idk :
merelakan seseorang yang kita cintai, adalah proses panjang yang perlahan mengikis bahagia dalam diriku. bukan karena cintaku kurang kuat, tapi karena semesta seolah tak pernah berpihak. aku mencintainya sepenuh hati, aku pernah berdoa dengan air mata yang jatuh diam-diam di malam hari, aku pernah berharap setiap harinya hanya tentang dia, tapi pada akhirnya aku harus sadar, bahwa tidak semua rasa layak diperjuangkan sampai habis-habisan.
aku mulai belajar menerima, walau hati ini menolak. mulai berjalan menjauh, walaupun jiwa ini ingin tetap tinggal. mulai belajar tersenyum, di tengah luka yang tak pernah bisa di sembuhkan sendiri. setiap hari aku hanya berpura-pura tidak apa-apa, walau di dalam kepala namanya selalu berisik, suaranya masih terngiang, senyumnya masih di ingat dengan jelas. aku mencoba menghapus kenangan, tapi kenangan tak bisa di buang begitu saja.
aku mencoba mencintai orang lain, tapi tak ada yang mampu menggantikan tempatnya.
mencoba membenci, tapi hati ini tetap lembut jika bicara tentang dia. dan di antara semua itu, aku tetap mencintai dalam diam, dalam jarak, dalam rindu yang tak bisa ku tunjukkan dan belajar mengikhlaskan tanpa menghapus rasa, belajar menerima tanpa benar-benar rela, dan belajar berjalan sendiri tanpa arah yang jelas.
dan mungkin inilah bentuk paling sunyi dari cinta, ketika aku harus melepaskan seseorang yang aku tahu, adalah satu-satunya yang ingin aku genggam selamanya. aku tetap berdoa agar dia bahagia, walau bukan denganku. aku tetap berharap dia baik-baik saja, meski aku sendiri tidak pernah benar-benar baik semenjak kehilangan dia. dan akhirnya, aku sadar, bahwa cinta bukan selalu soal memiliki, tapi soal keberanian untuk melepaskan, saat tetap bersamanya hanya membuatku terluka lebih dalam setiap harinya"
2026-08-08 08:26:21