OMG RIKI??? aku memikirkannya saja membuat jantungku berdegup kencang. Melihat namanya saja membuatku merindukan kehadirannya. Mustahil untuk mengungkapkan dengan kata-kata betapa besarnya cintaku padanya. Aku menangis siang dan malam saat menyadari bahwa perasaanku ini takkan pernah bisa menjadi kenyataan. Setiap kali aku menatap fotonya, bulu kudukku meremang. Cintaku padanya tak terbatas dan takkan pernah pudar. Aku menulis ini sambil menahan tangis, hanya dengan satu tangan, karena tangan yang satunya sibuk mencengkeram dada merasakan sakit yang tak terlukiskan karena kenyataan pahit bahwa sosok yang kuanggap kekasih dan suamiku, Ni-ki hanyalah sekadar orang yang bekerja. Namun, aku takkan pernah berhenti berharap dan berdoa menantikan saat atau hari di mana takdir kami akhirnya bersinggungan. Mencintai Ni-ki bukanlah sekadar hobi, melainkan pekerjaan purna waktu tanpa tunjangan maupun cuti, dan aku sama sekali tidak berniat untuk berhenti. Ini adalah gaya hidup, ritual harian, dan panggilan jiwa yang sakral. Aku tidak sekadar bangun tidur lalu memikirkan Ni-ki; aku bangkit layaknya seorang penyair yang dipanggil oleh Angin ciptaannya sendiri. Tak ada satu hari pun berlalu tanpa pria ini memenuhi pikiranku, seolah-olah dia adalah pemilik sah dari ruang di benakku😳😳😳😳😳