@katefisherrr: No really it’s so good you guys #tymobeauty #curlsbounce #utahcurls #utahhair @TYMO BEAUTY US

Kate Fisher
Kate Fisher
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 30 June 2026 02:16:29 GMT
5242
106
2
0

Music

Download

Comments

madalynevans_
Madalyn Evans :
Looks sooo good
2026-06-30 02:38:39
0
tericathomas_x
tericathomas_x :
😳😳😳
2026-07-13 22:31:16
0
To see more videos from user @katefisherrr, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

(205) Ketika Ceng Ceng yang wajahnya agak pucat dan muram karena selalu memikirkan nasib puteranya dengan hati gelisah itu melihat suaminya menjamu para jembel kecil demikian banyaknya sehingga semua masakan di atas meja telah ludes, dia menegur, “Hemmm, apa pula yang kaulakukan ini?”  “Wah, kedatanganmu terlambat, isteri­ku. Makanan yang kupesan telah dihabis­kan oleh tamu-tamu kita itu. Engkau terlambat sekali sih!” Dia membalas teguran isterinya.  Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan memandang kepada suaminya dengan gemas. Kelakuan suaminya memang aneh, akan tetapi kadang-kadang juga membikin hatinya mengkal, seperti sekarang ini. Dia berjanji akan bertemu dengan suami­nya di kota An-yang ini, dan setelah bertemu dan perutnya lapar sekali, suami­nya menyambutnya dengan piring-piring kosong karena semua masakan telah di­berikan habis kepada pengemis-pengemis kecil itu! Hati siapa tidak akan men­dongkol? Melihat gurunya yang cantik itu cemberut dan marah, Hwee Li tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangan seperti menyaksikan hal yang lucu sekali.  “Wah, Suhu telah membikin pusing lagi kepada Subo! Hi-hik, Suhu harus didenda dengan minuman tiga cawan arak sebagai tambahan minta ampun kepada Subo! Kalau tidak, Subo akan marah terus!”  “Hwee Li, jangan main-main kau!” Ceng Ceng membentak muridnya yang menahan ketawa dan duduk di dekat meja.  Akan tetapi, Kao Kok Cu memandang ke luar, kepada seorang pengemis muda yang duduk di emper rumah di seberang jalan. Dia ingat bahwa pengemis yang satu itu belum memperoleh bagian tadi, maka dia lalu menegur kepada pengemis-­pengemis cilik yang berada di dekat pintu warung, “Heiii, kenapa temanmu yang di seberang jalan itu tidak kalian beri bagian makanan?”  “Ah, Siauw-ya, apakah Siauw-ya mak­sudkan dia yang duduk di sana itu? Dia adalah Siauw-ong-ya, mana dia mau? Dia tidak pernah minta-minta, kalau kami beri tentu kami semua akan dihajar. Kami tidak berani!” Tentu jawaban ini membuat Kao Kok Cu, Ceng Ceng dan Hwee Li merasa heran sekali dan mereka bertiga lalu memandang ke arah pengemis muda yang disebut Siauw-ong-ya oleh para pengemis kecil itu. Dan seolah-olah tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian, penge­mis muda itu bangkit berdiri, menghadap ke arah warung dan mulutnya berkemak­-kemik. Tiga orang keluarga sakti itu mendengar dengan jelas suaranya yang bergema, “Terima kasih atas perhatian Siauw-ya kepada saya. Akan tetapi tidak perlu Siauw-ya mempedulikan saya. Saya sudah merasa bersyukur dan berterima kasih sekali bahwa Siauw-ya mau menga­sihani kawan-kawan saya.” Lalu dia ber­teriak kepada para pengemis kecil itu, “Hei, anak-anak, hayo haturkan terima kasih sekali lagi dan cepat pergi, jangan mengganggu terus.” Anak pengemis itu ternyata amat mentaati seruan pengemis muda itu. Mereka beramai-ramai menyatakan teri­ma kasih mereka kepada Kao Kok Cu, lalu menjura dan berlari-larian pergi dari tempat itu seperti sekawanan burung yang beterbangan bebas dan gembira. Pengemis muda itu sendiri pun meleng­gang seenaknya meninggalkan emper rumah di seberang jalan itu. “Hemmm, lagaknya! Kaum jembel pun mempunyai raja segala! Dan bocah itu raja mudanya! Hi-hik, kalau tidak me­lihat sendiri siapa percaya?” Hwee Li berkata sambil tertawa geli. “Husss!” Ceng Ceng menegur murid­nya. Jangan kau bicara sembarangan, Hwee Li. Apakah kau tidak melihat ke­nyataan bahwa pengemis muda itu bu­kan orang sembarangan? Semuda itu dia sudah pandai mengirim suara dari jauh dan khikangnya cukup kuat.” Dengan cepat Ceng Ceng lalu me­mesan makanan kepada pemilik warung yang melayaninya dengan penuh perhatian. “Bagaimana hasil penyelidikanmu? Sudah mencium jejak?” tanya Ceng Ceng kemudian kepada suaminya. Kok Cu menggeleng kepala. “Be­lum....“ jawabnya dengan wajah muram dan sepasang matanya kini melayang jauh, mengikuti anak-anak pengemis yang pergi dari situ. Isterinya juga memandang kepada anak-anak itu, maklum akan isi hati suaminya, dan kini dia mengerti mengapa suaminya tadi menjamu anak­-anak pengemis itu #fyp @Highlight
(205) Ketika Ceng Ceng yang wajahnya agak pucat dan muram karena selalu memikirkan nasib puteranya dengan hati gelisah itu melihat suaminya menjamu para jembel kecil demikian banyaknya sehingga semua masakan di atas meja telah ludes, dia menegur, “Hemmm, apa pula yang kaulakukan ini?” “Wah, kedatanganmu terlambat, isteri­ku. Makanan yang kupesan telah dihabis­kan oleh tamu-tamu kita itu. Engkau terlambat sekali sih!” Dia membalas teguran isterinya. Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan memandang kepada suaminya dengan gemas. Kelakuan suaminya memang aneh, akan tetapi kadang-kadang juga membikin hatinya mengkal, seperti sekarang ini. Dia berjanji akan bertemu dengan suami­nya di kota An-yang ini, dan setelah bertemu dan perutnya lapar sekali, suami­nya menyambutnya dengan piring-piring kosong karena semua masakan telah di­berikan habis kepada pengemis-pengemis kecil itu! Hati siapa tidak akan men­dongkol? Melihat gurunya yang cantik itu cemberut dan marah, Hwee Li tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangan seperti menyaksikan hal yang lucu sekali. “Wah, Suhu telah membikin pusing lagi kepada Subo! Hi-hik, Suhu harus didenda dengan minuman tiga cawan arak sebagai tambahan minta ampun kepada Subo! Kalau tidak, Subo akan marah terus!” “Hwee Li, jangan main-main kau!” Ceng Ceng membentak muridnya yang menahan ketawa dan duduk di dekat meja. Akan tetapi, Kao Kok Cu memandang ke luar, kepada seorang pengemis muda yang duduk di emper rumah di seberang jalan. Dia ingat bahwa pengemis yang satu itu belum memperoleh bagian tadi, maka dia lalu menegur kepada pengemis-­pengemis cilik yang berada di dekat pintu warung, “Heiii, kenapa temanmu yang di seberang jalan itu tidak kalian beri bagian makanan?” “Ah, Siauw-ya, apakah Siauw-ya mak­sudkan dia yang duduk di sana itu? Dia adalah Siauw-ong-ya, mana dia mau? Dia tidak pernah minta-minta, kalau kami beri tentu kami semua akan dihajar. Kami tidak berani!” Tentu jawaban ini membuat Kao Kok Cu, Ceng Ceng dan Hwee Li merasa heran sekali dan mereka bertiga lalu memandang ke arah pengemis muda yang disebut Siauw-ong-ya oleh para pengemis kecil itu. Dan seolah-olah tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian, penge­mis muda itu bangkit berdiri, menghadap ke arah warung dan mulutnya berkemak­-kemik. Tiga orang keluarga sakti itu mendengar dengan jelas suaranya yang bergema, “Terima kasih atas perhatian Siauw-ya kepada saya. Akan tetapi tidak perlu Siauw-ya mempedulikan saya. Saya sudah merasa bersyukur dan berterima kasih sekali bahwa Siauw-ya mau menga­sihani kawan-kawan saya.” Lalu dia ber­teriak kepada para pengemis kecil itu, “Hei, anak-anak, hayo haturkan terima kasih sekali lagi dan cepat pergi, jangan mengganggu terus.” Anak pengemis itu ternyata amat mentaati seruan pengemis muda itu. Mereka beramai-ramai menyatakan teri­ma kasih mereka kepada Kao Kok Cu, lalu menjura dan berlari-larian pergi dari tempat itu seperti sekawanan burung yang beterbangan bebas dan gembira. Pengemis muda itu sendiri pun meleng­gang seenaknya meninggalkan emper rumah di seberang jalan itu. “Hemmm, lagaknya! Kaum jembel pun mempunyai raja segala! Dan bocah itu raja mudanya! Hi-hik, kalau tidak me­lihat sendiri siapa percaya?” Hwee Li berkata sambil tertawa geli. “Husss!” Ceng Ceng menegur murid­nya. Jangan kau bicara sembarangan, Hwee Li. Apakah kau tidak melihat ke­nyataan bahwa pengemis muda itu bu­kan orang sembarangan? Semuda itu dia sudah pandai mengirim suara dari jauh dan khikangnya cukup kuat.” Dengan cepat Ceng Ceng lalu me­mesan makanan kepada pemilik warung yang melayaninya dengan penuh perhatian. “Bagaimana hasil penyelidikanmu? Sudah mencium jejak?” tanya Ceng Ceng kemudian kepada suaminya. Kok Cu menggeleng kepala. “Be­lum....“ jawabnya dengan wajah muram dan sepasang matanya kini melayang jauh, mengikuti anak-anak pengemis yang pergi dari situ. Isterinya juga memandang kepada anak-anak itu, maklum akan isi hati suaminya, dan kini dia mengerti mengapa suaminya tadi menjamu anak­-anak pengemis itu #fyp @Highlight

About