@cinta.herbal20: Sakit di lutut sampe susah berdiri jangan dibiarin begitu aja. Coba deh olesin Kreain Nature ini. #nyerisendi #kreainnature #nyerilutut

CINTA HERBAL
CINTA HERBAL
Open In TikTok:
Region: ID
Wednesday 01 July 2026 02:18:53 GMT
607
2
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @cinta.herbal20, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Paksi Naga Liman adalah kereta kencana Kesultanan Kanoman Cirebon,berukuran panjang 3 meter,tinggi 2,6 meter dan memiliki roda yamg bergaris tengah 1,5 meter. Sesuai dengan namanya yang berasal dari bahasa sansekerta,yakni paksi = burung naga =ular liman  =gajah perpaduan antara karakteristik ketiga ekor binatang tersebut. Badan kereta sebagai tempat duduk penunggangnya berbentuk badan gajah yang sedang melipatkan kakinya. Sisi kiri dan kanannya di tutupi sayap burung garuda,sedangkan di bagian belakang berekor ular naga. Berleher naga dan pada kepala tampak adanya perpaduan karakteristik naga dan gajah. Profil wajah mencerminkan wajah gajah dengan belalai mencuat ke atas yang di tancapi senjata trisula sebagai konsep agama Hindu. Adapun profil naga dituangkan ke dalam bentuk mulut, taring ,telinga dan tanduknya. Kereta kencana ini berwarna merah di perindah dengan kuning emas. Ragam hias bermotif “wadasan” atau batu karang dan “mega mendung” atau awan ,merupakan ciri khas dari ragam hias Cirebon. Ciri lain dari benda kuna ini ialah tidak memiliki Candra Sangkala seperti biasanya benda benda kuno ,melainkan berangka tahun dengan menggunakan huruf jawa. Tertera pada lehernya angka tahun 1530 Saka atau 1608 Masehi. Diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan Penembahan Ratu. Hal yang sama adanya peninggalan roda kereta bekas tunggangan panembahan Girilaya (penembahan Ratu II) yang ditemukan di kampung Pakalangan (sekitar gunun sembung) Cirebon. Pembuatan kereta ini tidak diketahui dengan pasti,namun dapatlah diperkirakan bahwa ia seorang Petinggi. Ia dapat mewujudkan sebuah kereta kencana yang anggun penuh kewibawaan sebagai kereta kebesaran raja/sultan. Sudah barang tentu pula dari hasil pekerjaannya yang apik,tercermin adanya ragam hias yang melekat. Konsep magis tentang hal yang suci berupa air,tanah dan udara tertuang dalam wujud Paksi Naga Liman. Adanya dunia bawah atau air yang dilambangkan dengan naga,dunia tengah atau tanah di lambangkan dengan liman dan dunia atas atau udara dilambangkan dengan burung. Jika ditelusuri lebih lanjut, diduga kereta ini sebelumnya hanyalah sebuah”jampana” atau tandu. Terlebih-lebih lagi bila dilihat bagian badan yang merupakan kesatuan utuh, begitu pula kelengkapan ragam hias yang mempunyai ciri khas Cirebon. Perkembangan selanjutnya tandu itu dilengkapi dengan roda sehingga terwujudlah sebuah kereta kencana. Hal itu tampak pada konsturksi putaran roda di bagian depan merupakan pengaruh cina. Begitu pula bentuk roda seperti payung dengan kemiringan as 40 derajat dan ukurannya yang telah menggunakan satuan centi meter,merupakan pengaruh zaman sesudahnya yaitu dari eropa. Sejak tahun 1930 kereta tersebut tidak digunakan lagi, disimpan di museum milik keluarga Sultan Kanoman . Walaupun demikian masyarakat Cirebon masih mencintai dan mengagumi kehadiran paksi Naga Liman di keraton kanoman. Terbukti dengan sering datangnya mereka ke tempat itu untuk mendapatkan berkah dan kebahagiaan. Salah satu cara untuk mendapatkan berkah itu ialah mengusapkan saputangan pada badan kereta, kemudian di usapka pada wajahnya. Mereka percaya bahwa benda benda kuna peninggalan raja terdahulu masih memiliki kekuatan gaib. Kereta paksi Naga Liman telah keropos ditelan waktu,sehingga dibuatlah replika dengan bentuk dan ukura yang sama. Semula tujuannya untuk di pamerkan pada expo 1986 di Canada. #cirebon #paksinagaliman #bendebersejarah #kesultanancirebon
Paksi Naga Liman adalah kereta kencana Kesultanan Kanoman Cirebon,berukuran panjang 3 meter,tinggi 2,6 meter dan memiliki roda yamg bergaris tengah 1,5 meter. Sesuai dengan namanya yang berasal dari bahasa sansekerta,yakni paksi = burung naga =ular liman =gajah perpaduan antara karakteristik ketiga ekor binatang tersebut. Badan kereta sebagai tempat duduk penunggangnya berbentuk badan gajah yang sedang melipatkan kakinya. Sisi kiri dan kanannya di tutupi sayap burung garuda,sedangkan di bagian belakang berekor ular naga. Berleher naga dan pada kepala tampak adanya perpaduan karakteristik naga dan gajah. Profil wajah mencerminkan wajah gajah dengan belalai mencuat ke atas yang di tancapi senjata trisula sebagai konsep agama Hindu. Adapun profil naga dituangkan ke dalam bentuk mulut, taring ,telinga dan tanduknya. Kereta kencana ini berwarna merah di perindah dengan kuning emas. Ragam hias bermotif “wadasan” atau batu karang dan “mega mendung” atau awan ,merupakan ciri khas dari ragam hias Cirebon. Ciri lain dari benda kuna ini ialah tidak memiliki Candra Sangkala seperti biasanya benda benda kuno ,melainkan berangka tahun dengan menggunakan huruf jawa. Tertera pada lehernya angka tahun 1530 Saka atau 1608 Masehi. Diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan Penembahan Ratu. Hal yang sama adanya peninggalan roda kereta bekas tunggangan panembahan Girilaya (penembahan Ratu II) yang ditemukan di kampung Pakalangan (sekitar gunun sembung) Cirebon. Pembuatan kereta ini tidak diketahui dengan pasti,namun dapatlah diperkirakan bahwa ia seorang Petinggi. Ia dapat mewujudkan sebuah kereta kencana yang anggun penuh kewibawaan sebagai kereta kebesaran raja/sultan. Sudah barang tentu pula dari hasil pekerjaannya yang apik,tercermin adanya ragam hias yang melekat. Konsep magis tentang hal yang suci berupa air,tanah dan udara tertuang dalam wujud Paksi Naga Liman. Adanya dunia bawah atau air yang dilambangkan dengan naga,dunia tengah atau tanah di lambangkan dengan liman dan dunia atas atau udara dilambangkan dengan burung. Jika ditelusuri lebih lanjut, diduga kereta ini sebelumnya hanyalah sebuah”jampana” atau tandu. Terlebih-lebih lagi bila dilihat bagian badan yang merupakan kesatuan utuh, begitu pula kelengkapan ragam hias yang mempunyai ciri khas Cirebon. Perkembangan selanjutnya tandu itu dilengkapi dengan roda sehingga terwujudlah sebuah kereta kencana. Hal itu tampak pada konsturksi putaran roda di bagian depan merupakan pengaruh cina. Begitu pula bentuk roda seperti payung dengan kemiringan as 40 derajat dan ukurannya yang telah menggunakan satuan centi meter,merupakan pengaruh zaman sesudahnya yaitu dari eropa. Sejak tahun 1930 kereta tersebut tidak digunakan lagi, disimpan di museum milik keluarga Sultan Kanoman . Walaupun demikian masyarakat Cirebon masih mencintai dan mengagumi kehadiran paksi Naga Liman di keraton kanoman. Terbukti dengan sering datangnya mereka ke tempat itu untuk mendapatkan berkah dan kebahagiaan. Salah satu cara untuk mendapatkan berkah itu ialah mengusapkan saputangan pada badan kereta, kemudian di usapka pada wajahnya. Mereka percaya bahwa benda benda kuna peninggalan raja terdahulu masih memiliki kekuatan gaib. Kereta paksi Naga Liman telah keropos ditelan waktu,sehingga dibuatlah replika dengan bentuk dan ukura yang sama. Semula tujuannya untuk di pamerkan pada expo 1986 di Canada. #cirebon #paksinagaliman #bendebersejarah #kesultanancirebon

About