Irsan :
Hai, bagaimana kabarmu, orang asing? Lucu sekali rasanya memanggilmu seperti itu—seolah-olah kita tidak pernah saling mengenal sedalam ini. Padahal dulu, aku tahu betul bagaimana suaramu terdengar saat memanggil namaku. Pelan dan hangat, seolah ada ruang aman di setiap kata yang kau ucapkan. Namun kini, semuanya mulai kabur. Aku mulai lupa nada suaramu, mulai lupa aromamu, bahkan bayangan wajahmu perlahan memudar seperti kenangan yang terlalu sering dipaksa untuk dilepaskan. Anehnya, ada satu hal yang tak ikut hilang: rasa sesak itu. Setiap kali mengingatmu, dadaku terasa penuh dan berat. Seolah ada bagian dari diriku yang masih tertinggal di masa lalu dan menolak untuk kembali. Kenangan-kenangan kecil yang dulu terasa biasa, kini berubah menjadi sesuatu yang terlalu berharga—sekaligus terlalu menyakitkan untuk disentuh. Aku masih ingat bagaimana semuanya dulu terasa begitu sederhana. Percakapan larut malam yang tak pernah kita rencanakan, gelak tawa dari hal-hal sepele, dan caramu mendengarkanku seolah tidak ada hal lain yang lebih penting di dunia ini. Hal yang paling menyakitkan bukanlah keputusanku untuk melepasmu, melainkan bagaimana semuanya berakhir tanpa penutup yang layak. Seperti cerita yang dipaksa berhenti di tengah jalan—tanpa titik, tanpa kejelasan arah. Aku sudah mencoba memahami, mencoba menerima, bahkan meyakinkan diri bahwa ini memang yang terbaik. Aku tidak pernah menyesal pernah mencintaimu. Sekarang, aku belajar menjalani hari seperti biasa. Aku tertawa, berbicara, dan terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Namun, ada saat-saat tertentu—ketika suasana menjadi terlalu sepi—aku kembali mengingatmu dengan cara yang tak bisa kuhindari. Bukan karena aku ingin kembali, melainkan karena kenangan itu selalu tahu jalan pulangnya sendiri. Aku tidak membencimu, tak juga menyimpan amarah. Yang tersisa hanyalah perasaan yang belum sepenuhnya tahu harus berlabuh ke mana. Mungkin memang bukan aku yang kau pilih untuk menetap. Mungkin aku hanyalah tempat persinggahan yang terlalu lama berharap menjadi tujuan. Dan itu tidak apa-apa. Aku sedang belajar menerimanya, meski pelan. Aku pernah mencintaimu dengan cara paling jujur yang aku tahu,
2026-08-18 13:00:33