@bocchi.rock9: #foxandthehound #trend

BOCCHI_THE_ROCK
BOCCHI_THE_ROCK
Open In TikTok:
Region: US
Friday 03 July 2026 08:56:06 GMT
604698
75071
718
6929

Music

Download

Comments

bardprincess1
Bard Princess :
I think I figured out why im so depressed. this is the type shit I watched as a child.
2026-07-22 14:49:00
8322
jamismith2025
jamismith2025 :
I’m 44 and drunk on a Tuesday. Why would you make me cry in perimenopause?
2026-07-22 02:39:26
3220
twiztedwhizperz
🍓 Hobi's Strawberry⁷ 🍓 :
my horror movie is watching Todd being taken into the forest to stay as he watches her drive away wondering what he did wrong😭😭😭😭😭😭
2026-07-22 08:43:54
2824
brujita_oscura7
Brujita_oscura 🐈‍⬛ :
I used to love this movie as a small child but once I got to maybe 8 yr old I sob uncontrollably watching it so I haven’t seen it since 😭
2026-08-02 16:55:18
1
uneducatedentertainment
The Uneducated Man :
remember when this was the message cartoons told our kids? friendship and love where everything.
2026-07-22 01:18:40
1145
vodkanotonic
🤟&🖕 :
Bambi and this movie made me hate hunters for life.
2026-07-22 13:27:09
916
es.vids3
Es Vids :
These movies had me crying inside bro
2026-08-02 09:41:19
0
user7378830373161
petermeixner816 :
yeah, thanks for that , what about Edgar trying to drown the kittens ?
2026-08-01 12:12:29
0
unapproachable09
unapproachable :
me too never recovered
2026-08-02 16:13:27
0
talidnadie
ᴛᴀʟɪ☽˚。⋆. :
was so traumatized, when I grew up I got a dog and named him Copper
2026-07-22 21:50:27
263
annemichellesawye
Anne Michelle Sawyer :
I love Fox and the hound but as an adult I will actually never watch this again because I just am not stable enough and I fear I never will be🥲
2026-07-24 22:44:08
172
lekwehokte
LekweHokte :
Watching this as a child when it first came out spoke to me about, you can be friends with someone different from you and protect them. Going against the norm.
2026-07-20 01:04:49
69
katie_kins10
Katie 🐢 :
This film destroyed me as a kid. I can’t even talk about it 😂
2026-07-26 17:35:47
11
michelle.lynn.cor3
Michelle :
This whole movie had me crying every 5 seconds.
2026-07-21 18:44:55
124
jordandashti
jordandashti :
This movie is a sensitive topic for me
2026-07-27 18:56:17
9
moke_sweed420
mokesweed :
the proper way to watch fox and the hound is the first part of the 1st movie and right befor copper goes hunting switch it to the 2nd movie and that's how it ends true sweet harmony 😀
2026-07-26 22:33:10
8
duchess.jess
Duchess Jess :
😭😭 the way I immediately teared up
2026-07-27 03:20:28
5
dizzy_dizazter_
Dizzy Dizazter :
Jokes on you... I wanted to cry at 9:28 on July 3rd while planning my sons party...😭😭😭
2026-07-03 13:28:35
56
liabean86
LiaBean86 :
Original Disney Movies will ALWAYS be the GOAT for a once in a life time generation who’s literally lived through more human distraction than most generations IMO
2026-07-22 23:26:01
34
danton15h
Danton15h :
This is so touching. But a true horror and what breaks my heart is the last scene of “all dogs go to heaven.” It was sad enough… but then you learn that the girl who played Anne-Marie, was murdered by her father before the movie was finished… the breaking and choking up in Charlie’s voice is actually real because the VA recorded that scene after she was killed…
2026-07-22 07:26:24
111
brittlynnxo_
brittany | girl mama 🎀 :
disney needs to pay for my therapy
2026-07-24 01:24:55
8
taryn.rambo7
☠︎︎ 𝔗𝔞𝔯𝔶𝔫⚜️ :
Not nice, now I gotta write a note about it
2026-07-03 11:50:57
38
nam1976
user640828062710 :
If only people had the same heart ❤️
2026-07-26 22:06:34
6
michaelcox07
Michael Cox :
"And we'll always be friends forever!"
2026-07-22 02:16:54
8
To see more videos from user @bocchi.rock9, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#pov [9] “Lihat,” katanya pelan, jujur banget. “Nggak ada gengsi. Nggak ada kontrak. Cuma gue… sama lo.” Aku merem. Ngumpet di leher dia. Malu banget. Dia ngecup puncak kepala aku, terus ngerapatin pelukannya. “Tapi gue nggak mau main adil lagi. Gue mau lo.” Aku diem lama di pelukannya. Jantung masih ribut. Malu masih ada. Tapi angetnya dia lebih gede dari malu aku. Pagi itu aku nggak jadi kabur ke kamar mandi.  Aku kalah. Kalah sama Jake yang udah nggak punya gengsi buat ditahan. Jam 8 pagi. Aku bangun dengan misi baru: bikin Jake yang udah nggak ada gengsi itu ngerasain apa yang aku rasain semalam. Dia lagi di dapur, bikin kopi. Pake kemeja hitam, lengan digulung, serius banget kayak lagi rapat miliaran. Cuek. Dingin. Tampan. Menyebalkan. Aku jalan dari belakang, peluk dia dari belakang. Nggak kenceng. Cuma nempelin badan, dagu aku di bahu dia. Kaki aku jinjit. “Pagi, Sayang,” bisik aku di telinganya. Suara paling lemes yang bisa aku keluarin. Badannya kaku seketika. Sendok di tangannya berhenti.  “Y/N, lepas,” katanya. Tapi suaranya nggak setegas biasanya. Agak serak. “Enggak mau,” jawab aku sambil makin ngerapatin pelukan. Hidung aku iseng ngusap leher dia. “Katanya semalam nggak ada gengsi lagi. Katanya mau terus. Masak pagi-pagi udah nolak istri sendiri?” Dia narik napas panjang. Bahunya naik turun.  “Ini dapur. Ada orang,” bisiknya, tapi nggak ngelepas tangan aku yang melingkar di perut dia. Aku malah makin berani. Kecup pipi dia dari belakang. Sekilas. Iseng. “Terus kenapa? Bukannya kamu sendiri yang bilang nggak malu lagi? Masa aku yang malu-maluin duluan?” Dia mutar badan, sekarang posisi kami hadap-hadapan. Jaraknya mepet banget. Matanya natap aku, gelap, bingung, dan… panik. “Y/N, denger,” katanya sambil megang kedua bahu aku. Tapi jempolnya malah ngusap-ngusap lengan aku pelan. Ketahuan gugup. “Gue emang nggak ada gengsi. Tapi kalau lo kayak gini terus dari pagi, gue nggak bisa mikir. Gue ada meeting.” Aku senyum paling polos. Terus jinjit, ngecup dagu dia cepet. “Ya udah cancel meetingnya. Temenin istri sarapan dulu. Kontrak kan udah kita robek semalam, Jake?” Wajahnya merah. Sim Jaehyun orang terdingin, yang kalau presentasi di depan 1000 orang aja nggak berkedip, sekarang kupingnya merah padam. Dia nutup mata, narik napas. Terus narik aku, gendong ala bridal lagi. Tapi kali ini bukan ke kamar. Dia duduk di kursi meja makan, dudukin aku di pangkuannya. “Ya udah,” bisiknya di rambut aku. Suaranya pasrah tapi puas. “Sarapan di sini. Kamu di pangkuan gue. Tapi ada syarat.” “Syarat apa?” tanya aku sambil mainin kancing kemeja dia. Dia angkat dagu aku, cium kening aku lama. “Kamu boleh manja seharian. Tapi malamnya… gue yang manja. Deal?” Aku diem. Muka panas lagi. Sial. Kena mental.  “Curang,” gumam aku di dadanya. Dia ketawa pelan di atas kepala aku. “Iya. Gue curang. Tapi lo duluan yang mancing dari pagi. Jadi sekarang nikmatin.” Terus dia suapin aku roti, sambil dagunya nyender di bahu aku. Nggak ngomong apa-apa lagi. Cuma peluk. Anget.  Gengsinya emang udah hilang. Tapi giliran aku yang sekarang nggak bisa ngomong. Karena ternyata… digituin Jake itu lebih bahaya daripada dia marah. Siang di kantor Jake. Aku nganterin berkas dia. Sama  makan siang yang aku masak sendiri. Pas masuk ruangannya, ada Mbak Clara. Sekretaris pribadinya. Rambut rapi, rok pensil, senyum manis level profesional. Dia lagi nyender ke meja Jake. nunjukin file sambil badannya condong ke depan. Jaraknya... terlalu deket. Hem... kayanya mau caper. Jake duduk, datar. Tapi Clara ketawa kecil tiap Jake ngomong. Tangannya “nggak sengaja” nyentuh lengan kemeja dia pas ngasih pulpen. “Pak, ini file yang Pak Sim minta. Sekalian saya jelasin ya?” suaranya dilunakin. Darah aku langsung naik ke ubun-ubun.  Jake baru mau jawab, tapi aku udah masuk duluan. Bawa kotak makan. Berkas aku taruh langsung di mejanya. Senyum paling manis. “Sayang~” panggil aku, manja. Suara aku 2 oktaf lebih tinggi dari biasanya. (maaf ya upload nya lama, author lagi sibuk) #simjaehyun #jake #4u #alternativeuniverse
#pov [9] “Lihat,” katanya pelan, jujur banget. “Nggak ada gengsi. Nggak ada kontrak. Cuma gue… sama lo.” Aku merem. Ngumpet di leher dia. Malu banget. Dia ngecup puncak kepala aku, terus ngerapatin pelukannya. “Tapi gue nggak mau main adil lagi. Gue mau lo.” Aku diem lama di pelukannya. Jantung masih ribut. Malu masih ada. Tapi angetnya dia lebih gede dari malu aku. Pagi itu aku nggak jadi kabur ke kamar mandi. Aku kalah. Kalah sama Jake yang udah nggak punya gengsi buat ditahan. Jam 8 pagi. Aku bangun dengan misi baru: bikin Jake yang udah nggak ada gengsi itu ngerasain apa yang aku rasain semalam. Dia lagi di dapur, bikin kopi. Pake kemeja hitam, lengan digulung, serius banget kayak lagi rapat miliaran. Cuek. Dingin. Tampan. Menyebalkan. Aku jalan dari belakang, peluk dia dari belakang. Nggak kenceng. Cuma nempelin badan, dagu aku di bahu dia. Kaki aku jinjit. “Pagi, Sayang,” bisik aku di telinganya. Suara paling lemes yang bisa aku keluarin. Badannya kaku seketika. Sendok di tangannya berhenti. “Y/N, lepas,” katanya. Tapi suaranya nggak setegas biasanya. Agak serak. “Enggak mau,” jawab aku sambil makin ngerapatin pelukan. Hidung aku iseng ngusap leher dia. “Katanya semalam nggak ada gengsi lagi. Katanya mau terus. Masak pagi-pagi udah nolak istri sendiri?” Dia narik napas panjang. Bahunya naik turun. “Ini dapur. Ada orang,” bisiknya, tapi nggak ngelepas tangan aku yang melingkar di perut dia. Aku malah makin berani. Kecup pipi dia dari belakang. Sekilas. Iseng. “Terus kenapa? Bukannya kamu sendiri yang bilang nggak malu lagi? Masa aku yang malu-maluin duluan?” Dia mutar badan, sekarang posisi kami hadap-hadapan. Jaraknya mepet banget. Matanya natap aku, gelap, bingung, dan… panik. “Y/N, denger,” katanya sambil megang kedua bahu aku. Tapi jempolnya malah ngusap-ngusap lengan aku pelan. Ketahuan gugup. “Gue emang nggak ada gengsi. Tapi kalau lo kayak gini terus dari pagi, gue nggak bisa mikir. Gue ada meeting.” Aku senyum paling polos. Terus jinjit, ngecup dagu dia cepet. “Ya udah cancel meetingnya. Temenin istri sarapan dulu. Kontrak kan udah kita robek semalam, Jake?” Wajahnya merah. Sim Jaehyun orang terdingin, yang kalau presentasi di depan 1000 orang aja nggak berkedip, sekarang kupingnya merah padam. Dia nutup mata, narik napas. Terus narik aku, gendong ala bridal lagi. Tapi kali ini bukan ke kamar. Dia duduk di kursi meja makan, dudukin aku di pangkuannya. “Ya udah,” bisiknya di rambut aku. Suaranya pasrah tapi puas. “Sarapan di sini. Kamu di pangkuan gue. Tapi ada syarat.” “Syarat apa?” tanya aku sambil mainin kancing kemeja dia. Dia angkat dagu aku, cium kening aku lama. “Kamu boleh manja seharian. Tapi malamnya… gue yang manja. Deal?” Aku diem. Muka panas lagi. Sial. Kena mental. “Curang,” gumam aku di dadanya. Dia ketawa pelan di atas kepala aku. “Iya. Gue curang. Tapi lo duluan yang mancing dari pagi. Jadi sekarang nikmatin.” Terus dia suapin aku roti, sambil dagunya nyender di bahu aku. Nggak ngomong apa-apa lagi. Cuma peluk. Anget. Gengsinya emang udah hilang. Tapi giliran aku yang sekarang nggak bisa ngomong. Karena ternyata… digituin Jake itu lebih bahaya daripada dia marah. Siang di kantor Jake. Aku nganterin berkas dia. Sama makan siang yang aku masak sendiri. Pas masuk ruangannya, ada Mbak Clara. Sekretaris pribadinya. Rambut rapi, rok pensil, senyum manis level profesional. Dia lagi nyender ke meja Jake. nunjukin file sambil badannya condong ke depan. Jaraknya... terlalu deket. Hem... kayanya mau caper. Jake duduk, datar. Tapi Clara ketawa kecil tiap Jake ngomong. Tangannya “nggak sengaja” nyentuh lengan kemeja dia pas ngasih pulpen. “Pak, ini file yang Pak Sim minta. Sekalian saya jelasin ya?” suaranya dilunakin. Darah aku langsung naik ke ubun-ubun. Jake baru mau jawab, tapi aku udah masuk duluan. Bawa kotak makan. Berkas aku taruh langsung di mejanya. Senyum paling manis. “Sayang~” panggil aku, manja. Suara aku 2 oktaf lebih tinggi dari biasanya. (maaf ya upload nya lama, author lagi sibuk) #simjaehyun #jake #4u #alternativeuniverse

About