@ebigailleydi90:

🌬️🌧️ebigailleydibonilla🌩️☁️
🌬️🌧️ebigailleydibonilla🌩️☁️
Open In TikTok:
Region: PE
Saturday 04 July 2026 15:53:21 GMT
445
113
3
3

Music

Download

Comments

bonohmyanmar
bossNoeul Fan Myanmar :
🥰🥰🥰
2026-07-04 16:57:35
1
iffetim
user2685475619259 :
🥰🥰🥰
2026-07-04 17:33:49
0
greleidy
grenny :
♥️♥️♥️
2026-07-04 19:14:57
0
To see more videos from user @ebigailleydi90, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Malam itu, kami bertengkar hebat. Aku ingin menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi beberapa hari lalu. Sore itu, Dewa tidak sengaja melihatku di kafe bersama Liya—teman sekampusku. Aku ingat. Sangat ingat. Hari itu seharusnya setelah selesai mengerjakan tugas kelompok bersama Liya, aku langsung datang ke pertandingan basket Dewa. Aku merasa sudah mengirim pesan padanya bahwa aku akan terlambat karena masih harus membantu Lia mencari materi. Namun, kesalahpahaman kecil itu berubah menjadi pertengkaran besar. Awalnya hanya adu mulut biasa, tetapi perlahan membesar hingga membuat hubungan kami berada di ambang perpisahan. Dewa beberapa kali mengajakku mengakhiri hubungan ini, tetapi aku terus menghindarinya. Kami bahkan tidak bertemu selama beberapa hari. Aku sempat mencoba meneleponnya, tetapi tidak pernah diangkat. Aku juga pernah menunggunya selesai kelas, namun dia tidak muncul. Teman-temannya pun ikut diam. Saat kutanyai, yang menjawab hanyalah angin yang berembus pelan. Lalu tiba-tiba aku berpikir untuk datang langsung ke rumahnya. Malam itu, sekitar pukul sembilan, aku menekan bel rumahnya. Dan akhirnya, pria yang sangat kurindukan itu muncul di hadapanku. Aku ingin menjelaskan semuanya baik-baik, tetapi aku kalah telak malam itu. Dewa tampak sangat marah. Setelah diusir, aku masih bertahan di depan rumahnya selama beberapa jam, berharap hatinya melunak dan emosinya mereda. Jam di layar ponselku menunjukkan pukul 00.50. “Sudah malam. Mungkin dia sudah istirahat. Mungkin aku bisa datang lagi besok,” pikirku singkat saat itu. Dalam perjalanan pulang, setelah lampu lalu lintas berubah hijau dan mobilku mulai melaju, sebuah truk dari arah samping menghantam mobilku dengan keras. Udara malam itu terasa dingin. Sedingin tanganku. Malam itu berbeda. Mataku masih terbuka. Dalam keadaan setengah sadar, dengan kepala yang pusing dan rasa nyeri menjalar di seluruh tubuh, tangan kananku berusaha meraih sesuatu di saku jaketku. Sebuah kalung. Rantai perak tipis dengan kilau lembut, serta liontin kecil berbentuk bulan sabit di tengahnya. Permukaannya memantulkan cahaya samar di tengah gelap malam. Saat membeli kalung itu, aku memiliki satu harapan sederhana: semoga pemiliknya nanti akan selalu bersinar, seperti bulan sabit kecil tersebut. Bahkan saat diriku sudah tidak ada lagi di sisinya. Di dalam mobil yang terbalik, dengan kaca pecah berserakan di jalan yang sunyi, aku menggenggam kalung itu erat-erat. Dengan napas yang mulai melemah, aku berbisik pelan, “Maaf... aku belum sempat memberikannya padamu.” Dan pada malam yang dingin itu, aku mengembuskan napas terakhir sambil menggenggam harapan kecil berbentuk bulan sabit di tanganku. #dewtee #pov #dew_jsu #tee_vtp #fyp
Malam itu, kami bertengkar hebat. Aku ingin menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi beberapa hari lalu. Sore itu, Dewa tidak sengaja melihatku di kafe bersama Liya—teman sekampusku. Aku ingat. Sangat ingat. Hari itu seharusnya setelah selesai mengerjakan tugas kelompok bersama Liya, aku langsung datang ke pertandingan basket Dewa. Aku merasa sudah mengirim pesan padanya bahwa aku akan terlambat karena masih harus membantu Lia mencari materi. Namun, kesalahpahaman kecil itu berubah menjadi pertengkaran besar. Awalnya hanya adu mulut biasa, tetapi perlahan membesar hingga membuat hubungan kami berada di ambang perpisahan. Dewa beberapa kali mengajakku mengakhiri hubungan ini, tetapi aku terus menghindarinya. Kami bahkan tidak bertemu selama beberapa hari. Aku sempat mencoba meneleponnya, tetapi tidak pernah diangkat. Aku juga pernah menunggunya selesai kelas, namun dia tidak muncul. Teman-temannya pun ikut diam. Saat kutanyai, yang menjawab hanyalah angin yang berembus pelan. Lalu tiba-tiba aku berpikir untuk datang langsung ke rumahnya. Malam itu, sekitar pukul sembilan, aku menekan bel rumahnya. Dan akhirnya, pria yang sangat kurindukan itu muncul di hadapanku. Aku ingin menjelaskan semuanya baik-baik, tetapi aku kalah telak malam itu. Dewa tampak sangat marah. Setelah diusir, aku masih bertahan di depan rumahnya selama beberapa jam, berharap hatinya melunak dan emosinya mereda. Jam di layar ponselku menunjukkan pukul 00.50. “Sudah malam. Mungkin dia sudah istirahat. Mungkin aku bisa datang lagi besok,” pikirku singkat saat itu. Dalam perjalanan pulang, setelah lampu lalu lintas berubah hijau dan mobilku mulai melaju, sebuah truk dari arah samping menghantam mobilku dengan keras. Udara malam itu terasa dingin. Sedingin tanganku. Malam itu berbeda. Mataku masih terbuka. Dalam keadaan setengah sadar, dengan kepala yang pusing dan rasa nyeri menjalar di seluruh tubuh, tangan kananku berusaha meraih sesuatu di saku jaketku. Sebuah kalung. Rantai perak tipis dengan kilau lembut, serta liontin kecil berbentuk bulan sabit di tengahnya. Permukaannya memantulkan cahaya samar di tengah gelap malam. Saat membeli kalung itu, aku memiliki satu harapan sederhana: semoga pemiliknya nanti akan selalu bersinar, seperti bulan sabit kecil tersebut. Bahkan saat diriku sudah tidak ada lagi di sisinya. Di dalam mobil yang terbalik, dengan kaca pecah berserakan di jalan yang sunyi, aku menggenggam kalung itu erat-erat. Dengan napas yang mulai melemah, aku berbisik pelan, “Maaf... aku belum sempat memberikannya padamu.” Dan pada malam yang dingin itu, aku mengembuskan napas terakhir sambil menggenggam harapan kecil berbentuk bulan sabit di tanganku. #dewtee #pov #dew_jsu #tee_vtp #fyp

About