@john2ravi:

Ebube Love 😈😈
Ebube Love 😈😈
Open In TikTok:
Region: NG
Monday 06 July 2026 15:32:19 GMT
482
34
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @john2ravi, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV : Menjadi perancang busana untuk M.E, model papan atas asal Amerika yang sedang naik daun, berarti mengucapkan selamat tinggal pada kata
POV : Menjadi perancang busana untuk M.E, model papan atas asal Amerika yang sedang naik daun, berarti mengucapkan selamat tinggal pada kata "istirahat". Hidupmu kini sepenuhnya tersedot ke dalam pusaran jadwalnya yang gila. Kedatangannya ke Korea untuk proyek iklan besar ini membawa tekanan berat ke pundakmu, apalagi kamu ditunjuk sebagai penanggung jawab tunggal busananya. Hari ini, kamu berdiri di depan pintu apartemennya dengan jantung berdebar, membawa tablet berisi deretan sketsa yang harus segera disetujui. Satu pilihan salah, maka seluruh proyek taruhannya. Namun, begitu pintu terbuka, duniamu seolah berhenti berputar. Sosok yang berdiri di hadapanmu bukan sekadar "M.E" sang supermodel internasional. Di balik gaya pakaiannya yang elegan dan tatapan dinginnya, kamu mengenali garis wajah itu. Dia adalah Martin Edwards, si berandal saat masa SMA dulu yang terkenal hobi mempermainkan hati perempuan. Ternyata, mantan kekasih yang paling ingin kamu hapus dari ingatanmu itu kini adalah klien utamamu. Dan melihat seringai tipis di sudut bibirnya, kamu sadar bahwa menghadapi ego Martin saat ini akan jauh lebih rumit daripada sekadar mencocokkan kain dan warna. "Well, well... look who’s showing up at my doorstep?" Suara bariton itu memecah keheningan, disusul tawa kecil yang terdengar sangat familier sekaligus menyebalkan, di telingamu. Martin menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat tangan di depan dada sambil memperhatikanmu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menggoda yang dulu sangat sering ia gunakan. "Dunia ternyata sempit banget, ya?" lanjutnya, melangkah maju hingga jarak kalian menipis, memaksamu untuk mendongak. Aroma parfum mahalnya menyeruak, menggantikan aroma rokok yang dulu selalu identik dengannya saat SMA. "Siapa sangka gadis ambisius yang dulu sering kutinggalkan demi perempuan lain, sekarang justru datang mengetuk pintuku demi meminta persetujuanku?" Seringai di wajahnya makin lebar saat melihatmu terpaku. Martin yang sekarang memang terlihat lebih berkelas dengan nama panggung M.E, tapi sifat menyebalkannya tetap sama. Ia sengaja mengungkit masa lalu hanya untuk melihatmu salah tingkah sebelum urusan profesional dimulai. Kamu menarik napas panjang, berusaha meredam gejolak emosi di dadamu. Kamu tidak boleh membiarkan kenangan masa SMA menghancurkan karier yang sudah kamu bangun dengan susah payah. Dengan gerakan tegas, kamu membuka tablet dan mengabaikan seringai godanya. "Aku di sini sebagai perancang busanamu, Martin. Bukan sebagai orang dari masa lalumu," ucapmu dengan nada datar dan profesional, tanpa sedikit pun keraguan di matamu. "Kita punya jadwal yang padat, dan aku ingin memastikan desain ini sesuai dengan kebutuhan iklanmu." Kamu menyodorkan tablet itu tepat di depan dadanya, memaksanya untuk melihat layar. "Ada tiga konsep utama, urban chic, bold minimalist, dan classic elegant. Silakan lihat sketsanya, aku butuh keputusanmu sekarang agar tim bisa segera menyiapkan materialnya." Martin sempat tertegun melihat ketenanganmu, tapi ia segera kembali ke mode perfeksionisnya yang menyebalkan. Martin mengambil tablet itu dengan gerakan malas, matanya menyipit saat memperhatikan sketsa pertamamu. Hening sejenak, hanya terdengar suara detak jam di ruangan itu, sebelum akhirnya ia mendengus remeh. "Seriously? Kamu bawain aku sampah ini?" tanyanya sambil menunjuk layar dengan dagunya. "Kerah ini... God, kaku sekali. Kamu mau aku kelihatan kayak manekin toko diskon yang sudah berdebu? Dan warnanya?" Ia mendengus, menatapmu dengan tatapan yang sangat merendahkan. "It’s giving me depressed accountant vibes. Ini bukan baju untuk iklan kelas dunia, ini baju untuk orang kantoran yang sedang krisis paruh baya dan sudah menyerah pada hidup." [[💬]+ #martin #cortis

About