Abe Nix Obakam :
Saya sering berpikir, bagaimana jadinya kalau Ronaldo berhasil meraih Piala Dunia tahun ini. Mungkin narasi dari para penggemarnya akan semakin luar biasa. Padahal, saat kalah atau gagal saja, narasi yang dibangun sudah begitu kuat, seolah-olah Ronaldo adalah yang terbaik tanpa perlu didukung data dan ukuran yang objektif.
Sebenarnya, penyematan gelar GOAT (Greatest of All Time) itu bebas. Siapa pun boleh menganggap idolanya sebagai GOAT. Mau menyebut Ronaldo GOAT, Messi GOAT, atau pemain lain, itu hak setiap orang karena pada akhirnya ada unsur selera dan kedekatan emosional.
Namun, ketika ada lembaga atau institusi yang kredibel, terpercaya, dan memiliki metodologi yang jelas dalam melakukan penilaian, lalu menghasilkan kesimpulan tertentu—misalnya menempatkan Messi sebagai GOAT—setidaknya hasil tersebut patut dihargai. Bukan berarti semua orang harus sepakat, tetapi layak dijadikan salah satu referensi dalam diskusi.
Pada akhirnya, tidak mungkin penggemar Ronaldo mencintai Messi seperti mereka mencintai Ronaldo. Begitu pula sebaliknya. Ada banyak alasan seseorang mengidolakan seorang pemain, baik karena prestasi, gaya bermain, karakter, maupun alasan pribadi yang mungkin tidak selalu bisa dijelaskan secara logis. Dan tidak ada yang salah dengan itu.
Yang menjadi masalah adalah ketika rasa kagum berubah menjadi klaim yang merendahkan pemain lain atau menyerang sesama penggemar. Sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk menikmati perbedaan, bukan ajang saling menjatuhkan.
Jadi, dukunglah pemain favoritmu dengan bangga, tetapi tetap hargai fakta, data, dan pilihan orang lain. Kedewasaan seorang suporter tidak diukur dari seberapa keras ia membela idolanya, melainkan dari seberapa bijak ia menyikapi perbedaan.
2026-07-07 16:57:55