@quantidadebruta: @Fábio Teruel Tem benção chegando #palavrafabioteruel #oracao #bencao

Quantidade Bruta
Quantidade Bruta
Open In TikTok:
Region: BR
Sunday 05 July 2026 00:10:53 GMT
530
61
14
0

Music

Download

Comments

paulinha.tiktok29
Paula :
amém 🙏🏻
2026-07-05 01:54:45
1
cassidycassidydacostac
Elizangela Elizangel :
amém
2026-07-05 01:51:20
1
geverson.rogrio.r
Geverson Rogério Rosa :
amém amém 🙏🙏
2026-07-05 01:30:30
1
marcosandre782
Marcos Andre :
Amém
2026-07-05 01:23:40
1
vaniapaim6
vania :
amém
2026-07-05 03:09:42
1
andra28449
Andréa :
amém
2026-07-05 01:42:41
1
cleonice.santana95
Cleonice Santana :
Amem
2026-07-05 01:32:47
1
neide.martins5179
Neide Martins :
eu confio em Deus
2026-07-05 02:10:06
0
jusleme
jusleme :
juslene e eloir ♥️♥️amém glórias a Deus eu creio eu recebo eu tomo posse em nome de Jesus Cristo amém 🙏❤️😇😇
2026-07-05 01:59:14
0
kilza74
Kilza :
kilza eu recebo amem amem 🥰🥰🥰
2026-07-05 00:16:37
0
neide.martins5179
Neide Martins :
amém glória a Deus eu creio
2026-07-05 02:09:45
0
rose1234g0
Rosemeire Aparecida :
🙏🙏🙌🙌
2026-07-05 01:06:45
1
lenesoares68
lene soares :
🥺🥺
2026-07-05 01:24:39
1
rosilene.fausto.d
rosilene fausto de ozeda :
🙏❤️
2026-07-06 02:19:48
1
To see more videos from user @quantidadebruta, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Berbicara tentang living together, pasti ada pro dan kontra tentang fenomena ini. Bila melihat budaya bangsa, tentu saja kondisi tersebut banyak ditentang oleh orang tua. Apalagi paparan budaya global ini cenderung marak di kota besar saja. Siapa sangka ibumu malah menjerumuskan kamu ke dalam liang hidup bersama lawan jenis tanpa status pernikahan. Permasalahannya sepele. Hanya karena kamu awam dengan tempat rantau, koneksi teman lamanya membuatmu dititipkan ke anak sulung kenalannya. Namanya Ni-ki. Biasa kamu panggil Mas Ni-ki di rumah, tetapi sering menyapanya dengan sebutan Pak Ni-ki jika di fakultas.  “Ada kelas jam berapa, (Y/N)? Mau saya antar nggak?” “Astaga! M-mas Ni-ki! Jangan lupa ketuk pintu dulu sebelum masuk,” ucapmu panik menyilangkan tangan di depan dada.  Ni-ki menaikkan salah satu alisnya acuh tak acuh. Manik matanya menelisik anggota tubuhmu dari atas ke bawah bergantian tanpa ekspresi. Seolah-olah kejadian ia memergokimu berbusana minimalis seperti ini bukan hal yang tabu.  “Ah, iya… maaf. Tapi ini rumah saya. Apa yang ada di dalam sini hak saya, termasuk kamu.” Kamu langsung meraih kemeja yang terlipat rapi di atas kasur dan buru-buru memakainya. Tak menghiraukan bagaimana handuk masih melilit dua pertiga bagian tubuhmu sekarang. Suara kekehan tipis terdengar berat dari Ni-ki. Ia berjalan masuk ke kamarmu dan membuka lemari pakaian seenak jidat. Tangannya menarik ringan sepasang pakaian dalam ditambah kaos tanpa lengan kepunyaanmu. “Pakai ini dulu. Masa harus saya ajarin cara berpakaian yang betul dari mana,” ujarnya santai melemparkan apa yang ia ambil barusan ke atas ranjang.  Kamu merasa panas sekarang. Entah karena malu digoda atau malu karena kelabakan. Padahal kejadian barusan baru pertama kali kalian alami, tetapi Ni-ki tidak ada sedikit pun rasa tak enak hati. Wajahnya tetap datar meski lisannya kadangkala kurang ajar. “A-aku ada kelas jam delapan, Mas,” ucapmu mengalihkan pembicaraan seraya menutup pemberian Ni-ki dengan selimut.  “Saya antar.” “Nggak usah! Aku naik ojek online aja.” Ni-ki merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kontak mobil andalan sebelum memainkannya dengan cara dilemparkan santai dengan satu tangannya. “Lima belas menit. Saya tunggu di garasi.” “Ih, dasar tua,” desismu kesal lantaran ia berlalu pergi semaunya. Begitu pintu ditutup rapat, kamu mengomel sendiri ketika bersiap-siap. Mulanya kamu pikir akan canggung maksimal tinggal dengan seorang dekan fakultas. Apalagi statusnya masih lajang. Kamu takut akan ada pelanggaran batasan yang membahayakan, meski selama ini kalian tinggal bersama tak sampai saling bersentuhan. Akhir-akhir ini Ni-ki berbeda. Kala masa orientasi, kalian jarang berbicara satu sama lain. Kamu sempat menduga mungkin Ni-ki tidak menyukai kehadiranmu di rumahnya. Namun ketika ia masuk ke kelas dan mengajar mata kuliah fisika dasar, kamu sadar bahwa watak pria itu memang kaku seperti batu bata.  Hanya saja… semenjak kamu hampir dilecehkan geng motor anak ingusan, Ni-ki menunjukkan afeksinya. Entah karena rasa tanggung jawab kamu yang dititipkan padanya atau panggilan hati, jelas tampak bahwa Ni-ki semakin mendekati.  Bahkan lisannya tak jarang menggelitik batin meski wajahnya selalu tanpa ekspresi. “Kamu selesai jam berapa? Saya jemput.” “Siang, Mas. Tapi jam empat sore ada asistensi laprak,” jawabmu seraya melepaskan sabuk pengaman.  Ni-ki tampak berpikir sejenak mengetukkan jari di kemudinya.  “Kalau gitu setelah kelas langsung ke ruangan saya. Jam empat kurang nanti kamu boleh balik buat asistensi laprak,” tegasnya sepihak. “Aku mau main ke kosan temen, Mas.” Kepala Ni-ki menoleh singkat ke arahmu. Tatapan matanya rendah tak peduli. “Nggak usah. Main sama saya aja di ruangan nanti.” “Mas-“ “Kampus, (Y/N).” Kamu menarik napas dalam sebelum menyuguhkan senyum manis terpaksa. “Baik, Pak Ni-ki. Tapi sebelum itu saya ingin-“ “Ini perintah bukan opsi. Nanti saya telepon setelah kelas kamu selesai,” tandasnya yang membuatmu menekuk dahi sebal. “Pria tua ini, ih!” (+(1-4))
POV: Berbicara tentang living together, pasti ada pro dan kontra tentang fenomena ini. Bila melihat budaya bangsa, tentu saja kondisi tersebut banyak ditentang oleh orang tua. Apalagi paparan budaya global ini cenderung marak di kota besar saja. Siapa sangka ibumu malah menjerumuskan kamu ke dalam liang hidup bersama lawan jenis tanpa status pernikahan. Permasalahannya sepele. Hanya karena kamu awam dengan tempat rantau, koneksi teman lamanya membuatmu dititipkan ke anak sulung kenalannya. Namanya Ni-ki. Biasa kamu panggil Mas Ni-ki di rumah, tetapi sering menyapanya dengan sebutan Pak Ni-ki jika di fakultas. “Ada kelas jam berapa, (Y/N)? Mau saya antar nggak?” “Astaga! M-mas Ni-ki! Jangan lupa ketuk pintu dulu sebelum masuk,” ucapmu panik menyilangkan tangan di depan dada. Ni-ki menaikkan salah satu alisnya acuh tak acuh. Manik matanya menelisik anggota tubuhmu dari atas ke bawah bergantian tanpa ekspresi. Seolah-olah kejadian ia memergokimu berbusana minimalis seperti ini bukan hal yang tabu. “Ah, iya… maaf. Tapi ini rumah saya. Apa yang ada di dalam sini hak saya, termasuk kamu.” Kamu langsung meraih kemeja yang terlipat rapi di atas kasur dan buru-buru memakainya. Tak menghiraukan bagaimana handuk masih melilit dua pertiga bagian tubuhmu sekarang. Suara kekehan tipis terdengar berat dari Ni-ki. Ia berjalan masuk ke kamarmu dan membuka lemari pakaian seenak jidat. Tangannya menarik ringan sepasang pakaian dalam ditambah kaos tanpa lengan kepunyaanmu. “Pakai ini dulu. Masa harus saya ajarin cara berpakaian yang betul dari mana,” ujarnya santai melemparkan apa yang ia ambil barusan ke atas ranjang. Kamu merasa panas sekarang. Entah karena malu digoda atau malu karena kelabakan. Padahal kejadian barusan baru pertama kali kalian alami, tetapi Ni-ki tidak ada sedikit pun rasa tak enak hati. Wajahnya tetap datar meski lisannya kadangkala kurang ajar. “A-aku ada kelas jam delapan, Mas,” ucapmu mengalihkan pembicaraan seraya menutup pemberian Ni-ki dengan selimut. “Saya antar.” “Nggak usah! Aku naik ojek online aja.” Ni-ki merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kontak mobil andalan sebelum memainkannya dengan cara dilemparkan santai dengan satu tangannya. “Lima belas menit. Saya tunggu di garasi.” “Ih, dasar tua,” desismu kesal lantaran ia berlalu pergi semaunya. Begitu pintu ditutup rapat, kamu mengomel sendiri ketika bersiap-siap. Mulanya kamu pikir akan canggung maksimal tinggal dengan seorang dekan fakultas. Apalagi statusnya masih lajang. Kamu takut akan ada pelanggaran batasan yang membahayakan, meski selama ini kalian tinggal bersama tak sampai saling bersentuhan. Akhir-akhir ini Ni-ki berbeda. Kala masa orientasi, kalian jarang berbicara satu sama lain. Kamu sempat menduga mungkin Ni-ki tidak menyukai kehadiranmu di rumahnya. Namun ketika ia masuk ke kelas dan mengajar mata kuliah fisika dasar, kamu sadar bahwa watak pria itu memang kaku seperti batu bata. Hanya saja… semenjak kamu hampir dilecehkan geng motor anak ingusan, Ni-ki menunjukkan afeksinya. Entah karena rasa tanggung jawab kamu yang dititipkan padanya atau panggilan hati, jelas tampak bahwa Ni-ki semakin mendekati. Bahkan lisannya tak jarang menggelitik batin meski wajahnya selalu tanpa ekspresi. “Kamu selesai jam berapa? Saya jemput.” “Siang, Mas. Tapi jam empat sore ada asistensi laprak,” jawabmu seraya melepaskan sabuk pengaman. Ni-ki tampak berpikir sejenak mengetukkan jari di kemudinya. “Kalau gitu setelah kelas langsung ke ruangan saya. Jam empat kurang nanti kamu boleh balik buat asistensi laprak,” tegasnya sepihak. “Aku mau main ke kosan temen, Mas.” Kepala Ni-ki menoleh singkat ke arahmu. Tatapan matanya rendah tak peduli. “Nggak usah. Main sama saya aja di ruangan nanti.” “Mas-“ “Kampus, (Y/N).” Kamu menarik napas dalam sebelum menyuguhkan senyum manis terpaksa. “Baik, Pak Ni-ki. Tapi sebelum itu saya ingin-“ “Ini perintah bukan opsi. Nanti saya telepon setelah kelas kamu selesai,” tandasnya yang membuatmu menekuk dahi sebal. “Pria tua ini, ih!” (+(1-4))

About