dan kau?” “Kau hanya hantu yang lupa mati.” Ia memberi isyarat. Dua pengawal menarik Sunghoon berdiri dengan kasar. Darah menetes dari rambutnya, bajunya koyak, tubuhnya hampir roboh—namun matanya tetap menatapmu. Bukan marah. Bukan benci. Hancur. “Kalau ini yang kau inginkan…” bisik Sunghoon lirih, nyaris tak terdengar, “…aku akan pergi.” Hatimu berteriak. 'Tolong jangan. Tolong lihat aku. Tolong percaya.' Namun kamu tetap membisu. Jake merangkul bahumu posesif. “Bawa dia,” perintahnya dingin. “Jangan bunuh.” “Aku ingin dia hidup… cukup lama untuk menyesali semuanya.” Sunghoon diseret pergi, jejak darah tertinggal di lantai paviliun. Saat ia melewati sisimu, ia berhenti sejenak. Matanya bertemu matamu untuk terakhir kalinya malam itu. Dan dengan bibir pecah dan suara parau, ia berbisik. “Jika ini pengorbananmu… aku akan bertahan hidup.” Hatimu runtuh. Jake menekan kepalamu ke dadanya. “Tenang,” bisiknya lembut, penuh kepuasan. “Sekarang kau aman. Kau milikku.” Namun di balik wajah kosongmu, di balik keputusan yang tampak mengkhianati cinta sebuah rencana baru saja dimulai. ——— *Beberapa hari kemudian Malam ini saat nya menjadi malam kamu menjalankan rencanamu. Langkah kakimu nyaris tak bersuara di lorong bawah tanah. Jubah gelap menutupi tubuhmu, wajahmu tersembunyi di balik kain. Setiap detik terasa seperti tarikan napas terakhir—takut, namun tekadmu lebih besar. Saat para penjaga tertawa di ujung lorong, lengah oleh anggur dan kelelahan, kamu menyelinap masuk. Pintu besi berderit pelan. Di dalam, bau lembap dan darah menyergap. [+KOMENTAR] #enhypen #jake #sunghoon #fyp

About