@la.repubblica: “D’Antini Pietro? D’Antini Pietro? Assente?”. Passa qualche secondo. Poi l’apparizione: “Presente. Presente”. Occhiali da sole e asset da vacanziero. Una scritta, subito dietro: Wolf legend, soltanto una delle attrazioni del parco divertimenti Gardaland. Da lì Pietro D’Antini, consigliere di maggioranza del comune di Acquaviva delle Fonti, è rimasto collegato per tutta la durata della seduta. Con l’orecchio sempre teso, frastuono permettendo, verso quel che accadeva nell’aula consiliare.  Sul volto del consigliere di Fratelli d’Italia, i bagliori del luna park. Non c’era possibilità di fare a meno della sua presenza: su 11 componenti della maggioranza, il numero legale si è fissato a 9. Senza D'Antini collegato, i presenti sarebbero stati 8. La seduta sarebbe saltata. E così anche grazie al regolamento, risalente al periodo della pandemia, che consente ai consiglieri di partecipare alle sedute da remoto. video Comune di Acquaviva delle Fonti

la.repubblica
la.repubblica
Open In TikTok:
Region: IT
Wednesday 01 July 2026 07:41:15 GMT
179887
7097
91
3097

Music

Download

Comments

davide78li
davide78li :
Se faccio tardi di 15 minuti a lavoro mi levano mezz’ora e lui è a gardaland … è uno schifo !!!
2026-07-01 07:50:39
966
andreamc76
ANDREAFLY :
imbarazzante
2026-07-01 07:44:37
486
italia_senzafiltro
ItaliaSenzaFiltro :
E quale sarebbe la cosa sbagliata? Anche se in vacanza ha dedicato del suo tempo a compiti istituzionali. Se il regolamento comunale prevede anche la presenza da remoto ha onorato il suo impegno.
2026-07-01 09:07:27
41
cicciocarito
Ciccio Polemica :
indovina il partito, livello facile
2026-07-01 08:27:44
158
lafamgilia
Famiglia :
No si vede dalla faccia che è un gran lavoratore
2026-07-01 08:11:49
645
user638291472873
user638291472873 :
io vorrei sapere perché esiste il consiglio comunale di Acquaviva delle fonti
2026-07-01 07:55:31
48
davide.mancone.28
Davide :
Indovina il partito 🤣
2026-07-01 08:52:29
13
gikaslyordb
Fabio :
Almeno la furbizia di collegarsi dall’hotel… o in macchina
2026-07-01 08:37:45
78
lelloskunk
Lello Pellegrino :
Probabilmente era a Gardaland perché in ferie, e quindi non poteva nemmeno partecipare alla seduta e votare…
2026-07-01 08:11:35
17
valentina.z955
Valentina Z. :
Che bel Paese siamo!
2026-07-01 08:00:18
44
user723612807546
user36201783548962 :
ma è legale?
2026-07-01 08:55:28
5
andrezena86
Andredoria88 :
acquaviva menzionata prima di gta6
2026-07-01 08:15:33
10
kekko0832405
kekko083 :
e di quale partito...e di quale partito?? 🎺🎺🎺🎺🎺
2026-07-01 08:42:51
22
foresinho23
marco forese :
acquaviva delle fonti menzionata
2026-07-01 07:48:12
14
madkashreal
Becky Vergnano | MADKASH 🩸 :
2026-07-01 07:45:56
5
albino_8691802999609738
albino_86 secondo :
la classe politica in Italia 🥀
2026-07-01 08:22:06
5
pierluigifenell74
pg :
E quindi? Ha espletato la sua funzione in maniera giusta? Ha prestato attenzione? Ben venga!
2026-07-01 09:23:03
0
bambatok2026
bambatok2026 :
Se ha seguito ed è regolare secondo la legge vigente poter votare da remoto, non ci vedo nulla di male. Riguardo la professionalità, non è un bel vedere, ma questo è soggiettivo.
2026-07-01 08:43:03
1
graziano.battista
Graziano Battista :
presente 😂😂😂🤣🤣🤣
2026-07-01 08:49:46
3
edoardogrosso
Edoardo Grosso :
non capisco cosa c'è di male
2026-07-01 08:22:11
0
catacumbas_boy
Deca F :
Poteva essere di qualsiasi partito e invece
2026-07-01 09:26:40
4
user4849498246273
manu :
Viva L Italia 🇮🇹
2026-07-01 08:13:42
4
lucaliuk5
Luca Liuk621 :
imbarazzante
2026-07-01 09:05:13
2
To see more videos from user @la.repubblica, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Lima Juta yang Tak Tercatat di Slip Gaji” Namanya Pak Marno. Umur 47, OB di kantor percetakan kecil Purworejo. Gajinya UMR, 5 juta pas. Tapi kerjanya? 10 juta nilainya.  Jam 6 pagi dia sudah nyapu halaman. Jam 7 nyeduh kopi buat semua karyawan tanpa diminta. Printer macet, dia yang benerin. Anak bos nangis, dia yang gendong sambil tetap ngepel. Lembur sampai magrib, tapi di slip lembur nggak pernah ditulis. Teman-temannya bilang, “No, bodoh kamu. Ngapain kerja rodi dibayar segitu?” Pak Marno cuma ketawa. “Rejeki nggak cuma gaji, Mas.” Dan bener. 5 juta yang “hilang” dari slip gajinya itu, Tuhan bayar dengan cara lain: 1. Bayaran pertama: Sehat   Anak semata wayangnya, Dinda, demam tinggi 3 hari. Tetangga yang anaknya dokter gaji 20 juta bolak-balik RS habis jutaan. Pak Marno cuma bawa Dinda ke puskesmas, dikasih obat gratis. Malamnya Dinda sembuh, minta tempe goreng buatan bapaknya. Kata dokter puskesmas, “Imun anak Bapak bagus. Mungkin karena hatinya tenang.” Tenang itu mahal, dan nggak ada di slip gaji. 2. Bayaran kedua: Harga Diri   Waktu banjir masuk percetakan, mesin cetak utama kerendem. Bos sudah pasrah rugi ratusan juta. Pak Marno yang tiap hari bersihin mesin, hafal luar dalam. Dia bongkar, keringin, rakit lagi 2 hari 2 malam nggak pulang. Mesin nyala. Bos nangis meluk dia, “No, mulai besok kamu jadi kepala produksi.” Gaji nggak langsung naik, tapi sejak hari itu, kalau Pak Marno lewat, semua karyawan berdiri. Hormat. Itu nggak bisa dibeli 5 juta. 3. Bayaran ketiga: Pulang yang Ditunggu   Lebaran kemarin, Dinda lulus SMA ranking 1. Dapat beasiswa penuh ke UGM. Pak Marno nggak punya uang buat ngekosin. Dia pasrah. Tiba-tiba bos manggil, “No, saya punya kontrakan kosong depan UGM. Pakai aja buat Dinda, gratis. Anggap THR yang telat 10 tahun.” Malamnya Pak Marno sujud lama. Ternyata 5 juta yang “nggak dibayar” kantor itu dicicil Tuhan lewat napas anaknya, lewat mesin yang selamat, lewat masa depan Dinda. Lalu ada kisah satunya. Di kantor yang sama ada Mas Dito, staff marketing. Kerjanya santai, dateng jam 10, pulang jam 3. Tapi karena keponakan bos, gajinya 10 juta. Kinerjanya? Mungkin cuma 5 juta. 5 juta “lebih” itu diambil Tuhan pelan-pelan: Motor barunya hilang di parkiran. Anaknya jatuh dari tangga, operasi habis 8 juta. Istrinya kena arisan bodong, uang tabungan ludes. Tiap bulan selalu ada aja “biaya tak terduga” persis 5 juta. Sampai Mas Dito bilang ke Pak Marno, “Pak, kok hidup saya tekor terus ya?” Pak Marno nepuk pundaknya. “Mungkin karena kita ngambil yang bukan hak kita, Den. Alam semesta itu pinter ngitung.” Perenungan: Timbangan yang Tak Pernah Salah Gambar ini ngomongin timbangan langit. Di dunia, yang ngitung gaji itu HRD. Bisa salah. Bisa nepotisme. Tapi di atas sana, ada “Akuntan” yang catatannya lebih detail dari BPJS.  1. Rejeki bukan cuma angka di ATM   Rejeki itu anak yang nggak rewel waktu kita nggak bisa beli susu mahal. Rejeki itu badan yang kuat pas tetangga langganan RS. Rejeki itu dimudahkan urusan, dijauhkan dari fitnah, tidur nyenyak tanpa ngutang. Kalau hari ini gajimu 5 juta tapi kerjamu 10 juta, tenang. 5 juta sisanya lagi muter. Mungkin jadi doa ibumu yang dikabulkan. Mungkin jadi ban mobilmu yang nggak bocor di jalan. 2. Ambil hak orang lain = ngutang ke semesta   Gaji 10 juta tapi kerja 5 juta itu enak di awal. Tapi semesta nagihnya sadis. Bisa lewat sakit, lewat kehilangan, lewat hati yang gelisah terus. Karena sejatinya kita lagi “ngutang” 5 juta setiap bulan. Dan nggak ada debt collector yang lebih disiplin dari takdir. 3. Ikhlas itu investasi dengan bunga paling tinggi   Pak Marno nggak pernah nuntut. Dia lakuin lebih karena percaya: “Yang saya tanam ke orang, saya panen dari Tuhan.” Dan Tuhan bayarnya nggak pakai transfer bank. Dia bayar pakai cerita. Cerita anak lulus, cerita badan sehat, cerita nama baik. Jadi kalau hari ini kamu ngerasa “tekor”, kerja rodi tapi gaji seuprit, coba deh ubah sudut pandangnya. Mungkin kamu lagi nabung. Dan tabungan di “Bank Langit” itu bunganya bukan 5% setahun.
Lima Juta yang Tak Tercatat di Slip Gaji” Namanya Pak Marno. Umur 47, OB di kantor percetakan kecil Purworejo. Gajinya UMR, 5 juta pas. Tapi kerjanya? 10 juta nilainya. Jam 6 pagi dia sudah nyapu halaman. Jam 7 nyeduh kopi buat semua karyawan tanpa diminta. Printer macet, dia yang benerin. Anak bos nangis, dia yang gendong sambil tetap ngepel. Lembur sampai magrib, tapi di slip lembur nggak pernah ditulis. Teman-temannya bilang, “No, bodoh kamu. Ngapain kerja rodi dibayar segitu?” Pak Marno cuma ketawa. “Rejeki nggak cuma gaji, Mas.” Dan bener. 5 juta yang “hilang” dari slip gajinya itu, Tuhan bayar dengan cara lain: 1. Bayaran pertama: Sehat Anak semata wayangnya, Dinda, demam tinggi 3 hari. Tetangga yang anaknya dokter gaji 20 juta bolak-balik RS habis jutaan. Pak Marno cuma bawa Dinda ke puskesmas, dikasih obat gratis. Malamnya Dinda sembuh, minta tempe goreng buatan bapaknya. Kata dokter puskesmas, “Imun anak Bapak bagus. Mungkin karena hatinya tenang.” Tenang itu mahal, dan nggak ada di slip gaji. 2. Bayaran kedua: Harga Diri Waktu banjir masuk percetakan, mesin cetak utama kerendem. Bos sudah pasrah rugi ratusan juta. Pak Marno yang tiap hari bersihin mesin, hafal luar dalam. Dia bongkar, keringin, rakit lagi 2 hari 2 malam nggak pulang. Mesin nyala. Bos nangis meluk dia, “No, mulai besok kamu jadi kepala produksi.” Gaji nggak langsung naik, tapi sejak hari itu, kalau Pak Marno lewat, semua karyawan berdiri. Hormat. Itu nggak bisa dibeli 5 juta. 3. Bayaran ketiga: Pulang yang Ditunggu Lebaran kemarin, Dinda lulus SMA ranking 1. Dapat beasiswa penuh ke UGM. Pak Marno nggak punya uang buat ngekosin. Dia pasrah. Tiba-tiba bos manggil, “No, saya punya kontrakan kosong depan UGM. Pakai aja buat Dinda, gratis. Anggap THR yang telat 10 tahun.” Malamnya Pak Marno sujud lama. Ternyata 5 juta yang “nggak dibayar” kantor itu dicicil Tuhan lewat napas anaknya, lewat mesin yang selamat, lewat masa depan Dinda. Lalu ada kisah satunya. Di kantor yang sama ada Mas Dito, staff marketing. Kerjanya santai, dateng jam 10, pulang jam 3. Tapi karena keponakan bos, gajinya 10 juta. Kinerjanya? Mungkin cuma 5 juta. 5 juta “lebih” itu diambil Tuhan pelan-pelan: Motor barunya hilang di parkiran. Anaknya jatuh dari tangga, operasi habis 8 juta. Istrinya kena arisan bodong, uang tabungan ludes. Tiap bulan selalu ada aja “biaya tak terduga” persis 5 juta. Sampai Mas Dito bilang ke Pak Marno, “Pak, kok hidup saya tekor terus ya?” Pak Marno nepuk pundaknya. “Mungkin karena kita ngambil yang bukan hak kita, Den. Alam semesta itu pinter ngitung.” Perenungan: Timbangan yang Tak Pernah Salah Gambar ini ngomongin timbangan langit. Di dunia, yang ngitung gaji itu HRD. Bisa salah. Bisa nepotisme. Tapi di atas sana, ada “Akuntan” yang catatannya lebih detail dari BPJS. 1. Rejeki bukan cuma angka di ATM Rejeki itu anak yang nggak rewel waktu kita nggak bisa beli susu mahal. Rejeki itu badan yang kuat pas tetangga langganan RS. Rejeki itu dimudahkan urusan, dijauhkan dari fitnah, tidur nyenyak tanpa ngutang. Kalau hari ini gajimu 5 juta tapi kerjamu 10 juta, tenang. 5 juta sisanya lagi muter. Mungkin jadi doa ibumu yang dikabulkan. Mungkin jadi ban mobilmu yang nggak bocor di jalan. 2. Ambil hak orang lain = ngutang ke semesta Gaji 10 juta tapi kerja 5 juta itu enak di awal. Tapi semesta nagihnya sadis. Bisa lewat sakit, lewat kehilangan, lewat hati yang gelisah terus. Karena sejatinya kita lagi “ngutang” 5 juta setiap bulan. Dan nggak ada debt collector yang lebih disiplin dari takdir. 3. Ikhlas itu investasi dengan bunga paling tinggi Pak Marno nggak pernah nuntut. Dia lakuin lebih karena percaya: “Yang saya tanam ke orang, saya panen dari Tuhan.” Dan Tuhan bayarnya nggak pakai transfer bank. Dia bayar pakai cerita. Cerita anak lulus, cerita badan sehat, cerita nama baik. Jadi kalau hari ini kamu ngerasa “tekor”, kerja rodi tapi gaji seuprit, coba deh ubah sudut pandangnya. Mungkin kamu lagi nabung. Dan tabungan di “Bank Langit” itu bunganya bukan 5% setahun.

About