@nguyenlouis1869: “Thà một mình còn hơn đồng hành sai người..” #tamtrang #sttbuontamtrang #tamtrang💔 #stt_buồn_tâm_trạng #🌈🌈

Tùy
Tùy "duyên" là được... 1%🪫
Open In TikTok:
Region: VN
Monday 06 July 2026 23:24:25 GMT
21477
844
6
58

Music

Download

Comments

rip020591
Cỏ Ba Lá :
lần nào nghe bài này mình cũng khóc
2026-07-07 06:48:12
0
ngocchan199x
Ngọc Chẩn :
Vì sao??????
2026-07-07 06:06:52
0
lalieu3524
La Liễu :
đau lắm 7 năm chỉ tiếc cho thanh xuân đã tin đã trao lầm người😔
2026-07-07 05:18:50
0
minhngocnguyen80
MI⃒N⃒H⃒ NG⃒ọC⃒ NG⃒U⃒Y⃒ễN⃒ 🇻🇳 :
đừng bao giờ bước wá giới hạn của tôi .. tôi thà sống một mình còn hơn đồng hành sai người..a nên nhớ điều đó.
2026-07-07 04:43:44
0
vickynguyen207
Vicky Nguyễn :
Đúng vậy thà một mình còn hơn đồng hành sai người 😊😊
2026-07-07 04:47:36
0
mot_minh3003
❤️ :
🥰🥰🥰
2026-07-07 01:55:11
0
To see more videos from user @nguyenlouis1869, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Amsal 3:5
Amsal 3:5 "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." Entah sejak kapan ayat ini sering dipahami seolah Tuhan sedang berkata, Jangan banyak berpikir. Jangan bertanya. Jangan bergumul. Pokoknya percaya saja. Namun... Benarkah itu yang Tuhan maksud? Karena jika Tuhan memang menginginkan iman yang buta, mengapa Ia menciptakan akal budi? Mengapa Ia memberikan hikmat? Mengapa Ia memenuhi Alkitab dengan begitu banyak ajakan untuk merenung, memahami, mencari, dan mengenal-Nya? Mungkin masalahnya bukan pada berpikir. Mungkin masalahnya adalah ketika kita menjadikan pemikiran kita sebagai sandaran terakhir. Ada perbedaan yang sangat besar. Sangat besar. Seseorang bisa berpikir lalu semakin mengenal Tuhan. Atau berpikir lalu menjadikan dirinya tuhan. Seseorang bisa menggunakan akal budinya untuk mencari kebenaran. Atau menggunakan akal budinya untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak membutuhkan Tuhan. Dan mungkin itulah yang sedang disentuh oleh ayat ini. Bukan larangan untuk berpikir. Melainkan larangan untuk bersandar. Karena ada saatnya pemahaman manusia mencapai batasnya. Ada saatnya logika tidak mampu melihat seluruh gambaran. Ada saatnya hidup menjadi begitu rumit sehingga semua jawaban terasa tidak cukup. Dan pada titik itulah pertanyaan yang sebenarnya muncul. Bukan, "Apakah aku memahami semuanya?" Melainkan, "Apakah aku mengenal Dia yang memegang semuanya?" Bukankah seorang anak kecil tidak memahami seluruh rencana ayahnya? Ia tidak tahu tujuan perjalanan. Ia tidak tahu jalan yang akan dilalui. Ia tidak tahu alasan mengapa harus melewati jalan tertentu. Namun ia tetap berjalan. Bukan karena ia mengerti semuanya. Tetapi karena ia mengenal siapa yang menggenggam tangannya. Mungkin iman yang sejati tidak lahir dari ketidaktahuan. Mungkin iman yang sejati justru lahir dari pengenalan. Semakin mengenal Tuhan, semakin kita memahami karakter-Nya. Semakin memahami karakter-Nya, semakin kita mampu mempercayai hati-Nya. Dan semakin kita mempercayai hati-Nya, semakin kita mampu tetap tenang ketika belum memahami rencana-Nya. Karena itu iman bukanlah menutup mata. Iman bukanlah berhenti berpikir. Iman bukanlah kemalasan untuk bergumul. Iman adalah keberanian untuk terus mencari, terus belajar, terus bertanya, terus merenung, namun tetap memilih percaya ketika pengertian kita telah mencapai batasnya. Karna pada akhirnya, Tuhan tidak pernah meminta kita memahami segala sesuatu. Tetapi Ia mengundang kita untuk mengenal-Nya. Dan sering kali, pengenalan itulah yang membuat hati tetap berdiri teguh, bahkan ketika pikiran belum memiliki semua jawabannya.

About