@copsbibi: Part 3 #militarylife #pokemoncards #trending

copsbibi
copsbibi
Open In TikTok:
Region: US
Saturday 04 July 2026 04:42:40 GMT
276
1
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @copsbibi, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Umar bin Khattab berkata: «إِنِّي لَأَقْشَعِرُّ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ امْرَأَةٌ» “Sungguh, aku merinding melihat seorang pemuda yang tidak mempunyai istri.” Bahkan beliau melanjutkan: “Seandainya aku tahu bahwa umurku di dunia ini hanya tersisa tiga hari, niscaya aku tetap ingin menikah pada hari-hari tersebut.” 📌 Ini bukan berarti setiap orang yang belum menikah harus merasa berdosa atau dipaksa segera menikah. Tetapi perkataan Umar menunjukkan betapa besar perhatian generasi sahabat terhadap pernikahan, terutama sebagai jalan menjaga kehormatan, ketenangan hidup, dan keberlangsungan umat. Umar bahkan pernah menegur seorang laki-laki yang enggan menikah: “Tidak ada yang menghalangimu dari menikah kecuali kelemahan atau kefajiran.” Namun, jangan sampai perkataan ini dipahami secara serampangan. Islam tidak mengajarkan bahwa semua orang yang belum menikah adalah buruk. Ada orang yang belum menikah karena belum mampu, belum menemukan pasangan yang tepat, sedang mempersiapkan diri, atau memiliki keadaan tertentu yang perlu dipertimbangkan. Yang menjadi perhatian adalah sengaja menjadikan hidup membujang sebagai prinsip untuk berpaling dari sunnah Nabi. Rasulullah ﷺ pernah menegur beberapa sahabat yang ingin beribadah secara berlebihan sampai salah seorang dari mereka berkata ingin tidak menikah selamanya. Nabi bersabda: “...Aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku menikahi perempuan. Barangsiapa berpaling dari sunnahku, maka ia bukan bagian dariku.” Lalu apa hikmah besar di balik perhatian para sahabat terhadap pernikahan? Pernikahan bukan sekadar tentang “punya pasangan”. Ia adalah latihan tanggung jawab. Seseorang yang berkeluarga belajar untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada amanah yang harus dijaga, nafkah yang harus diusahakan, pasangan yang harus dihormati, dan kelak anak yang harus dididik. Karena itu, keberanian seorang pemuda idealnya bukan sekadar keberanian mengambil risiko, tetapi keberanian memikul tanggung jawab. Dan jangan lupa satu hal yang sering membuat orang takut menikah: “Kalau menikah, rezekinya dari mana?” Allah SWT justru berfirman: “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu... Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32). Ayat ini bukan berarti seseorang boleh menikah tanpa persiapan dan tanpa tanggung jawab. Tetapi ia mengajarkan agar kemiskinan tidak dijadikan alasan untuk berputus asa dari karunia Allah, selama seseorang berusaha, bertanggung jawab, dan menempuh jalan yang benar. Menikah bukan jaminan hidup tanpa masalah. Tetapi bagi orang yang telah mampu dan siap, jangan sampai ketakutan terhadap masa depan membuat kita lupa bahwa rezeki bukan hanya berasal dari perhitungan manusia. Mungkin itulah mengapa Umar begitu serius memandang persoalan ini. Bukan sekadar tentang “kapan menikah?”, tetapi tentang: “Kapan kita siap menjadi manusia yang mampu memikul amanah?” 🤍 📚 Referensi: Al-Haitami, Al-Iffshah 'an Ahaditsin Nikah; Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar; Shahih Bukhari (No. 5063); Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (Ibnu Katsir) pada Surah An-Nur: 32. #nikah #jomblo #islam #pasangan #rumahtangga
Umar bin Khattab berkata: «إِنِّي لَأَقْشَعِرُّ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ امْرَأَةٌ» “Sungguh, aku merinding melihat seorang pemuda yang tidak mempunyai istri.” Bahkan beliau melanjutkan: “Seandainya aku tahu bahwa umurku di dunia ini hanya tersisa tiga hari, niscaya aku tetap ingin menikah pada hari-hari tersebut.” 📌 Ini bukan berarti setiap orang yang belum menikah harus merasa berdosa atau dipaksa segera menikah. Tetapi perkataan Umar menunjukkan betapa besar perhatian generasi sahabat terhadap pernikahan, terutama sebagai jalan menjaga kehormatan, ketenangan hidup, dan keberlangsungan umat. Umar bahkan pernah menegur seorang laki-laki yang enggan menikah: “Tidak ada yang menghalangimu dari menikah kecuali kelemahan atau kefajiran.” Namun, jangan sampai perkataan ini dipahami secara serampangan. Islam tidak mengajarkan bahwa semua orang yang belum menikah adalah buruk. Ada orang yang belum menikah karena belum mampu, belum menemukan pasangan yang tepat, sedang mempersiapkan diri, atau memiliki keadaan tertentu yang perlu dipertimbangkan. Yang menjadi perhatian adalah sengaja menjadikan hidup membujang sebagai prinsip untuk berpaling dari sunnah Nabi. Rasulullah ﷺ pernah menegur beberapa sahabat yang ingin beribadah secara berlebihan sampai salah seorang dari mereka berkata ingin tidak menikah selamanya. Nabi bersabda: “...Aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku menikahi perempuan. Barangsiapa berpaling dari sunnahku, maka ia bukan bagian dariku.” Lalu apa hikmah besar di balik perhatian para sahabat terhadap pernikahan? Pernikahan bukan sekadar tentang “punya pasangan”. Ia adalah latihan tanggung jawab. Seseorang yang berkeluarga belajar untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada amanah yang harus dijaga, nafkah yang harus diusahakan, pasangan yang harus dihormati, dan kelak anak yang harus dididik. Karena itu, keberanian seorang pemuda idealnya bukan sekadar keberanian mengambil risiko, tetapi keberanian memikul tanggung jawab. Dan jangan lupa satu hal yang sering membuat orang takut menikah: “Kalau menikah, rezekinya dari mana?” Allah SWT justru berfirman: “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu... Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32). Ayat ini bukan berarti seseorang boleh menikah tanpa persiapan dan tanpa tanggung jawab. Tetapi ia mengajarkan agar kemiskinan tidak dijadikan alasan untuk berputus asa dari karunia Allah, selama seseorang berusaha, bertanggung jawab, dan menempuh jalan yang benar. Menikah bukan jaminan hidup tanpa masalah. Tetapi bagi orang yang telah mampu dan siap, jangan sampai ketakutan terhadap masa depan membuat kita lupa bahwa rezeki bukan hanya berasal dari perhitungan manusia. Mungkin itulah mengapa Umar begitu serius memandang persoalan ini. Bukan sekadar tentang “kapan menikah?”, tetapi tentang: “Kapan kita siap menjadi manusia yang mampu memikul amanah?” 🤍 📚 Referensi: Al-Haitami, Al-Iffshah 'an Ahaditsin Nikah; Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar; Shahih Bukhari (No. 5063); Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (Ibnu Katsir) pada Surah An-Nur: 32. #nikah #jomblo #islam #pasangan #rumahtangga

About