@dustomeye566: #duet with @🕋 🤲 আসসালামু আলাইকুম 🤲🕋

🥰মায়ের 🥰দোয়া🥰
🥰মায়ের 🥰দোয়া🥰
Open In TikTok:
Region: BD
Wednesday 01 July 2026 12:06:43 GMT
157
12
1
2

Music

Download

Comments

nipa1865
Nipa :
আমিন 🤲
2026-07-01 12:28:25
0
To see more videos from user @dustomeye566, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Fix your argument! The intelligence gap here is pretty huge to the point I have to alter my persona to be able to fit into a lower intelligence agenda. Why would I fix something that isn’t broken? (Aka myself). Have you never stopped to ask yourself if trashing people’s lives just because they don’t believe what you believe would be okay if it was done to you? Can we destroy your things and life you’ve evolved for? Oh wait, you lack evolution. Clearly. I tried my best to put my debate in layman’s terms where even an intelligence gap may understand even the most basic concept. Coercion and force working together in unison usually exemplify a system that cannot be trusted. One that demands immediate anything. Which showcases a lack of comprehension. But if anyone says anything then you try to force us to wait . Because you cannot handle the very mirror being held up to your actions that all it is : darvo and projection. Throw in a little sprinkle sprinkle of blame shifting and diversion tactics and wallah! “They’ll never catch onto our crime organization we are trying to build!”  Like the abused community isn’t well versed in tip toeing around our abusers explosive reactions to not getting their wants and needs met. Go tell your BS to the birds. Read a book. Do something besides playing telephone with gossip and slander hoping someone picks up on the other line and hears your sob story out. I am sending you all away with love, yet you probably have zero idea what that even means. 😭😂🤷🏽‍♀️💕 #yikes #fyp #foryoupage #debate #propaganda
Fix your argument! The intelligence gap here is pretty huge to the point I have to alter my persona to be able to fit into a lower intelligence agenda. Why would I fix something that isn’t broken? (Aka myself). Have you never stopped to ask yourself if trashing people’s lives just because they don’t believe what you believe would be okay if it was done to you? Can we destroy your things and life you’ve evolved for? Oh wait, you lack evolution. Clearly. I tried my best to put my debate in layman’s terms where even an intelligence gap may understand even the most basic concept. Coercion and force working together in unison usually exemplify a system that cannot be trusted. One that demands immediate anything. Which showcases a lack of comprehension. But if anyone says anything then you try to force us to wait . Because you cannot handle the very mirror being held up to your actions that all it is : darvo and projection. Throw in a little sprinkle sprinkle of blame shifting and diversion tactics and wallah! “They’ll never catch onto our crime organization we are trying to build!” Like the abused community isn’t well versed in tip toeing around our abusers explosive reactions to not getting their wants and needs met. Go tell your BS to the birds. Read a book. Do something besides playing telephone with gossip and slander hoping someone picks up on the other line and hears your sob story out. I am sending you all away with love, yet you probably have zero idea what that even means. 😭😂🤷🏽‍♀️💕 #yikes #fyp #foryoupage #debate #propaganda
#pov || pt 4
#pov || pt 4 "Rik... lo selama ini ngerokok?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutmu saat kalian baru saja melewati gerbang sekolah. Riki yang berjalan di sampingmu langsung menoleh—untuk sepersekian detik, ekspresinya terlihat sedikit terkejut. "Hah?" Dia mengerutkan kening. "Enggak, aku nggak pernah coba begituan." Jawabannya cepat, hampir terlalu cepat. Kamu memperhatikannya beberapa detik. "Lo nggak lagi bohongin gue kan?" Riki terlihat bingung. "Enggak. Kenapa kamu nanya gitu?" Kamu terdiam sebentar lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa." Setelah itu kamu mempercepat langkahmu sedikit, meninggalkannya setengah langkah di belakang. Sebenarnya kamu juga tidak tahu kenapa masih memikirkan omongan Jay dan Viola kemarin. ~~~ Suara benturan keras tiba-tiba terdengar dari lapangan basket dan disusul teriakan seseorang. "Awas! Bola!" Kamu refleks menoleh dan sebuah bola basket meluncur lurus ke arah kepalamu dengan kecepatan penuh—jantungmu langsung berdegup kencang. Tapi sebelum bola itu sempat mengenai kamu—Plak! Seseorang menangkapnya dengan satu tangan. Bola itu berhenti tepat beberapa sentimeter dari wajahmu, dan orang yang memegangnya adalah Riki—cowok itu berdiri di sampingmu dengan ekspresi datar, seolah baru saja melakukan sesuatu yang biasa. "Kamu nggak apa-apa?" Kamu tidak langsung menjawab—matamu masih tertuju pada bola basket di tangannya. Riki menangkap bola itu? Bahkan anak basket pun belum tentu bisa bereaksi secepat itu. Perlahan ingatanmu kembali ke hari-hari sebelumnya—Riki yang selalu menghindari lapangan basket, Riki yang tidak pernah ikut olahraga kalau tidak dipaksa, dan Riki yang bahkan pernah bilang dia tidak terlalu suka olahraga. "Y/n?" Suara Riki membuatmu tersadar. Kamu berkedip pelan lalu mengangguk cepat. "N-nggak apa-apa." Riki terlihat lega—dia lalu melempar bola itu kembali ke lapangan dengan gerakan yang terlalu mulus untuk seseorang yang katanya tidak bisa bermain basket. Kamu melihatnya, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang terasa aneh. "Gue duluan ya Rik." Tanpa menunggu jawabannya, kamu langsung berjalan menuju kelas. Di belakangmu, Riki hanya berdiri diam memperhatikan punggungmu menjauh. ~~~ Sepanjang perjalanan menuju kelas, langkahmu terus berjalan tapi pikiranmu tidak—yang terngiang justru suara Jay dan Viola. "Gue liat dia jalan sambil ngerokok... gue liat dia naik motor gede... dia nggak pake kacamata." Kemarin kamu menganggap semua itu omong kosong, tapi sekarang keyakinan itu mulai goyah. Karena kalau dipikir-pikir lagi, mungkin yang paling aneh bukan cerita mereka—mungkin yang paling aneh adalah kenyataan bahwa selama ini kamu tidak pernah benar-benar tahu siapa Riki sebenarnya. ~~~ Bel istirahat berbunyi—dan seperti beberapa hari terakhir, kakimu bergerak begitu saja menuju kantin, dan matamu langsung mencari satu orang—Riki. Cowok itu duduk di meja pojok seperti biasa, makan siang sendirian sambil sesekali melihat ponselnya. Kamu langsung berjalan ke arahnya. "Rik." Riki mengangkat kepala dan senyum kecil langsung muncul di wajahnya. Kamu duduk di kursi seberangnya lalu meletakkan nampan makanan di meja. "Riki... lo mau makan nasi gue nggak?" Riki yang baru saja menyuap makanan langsung berhenti. "Nasi?" Dia terlihat bingung. "Kenapa kamu kasih aku?" Kamu menatap piringmu sendiri—masih utuh, nasi, ayam, dan sayur. "Gue cuma mau makan ayamnya aja." "Oh." Riki mengangguk pelan seperti akhirnya mengerti. Tanpa banyak bicara, dia menarik piringmu mendekat lalu memindahkan hampir seluruh nasi ke piringnya sendiri. Tapi ternyata dia belum selesai—dengan santai, Riki mengambil ayam dari piringnya sendiri lalu memindahkannya ke piringmu. Kamu mengangkat alis. "Ayamnya buat gue?" "Kalau cuma makan satu potong nanti nggak kenyang." Dia tersenyum kecil. "Jadi makan yang banyak ya." +comsec #nishimurariki #ni_ki #enhypenau #enhypen

About