@cara.conn: #LELANDCOYLE || ouu I just be making shii 🤣🤣 || scp: @ruslavn || @The Quentin Player @★⁂⁙𝑺𝒌𝐚𝐫𝒔𝒈𝑎𝒓𝒅⁙⁂★ || #outlasttrailedit #lelandcoyledit #coyleoutlast #lelandcoyle #outlasttrails #outlastedit

⋆ cara ⋆
⋆ cara ⋆
Open In TikTok:
Region: CZ
Tuesday 07 July 2026 15:48:11 GMT
11057
2888
33
264

Music

Download

Comments

titanousdepthz
𐂯 .ᐟ⸝⸝ Coyle’s Mutt ‧˚꒰⚡️୭ ˚. :
OHUGHHH IM DROOLING
2026-07-08 00:13:35
75
tiiraiimiisuu
rr🕷️👁️🐑 :
HES SOOOOO SEXYY
2026-07-07 19:56:47
38
d4rkie07
D4rkie!! (Pomsaicin CEO 🛼🔥) :
To the Coyle folder it goes 👅👅👅
2026-07-07 16:14:20
5
nephusmoon
Amaris :
I NEEDD ITTTTTTT
2026-07-09 02:14:00
7
coyles.sweetness
ৎ𝄢 ॱ⚡𝓕inn ♡'s 𝓒oyle ݂ᣟ𓏼՞ :
I LOVE THISSSS. COYLE🤤
2026-07-08 05:25:44
3
yummersgalore
Marco :
I daydream about him
2026-07-12 17:01:09
1
tiiraiimiisuu
rr🕷️👁️🐑 :
MMNNGGFF
2026-07-07 19:56:10
1
tiiraiimiisuu
rr🕷️👁️🐑 :
DADDYYYY
2026-07-07 19:56:13
1
tiiraiimiisuu
rr🕷️👁️🐑 :
FUCK IM BOUNCING ON JT CRAZY STYLE
2026-07-07 19:56:28
4
gamzeemmakara
PukeGuzzler :
OH FUCK YESS GAWDD
2026-07-08 00:52:47
2
tiiraiimiisuu
rr🕷️👁️🐑 :
ARREST ME DADDY
2026-07-07 19:56:19
2
woundedjuju
𝙹ᴜᴊᴜ ♡’ꜱ 𝙲ᴏʏʟᴇ :
I need him so bad
2026-07-07 15:50:23
0
To see more videos from user @cara.conn, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Permintaan untuk mengikuti kegiatan program kerja KKN yang akan rampung beberapa hari ke depan mendapatkan persetujuan Evan. Kamu diperbolehkan mengikuti agenda hanya sampai batas waktu senja. Melewati apa yang Evan tetapkan, kamu dipastikan mendapatkan kesialan. Siang ini, kelompokmu dibagi menjadi dua bagian. Satu melakukan mitigasi bencana pada area jalur pendakian, sedangkan satu pihak mengelola kotoran ternak menjadi pupuk tanaman. Kamu sendiri diminta sebagai relawan yang membersamai warga untuk menanam pohon yang berakar kuat di tebing curam sebagai salah satu upaya pemetaan kawasan rawan. Mengingat sibuknya aktivitas, tidak terasa surya perlahan tenggelam.  “Waduh, surup. Ayo, semuanya kembali. Adik-adik KKN pastikan temannya lengkap semua, ya!” “Iya, Pak!” seru Angga kembali. Ia menghitung cepat anggota kelompoknya termasuk kamu sebelum melangkah pulang.  “(Y/N)? Kamu sakit?” “Eh? Hah? N-nggak kok,” tandasmu kuat mencoba menarik napas panjang. Tanganmu bergerak gusar membuka pengait rompi KKN. Tiba-tiba saja tubuhmu terasa panas.  Kamu tersenyum memberi kepastian bahwa kondisi tubuh baik-baik saja. Tungkaimu mulai melangkah mengikuti gerombolan warga dan rekan sejawat lainnya yang berjalan pelan keluar dari hutan. Langit semakin gelap. Pencahayaan hanya berasal dari dari dua senter warga.  Kala ini, jantungmu berdetak kencang. Sudah sejak satu jam lalu kamu merasakan debar kegelisahan. Tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhmu, pikiranmu turut tak fokus. Entah kenapa kamu merasa lemas dan hampir limbung jika bukan karena panggilan Evan. “(Y/N).”  Dahimu mengernyit heran melihat bayangan samar yang mendekat. Evan muncul dari arah berlawanan, membelah warga seraya jalan mendekat.  “Maaf, saya ada urusan dengan Dek (Y/N). Bisa beri kami ruang?” “Inggih! Inggih, Kanjeng Gusti. Silakan ngobrol dengan Nak (Y/N). Kami pamit dulu kalau begitu.” Bapak-bapak bersama temanmu diarahkan abdi dalem Evan untuk meninggalkan kalian berdua di perbatasan hutan. Berbekal pencahayaan remang dari rembulan, Evan memeluk cepat.  “Kamu terlambat pulang, (Y/N). Bukankah saya bilang kembali ke rumah sebelum malam tiba?” bisik Evan mencekal kuat pinggangmu.  “Gusti, Maaf. Tadi saya harus menyelesaikan sisa bibit sekalian agar besok tidak perlu kembali ke hutan,” balasmu mendorong tubuhnya.  Ada sengatan luar biasa yang menjalar raga untuk sekarang. Pelukan Evan yang biasanya hangat terasa panas. Kamu menatap panik wajahnya. “Gusti-, maaf. Mas Evan… saya merasa aneh,” lirihmu.  Evan tersenyum tipis hampir tak terlihat. Ia menarik tubuhmu lebih kuat. “Aneh bagaimana? Panas?” Kamu mengangguk membenarkan.  “Itu sentilan karena kamu melanggar janji yang saya tetapkan, (Y/N). Tidak apa-apa, nanti panasnya hilang,” balas Evan tenang menelusuri wajahmu pada tiap incinya.  Namun, pandangan mata itu menimbulkan naluri yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya. Hatimu semakin risau menerima tatapannya. Jantungmu bergemuruh kacau sampai akhirnya tanpa meminta izin Evan, kamu menarik kerah kemejanya.  Matamu terpejam seketika kala bibirmu menyua bibirnya. Benar-benar tidak kamu duga bahwa kamu yang memulai langkah.  “Maaf, Mas…” ujarmu pelan ketika melepaskan satu sentuhan singkat.  “Bukan masalah, (Y/N). Saya suka.” Kini giliran Evan yang mempertemukan objek sebelumnya. Ia tidak hanya sekadar merekatkan, melainkan menautkan lebih dalam melalui cecapan berulang yang didominasinya.  “Mas,” panggilmu di sela-sela aktivitas peluh mesra. Jari-jarimu mencekal kemeja di bagian lengannya untuk melampiaskan karsa. Perlakuan ini terasa nyaman dan kamu mulai terbiasa menerimanya. Evan tidak menghiraukan panggilanmu untuk beberapa detik lamanya. Ia menorehkan segala keinginan yang terpendam sebelum menyudahi dengan napas terengah. “Kita salurkan panasmu di rumah. Bisa saja nanti lebih panas, (Y/N).” “M-maksudnya, Mas?” “Mari bercinta.” Matamu membeliak akibat kelugasannya barusan. Kamu refleks mendorongnya keras. “Maaf, saya… tidak bisa.” (+(1-5)) #pov #heeseung #leeheseung #evan #fyp
POV: Permintaan untuk mengikuti kegiatan program kerja KKN yang akan rampung beberapa hari ke depan mendapatkan persetujuan Evan. Kamu diperbolehkan mengikuti agenda hanya sampai batas waktu senja. Melewati apa yang Evan tetapkan, kamu dipastikan mendapatkan kesialan. Siang ini, kelompokmu dibagi menjadi dua bagian. Satu melakukan mitigasi bencana pada area jalur pendakian, sedangkan satu pihak mengelola kotoran ternak menjadi pupuk tanaman. Kamu sendiri diminta sebagai relawan yang membersamai warga untuk menanam pohon yang berakar kuat di tebing curam sebagai salah satu upaya pemetaan kawasan rawan. Mengingat sibuknya aktivitas, tidak terasa surya perlahan tenggelam. “Waduh, surup. Ayo, semuanya kembali. Adik-adik KKN pastikan temannya lengkap semua, ya!” “Iya, Pak!” seru Angga kembali. Ia menghitung cepat anggota kelompoknya termasuk kamu sebelum melangkah pulang. “(Y/N)? Kamu sakit?” “Eh? Hah? N-nggak kok,” tandasmu kuat mencoba menarik napas panjang. Tanganmu bergerak gusar membuka pengait rompi KKN. Tiba-tiba saja tubuhmu terasa panas. Kamu tersenyum memberi kepastian bahwa kondisi tubuh baik-baik saja. Tungkaimu mulai melangkah mengikuti gerombolan warga dan rekan sejawat lainnya yang berjalan pelan keluar dari hutan. Langit semakin gelap. Pencahayaan hanya berasal dari dari dua senter warga. Kala ini, jantungmu berdetak kencang. Sudah sejak satu jam lalu kamu merasakan debar kegelisahan. Tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhmu, pikiranmu turut tak fokus. Entah kenapa kamu merasa lemas dan hampir limbung jika bukan karena panggilan Evan. “(Y/N).” Dahimu mengernyit heran melihat bayangan samar yang mendekat. Evan muncul dari arah berlawanan, membelah warga seraya jalan mendekat. “Maaf, saya ada urusan dengan Dek (Y/N). Bisa beri kami ruang?” “Inggih! Inggih, Kanjeng Gusti. Silakan ngobrol dengan Nak (Y/N). Kami pamit dulu kalau begitu.” Bapak-bapak bersama temanmu diarahkan abdi dalem Evan untuk meninggalkan kalian berdua di perbatasan hutan. Berbekal pencahayaan remang dari rembulan, Evan memeluk cepat. “Kamu terlambat pulang, (Y/N). Bukankah saya bilang kembali ke rumah sebelum malam tiba?” bisik Evan mencekal kuat pinggangmu. “Gusti, Maaf. Tadi saya harus menyelesaikan sisa bibit sekalian agar besok tidak perlu kembali ke hutan,” balasmu mendorong tubuhnya. Ada sengatan luar biasa yang menjalar raga untuk sekarang. Pelukan Evan yang biasanya hangat terasa panas. Kamu menatap panik wajahnya. “Gusti-, maaf. Mas Evan… saya merasa aneh,” lirihmu. Evan tersenyum tipis hampir tak terlihat. Ia menarik tubuhmu lebih kuat. “Aneh bagaimana? Panas?” Kamu mengangguk membenarkan. “Itu sentilan karena kamu melanggar janji yang saya tetapkan, (Y/N). Tidak apa-apa, nanti panasnya hilang,” balas Evan tenang menelusuri wajahmu pada tiap incinya. Namun, pandangan mata itu menimbulkan naluri yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya. Hatimu semakin risau menerima tatapannya. Jantungmu bergemuruh kacau sampai akhirnya tanpa meminta izin Evan, kamu menarik kerah kemejanya. Matamu terpejam seketika kala bibirmu menyua bibirnya. Benar-benar tidak kamu duga bahwa kamu yang memulai langkah. “Maaf, Mas…” ujarmu pelan ketika melepaskan satu sentuhan singkat. “Bukan masalah, (Y/N). Saya suka.” Kini giliran Evan yang mempertemukan objek sebelumnya. Ia tidak hanya sekadar merekatkan, melainkan menautkan lebih dalam melalui cecapan berulang yang didominasinya. “Mas,” panggilmu di sela-sela aktivitas peluh mesra. Jari-jarimu mencekal kemeja di bagian lengannya untuk melampiaskan karsa. Perlakuan ini terasa nyaman dan kamu mulai terbiasa menerimanya. Evan tidak menghiraukan panggilanmu untuk beberapa detik lamanya. Ia menorehkan segala keinginan yang terpendam sebelum menyudahi dengan napas terengah. “Kita salurkan panasmu di rumah. Bisa saja nanti lebih panas, (Y/N).” “M-maksudnya, Mas?” “Mari bercinta.” Matamu membeliak akibat kelugasannya barusan. Kamu refleks mendorongnya keras. “Maaf, saya… tidak bisa.” (+(1-5)) #pov #heeseung #leeheseung #evan #fyp

About