@cckalieee: POV: Gerimis tipis di luar jendela studio musik sekolah sore itu kalah bising dengan suara petikan gitar Martin. Di sudut ruangan, Kamu duduk memeluk lutut di atas sofa usang, sesekali bersenandung kecil mengikuti nada yang dialunkan cowok itu. Hubungan ini sudah berjalan tiga tahun. Statusnya sederhana, hanya sebatas just friend. Kamu adalah tempat Martin mengadu saat senar gitarnya putus, dan Martin adalah orang pertama yang tahu lagu apa saja yang baru Kamu tambahkan ke dalam blend Spotify kalian yang diberi nama our tracklist. "Btw.." Ucap Martin tanpa mengalihkan pandangan dari jemarinya yang menekan senar gitar. "Lagu baru yang lo tambah semalem... bagus." Kamu tersenyum tipis. " ouh, thanks ya" Namun, ada satu hal yang tidak Martin ketahui. Lagu itu dimasukkan ke sana bukan tanpa alasan. Itu adalah cara Kamu menyatakan perasaan yang selama ini terkunci rapat di balik kata 'temen'. Kamu terlalu takut jika kejujuran justru akan merusak frekuensi nyaman yang sudah kalian bangun. ••• Malam harinya, sebuah notifikasi dari akun Instagram menfess sekolah, @smapagafess, membuat ponsel di genggamanmu nyaris terjatuh. Sebuah kiriman baru muncul di beranda: [SmapagaFess] "Buat yang tadi sore nemenin gue di studio musik. sefrekuensi sama lo itu seru poll, tapi gue pengen lebih. Gue capek jadi 'just friend'. Dari: M." Jantungmu bertalu hebat. M? Martin? Kamu buru-buru membuka Spotify. Benar saja, di jam yang sama dengan menfess itu terkirim, Martin baru saja menambahkan sebuah lagu baru tepat di bawah lagu yang Kamu masukkan kemarin. "That Should Be Me" Judul lagunya seolah menjawab segalanya. ••• Besoknya di sekolah, suasana koridor mendadak riuh. Netizen sekolah sibuk menebak siapa sepasang sahabat yang dimaksud oleh inisial 'M' tersebut. Saat berpapasan di depan mading, Kamu sengaja menyenggol lengan Martin. "Martin, lo liat menfess semalem? Si 'M' itu bukan lo, kan?" pancingmu, pura-pura tertawa kasual. Martin tersentak. Kupingnya mendadak memerah—sebuah kebiasaan yang selalu terjadi tiap kali cowok itu merasa gugup atau berbohong. "Hah? Ya... ya kali! Inisial M di sekolah ini kan banyak, bukan cuma gue." Melihat reaksi itu, kekesalan kecil muncul di hatimu. Dasar pengecut, batinmu. Kalau Martin tidak berani jujur di dunia nyata, maka Kamu akan melayaninya lewat permainan yang sama. ••• Malam itu, Kamu mengirim menfess balasan secara anonim: [SmapagaFess] "Buat 'M' yang kirim menfess semalem. Sebenernya lo siapa sih.. biki n penasaran aja." Dari: anonim Satu klik pada tombol send, dan balasan menfess darimu resmi terkirim ke admin @smapagafess. Kamu melempar ponselmu ke atas kasur, lalu menutup wajah dengan bantal. Bohong kalau kamu cuma penasaran. Kamu cuma ingin memancing Martin agar mau melangkah lebih jauh. Kamu ingin tahu seberapa berani cowok itu menghadapi kodenya sendiri. Dua jam kemudian, menfess balasanmu naik di feeds Instagram. Kolom komentar langsung meledak. Anak-anak Smapaga emang paling juara kalau urusan menjadi detektif dadakan. “Waduh, dicariin tuh sama si anonim!” “Plot twist: M itu singkatan dari Mas-mas kantin.” “Buruan ngaku gak lo, M! Jangan bikin anak orang digantung!” Kamu hanya membaca komentar-komentar itu sambil menahan senyum. Namun, senyummu langsung pudar saat sebuah notifikasi Spotify Blend masuk ke ponselmu beberapa menit setelahnya. Martin baru saja menambahkan lagu lagi. "Right Here Waiting" dari Richard Marx. Dadamu bergemuruh. Cowok ini benar-benar menantangmu lewat lagu. Keesokan harinya, takdir seolah sengaja mempermainkan kalian. Jumat sore itu, langit di atas SMA Paga mendadak gelap gulita. Hanya dalam hitungan menit, hujan badai langsung mengguyur bumi, membuat koridor depan laboratorium musik mendadak sepi karena murid-murid lain sudah pulang duluan atau terjebak di kelas ujung. Hanya tersisa Kamu dan Martin yang duduk bersandar di dinding koridor, memandangi air yang mulai menggenang di halaman sekolah. - Just friend ( in comment 👉🏼 ) #POV #MARTIN #CORTIS #ONESHOOT

𝓐𝗋𝗌ɦ𝖾𝗋αα𐔌՞. .՞𐦯
𝓐𝗋𝗌ɦ𝖾𝗋αα𐔌՞. .՞𐦯
Open In TikTok:
Region: ID
Sunday 05 July 2026 04:29:45 GMT
21602
6281
28
287

Music

Download

Comments

ranaa4110
Ranaa :
MARTIN AYO COVER LAGU INIII
2026-07-05 14:44:22
26
coertiess._
j :
kok pake lagu ini sih? saya SALBRUT kak, tanggung jawab dong.
2026-07-05 12:45:18
8
hyitshiraa
𓂂𓈒 ౨ৎ :
suara di lagu ini mirip banget dengan suara dia😭😭
2026-07-05 09:15:01
5
sorayeah03
sᴏʀᴀʏᴀ ☆⋆ :
yaudah gpp gausah pacar2an, temen tapi menikah juga boleh bgt kok :D
2026-07-05 08:04:52
6
cchaerine_
ell :
kenapa just friend yah
2026-07-05 10:33:01
3
lauu_ashh
asther lau :
anu, ji ep banget ni?
2026-07-05 13:48:17
1
iaastecuabizz
iaa kebelet selebb :
[Stiker] pliss ganteng nya gak ngontak bangett martinnn
2026-07-05 21:08:51
0
itskhumai
nasgor universe :
martin tolong cover lagu ini demi aku
2026-07-05 13:04:21
0
coertiess._
j :
oke tin, kita temen sehidup semati.
2026-07-05 12:56:48
0
qyfaa.1
qyfa♣︎ :
lanjut lanjut up up tg gw kak
2026-07-05 11:18:50
0
bloubeiacai
arshey :
1.Demi memecah kecanggangan, Martin tiba-tiba merogoh tasnya. Bukannya mengeluarkan payung, dia justru mengeluarkan seutas earphone kabel putih yang ujungnya agak kusut. - "Dingin banget. Dengerin lagu aja, yuk," kata Martin pelan. Suaranya agak tenggelam di antara deru hujan. Tanpa menunggu jawabanmu, Martin menggeser duduknya agar lebih dekat. Jarak kalian kini mengikis, menyisakan wangi parfumnya yang sangat kamu hafal. Dengan gerakan lembut yang familier, tangan Martin menyelipkan sebelah earphone ke telinga kananmu, sementara sebelah lagi dia pasang di telinganya sendiri. - Saat tombol play di ponselnya ditekan, melodi lagu “That Should Be Me” langsung mengalun pelan. Kamu menoleh cepat, berniat memprotes atau mencairkan suasana dengan tawa palsu seperti biasa. "Martin, lo sengaja ya muter lagu ini—" Kata-katamu tertahan di tenggorokan. - Martin sudah lebih dulu menatapmu lekat-lekat. Tidak ada lagi binar usil seorang sahabat yang biasa meminjam tipe-x atau mengacak-acak rambutmu. Tatapannya begitu dalam, hangat, dan sarat akan emosi yang selama ini terkunci rapat. - Di bawah gemuruh suara hujan badai yang meredam dunia luar, melodi di telinga kalian terasa begitu intim. Martin menghela napas panjang, lalu menggenggam jemarimu yang terasa dingin karena angin sore. "Gue gak mau kirim menfess lagi," ucap Martin, suaranya sedikit bergetar tapi terdengar sangat jujur. "Gue sengaja nunggu badai sore ini biar gak ada yang ganggu. Gue mau ngomong langsung. - Kamu terpaku, jantungmu berdegup jauh lebih kencang daripada suara petir di luar. - "M itu Martin. Dan yang nemenin gue di studio musik sore itu, lo," lanjut Martin sambil tersenyum tipis, matanya menatapmu penuh harap. "Gue sayang sama lo. Capek pura-pura cuma jadi just friend tempat lo ngadu pas lagi gabut atau senar gitar gue putus. Jadi... kita gak usah temenan lagi ya?" - Dunia seolah berhenti berputar. Kalimat yang selama ini diam-diam kamu harapkan, kini terdengar nyata di depan telingamu sendiri.
2026-07-05 04:35:00
39
To see more videos from user @cckalieee, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos


About